Keluarga Rohaini Ingin Kepastian Pemberian Sanksi

0
621

BINTAN – KELUARGA almh Rohaini (43) warga Seienam, Bintan Timur ingin kepastian pemberian sanksi tegas, terhadap oknum perawat dan dokter RSUD Bintan, yang diputuskan oleh Bupati Bintan H Apri Sujadi melalui Dinkes. Meski, pihak keluarga Rohaini (almh) sudah menyelesaikan masalah tersebut, dengan pihak RSUD Bintan dan Pemkab Bintan.

Mewakili pihak keluarga Rohaini, Musyafa Abbas menyampaikan, pihak keluarga sudah ikhlas melepas kepergian Rohaini, setelah mengadakan pertemuan dengan Plt Sekda Adi Prihantara, Kadinkes dan Kepala RSUD Bintan, Rabu (20/9) siang lalu. Dari pertemuan itu, Pemkab Bintan menyatakan, Bupati Bintan H Apri Sujadi memutuskan oknum perawat RSUD diberikan sanksi tegas, dan tidak bertugas lagi di RSUD Bintan, di Kijang.

”Nah, kami dari pihak keluarga ingin kepastian, apakah pemberian sanksi tegas itu sudah dijalankan? Siapa nama oknum pegawai itu? Dan kapan mulai dia non-aktif bertugas di RSUD? Itu yang mesti kami ketahui,” kata Musyafa Abbas, Kamis (21/9) sore kemarin.

Bagi pihak keluarga almarhumah, lanjut Musyafa Abbas, kepastian itu tidak perlu dipublikasikan. Cukup untuk diketahui oleh internal keluarga Rohaini saja.

Baca Juga :  Muttaqin: Babin, Semoga Penantian 14 Tahun Terwujud

”Mungkin dari pihak BKPPD atau Pak Sekda yang memanggil pihak keluarga, untuk kepastian itu. Pihak keluarga tak ingin hanya ungkapan atau pernyataan, dalam pemberian sanksi tegas ini. Kami perlu bukti itu. Toh masalah ini, kan sudah dimusyawarahkan, Rabu siang lalu,” tambahnya.

Selain pemberian sanksi terhadap oknum perawat dan pegawai RSUD, Musyafa Abbas juga berharap, agar ada perhatian Pemkab Bintan terhadap keluarga yang ditinggalkan Rohaini. Selain suaminya yang tidak bisa berjalan (lumpuh), anak yang ditinggalkan juga sedang menjalani masa pendidikan.

”Ini yang menjadi tuntutan bagi pihak keluarga. Untuk meninggalnya Rohaini, sudah kami ikhlaskan, tentu lah ini kehendak Allah SWT,” tambahnya.

Sebelumnya, penyakit mag akut (lambung) yang diderita Rohaini kambuh, Senin (18/9) malam. Ia dibawa ke RSUD Bintan, untuk dirawat sekitar pukul 18.00 lalu. Dalam pelayanan berobat ini, pihak RSUD meminta beberapa dokumen administrasi, untuk pendataan sebelum perawatan dilakukan. Dalam hal ini, kartu BPJS Rohaini sudah habis masa berlakunya. Namun akhirnya, Rohaini tetap diberikan perawatan beberapa jam. Setelah dirawat Rohaini disarankan pulang. Namun, Rohaini akhirnya meninggal dunia, Selasa (19/9) pagi.

Baca Juga :  Bupati Bintan Ikut Tax Amnesty

Diberi Sanksi
Atas kejadian ini, Bupati Bintan H Apri Sujadi dan Plt Sekda Adi Prihantara mengumpulkan, seluruh pegawai dan perawat RSUD Bintan, Kepala RSUD dr Benni Antomi, Kadinkes dr Gamma Isnaeni, Rabu (20/9) pagi lalu. Setelah mengadakan rapat khusus, Bupati Bintan H Apri Sujadi menegaskan, pelayanan terhadap pasien harus didahulukan, baru administrasi.

”Kalau dulu, administrasi dulu, baru dirawat. Ke depan, rawat dulu pasien, baru urus administrasinya. Dari pertemuan tadi, masalah meninggalnya Bu Rohaini ternyata ada mis komunikasi dalam pelayanan yang diberikan petugas yang piket, di malam kejadian itu. Justru itu, oknum perawat itu kita beri sanksi tegas, sesuai aturan,” tegas H Apri Sujadi.

Bupati Bintan H Apri Sujadi kembali menyampaikan, program kesehatan gratis yang dijalankan Pemkab Bintan harus diikuti dengan kinerja aparaturnya. Untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan RSUD Bintan ini, ditujukan kepada seluruh warga Bintan. Meski kartu BPJS sudah habis masa berlaku, pelayanan gratis tetap diberikan. Warga cukup membawa identitas, bahwa yang bersangkutan adalah warga Bintan.

Baca Juga :  Waswas, Mancing Mania Pilih Poyotomo

Kepala RSUD Bintan dr Benni Antomi menjelaskan, pihaknya sudah mengadakan musyawarah dengan pihak keluarga. Dalam kesempatan itu, pihak RSUD memohon maaf kepada pihak keluarga, atas pelayanan yang dilakukan oknum pegawai, yang tidak berkenan bagi keluarga Rohaini. Dalam hal ini, Bupati Bintan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan telah memberikan sanksi tegas kepada 1 orang dokter dan 1 orang perawat RSUD Bintan, yang piket saat itu.

”2 oknum pegawai itu, dinonaktifkan dari RSUD Bintan, sejak Rabu lalu. Dalam pertemuan tadi, kami memohon maaf kepada pihak keluarga, atas mis komunikasi dalam pelayanan oknum ini,” tambah Benni.(YUSFREYENDI)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here