Keluarga Pasien Keluhkan Pelayanan RS EHD Tanjunguban

0
1665
SALMIAH, anak dari pasien Adang Basir saat menunjukkan bukti pembayaran obat dan pelayanan rumah sakit Engku Haji Daud Tanjunguban, Minggu (28/7).F-jendaras/TANJUNGPINANG POS

TANJUNGUBAN – Keluarga pasien Rumah Sakit (RS) Engku Haji Daud (EHD) mengeluhkan pelayanan rumah sakit milik Pemprov Kepri tersebut. Selain harus membayar layanan rumah sakit meski memegang kartu BPPS, pasien juga merasa ditipu oleh oknum rumah sakit tersebut.

Salmiah, anak dari Adang Basir (66), salah seorang pasien RS EHD mengatakan, keluarganya sangat kecewa. Ia menceritakan, awal mula berobat ke RS EHD, Jumat (19/7) lalu. Hari itu Adang Basir mengeluhkan sakit hernia.

”Jumat kami berobat, tapi hanya dikasih obat penahan sakit. Kemudian, Senin (22/7) pagi sekitar pukul 06.00, kami kembali ke RS EHD karena bapak saya mengeluhkan sakit dan langsung masuk ke IGD,” jelas Salmiah, Minggu (28/7) kemarin.

Usai dilakukan pengecek dan observasi, dijelaskannya, petugas medis menyatakan, Adang Basir harus dioperasi. Namun operasi hanya dapat dilakukan di Batam yaitu RS Otorita Batam dan Awal Bross. Hal itu disampaikan karena hanya ada satu dokter yang dapat melakukan operasi ini, dan dokter itu berpraktik di dua rumah sakit itu.

Baca Juga :  Pemkab Tandatangani NPHD Pilkada 2020

”Awalnya saya minta dirujuk ke RS Batu 8 Tanjungpinang. Kemudian, dikatakan petugas medis di sana ruangan pasien sudah penuh. Jadi saya diarahkan berobat ke Batam, serta untuk RS Awal Bross harus menyiapkan uang muka sebesar Rp20 juta,” jelasnya.

Karena merasa panik dan tidak mungkin ke Batam, akhirnya Salmiah memutuskan keluar rumah sakit, dan akan membawa sendiri ke Tanjungpinang untuk tindakan medis.

”Karena kami mau coba ke Tanjungpinang, lantas oknum RS EHD ini mengatakan, kalau pindah ke Tanjungpinang maka BPJS tidak berlaku. Sehingga harus membayar biaya dengan pilihan di RS EHD atau RS tujuan. Karena panik, lantas kami membayar pelayanan dan obat di RS EHD meski kami memiliki BPJS,” jelasnya.

Baca Juga :  Kota Adipura di Bintan Mulai Tercemar Sampah

Usai keluar dari RS EHD, Salmiah bersama keluarga menuju ke RSUP Batu 8 Tanjungpinang. Kemudian ia langsung diterima oleh petugas medis. Bahkan saat ditanya mengenai BPJS, Salmiah tidak diminta biaya apa pun.

”Jam 23.00, Senin itu, saya nekat ke RSUP Batu 8. Ternyata di sana kamar pasien banyak kosong di lantai 6 itu. Ini berbeda dengan keterangan oknum RS EHD beberapa jam sebelumnya. Kami kecewa karena ini soal nyawa bapak saya,” sebutnya.

Kemudian, usai diterima di RSUP Batu 8, Adang Basir langsung diobservasi dan dua hari kemudian langsung dioperasi dokter. Hingga Minggu (28/7), kondisinya sudah mulai stabil.

”Memang, ayah saya ada sakit jantung, tapi di Batu 8 dapat dioperasi juga. Bahkan sedihnya saat di ruangan Mawar ini, saya bertemu dengan orangtua pasien bayi berusia 3 bulan yang juga dirawat. Bayi itu juga sebelumnya pasien RS EHD Tanjunguban, perlakuannya sama seperti ayah saya. Bahkan saat diarahkan ke RS Awal Bross, ia disuruh siapkan uang muka Rp30 juta. Karena tak sanggup jadi keluar paksa dan dilarikan ke Tanjungpinang,” tuturnya.

Baca Juga :  Perbaikan Jembatan Kampung Beringin Tak Dianggarkan

Sementara itu, Ranti, Humas RSUD EHD yang dikonfirmasi terkait keluhan pasien belum memberikan jawaban. Ia meminta dipertemukan dengan keluarga Adang Basir.

Terpisah, Tanjungpinang pos yang mengonfirmasi Kurniakin, Direktur RS EHD melalui pesan WhatsApp (WA), juga belum mendapatkan jawaban meski tanda pesan sampai terlihat. (aan)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here