Keluarga Korban Minta Nasrun Dihukum Berat

0
325
Nasrun (pakai peci) terdakwa digiring ke mobil tahanan usai mengikuti persidangan dengan penjagaan kepolisian, Rabu (21/11). F-Raymon/tanjugnpinang pos

TANJUNGPINANG – Sidang pembunuhan Supartini dengan terdakwa Nasrun di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (21/11) kisruh.

Keluarga korban berteriak histeris dan meminta terdakwa dihukum berat. Saat terdakwa dibawa keluar dari ruangan persidangan, keluarga korban langsung berteriak ”Serahkan saja kepada kami pak biar kami bakar dia,” ujar keluarga korban Supartini.

Tak hanya itu, para keluarga terus mengejar terdakwa hingga masuk ke mobil tahanan. Sejak persidangan, terdakwa dijaga ketat kepolisian hingga terdakwa kembali masuk ke mobil tahanan.

Mereka tidak terima keluarganya dibunuh. Apalagi, korban dibunuh secara keji. Korban dimasukan ke dalam karung kemudian dibuang kelaut dan mengunakan pemberat dari batu.

Dalam persidangan dengan agenda saksi itu, ada lima orang saksi dari pihak kepolisian, Basarnas dan pihak keluarga korban yang dihadirkan.

Ketua majelis hakim, Edward mempertanyakan kronologis penemuan korban pertama dugaan mayat di jembatan Wacopek atau jembatan III. Saksi M Ali Gusti Harahap dari pihak kepolisian menuturkan, pada (15/7) lalu mendapatkan informasi penemuan mayat dari masyarakat.

”Dari jarak sekitar 10 meter terlihat karung dan seperti kaki yang mengapung,” katanya.

Sedangkan Ronald dari Basarnas Tanjungpinang menyebutkan, pihaknya mendapatkan laporan sekitar jam 10.00 dan kita turun kelokasi untuk mengevakuasi jenazah.

”Kita mengevakuasi korban dibantu dengan pihak kepolisian dan membawa ke rumah sakit,” sebutnya.

Sementara, pihak keluarga yang menjadi saksi menjelaskan, bahwa adiknya pergi keluar rumah untuk memesan kue Jumat (13/7), namun usai kepergiannya tidak pulang hingga kita mendapatkan berita bahwa ada pertemuan mayat di jembatan.

”Di rumah sakit kita melihat itu benar korban dari barang barang yang di gunakan kita mengenalnya,” jelasnya.

Sebelumnya, korban pernah bekerja di perusahaan properti Sinar Bodhi di Tanjunguban sekitar 10 tahunan. Saat kejadian sedang tidak bekerja. Sudah pernah menikah punya anak satu orang laki-laki (5), dan sudah pisah.

Kakak korban Fitriani, mengenali pakaian dan asesoris di tubuh korban. Senin (16/7) jenazah baru di bawa balik ke rumah. Dan, sorenya dikebumikan. Fitriani sebut tahu terdakwa datang melayat ke rumah tapi tak lihat langsung. ”Pelaku sempat ngelayat kerumah, kami mengetahui kalau pembunuhnya adalah dia,” uajrnya.

Para keluarga meminta untuk menghukum terdakwa dengan seberat beratnya. ”Kami pihak keluarga tidak menerima dan tidak memaafkan apa perbuatannya mengingnikan mohon terdakwa dihukum seberat-beratnya,”

Usai mendengarkan keterangan para saksi majelis hakim menunda persidangan selama satu Minggu dengan agenda saksi. (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here