Kembali Menggauli Sastra Lisan

0
150
Haries Pribady, S.Pd., M. Pd.

Oleh: Haries Pribady, S.Pd., M. Pd.
Dosen, pemerhati Critical Discourse Analysis

Kisah Bandung Bondowoso yang mendirikan seribu candi dalam semalam tak kalah heroiknya dengan kisah Sulaiman yang kaya- raya dan mampu berbicara dengan jin. Begitu pun, kisah Sangkuriang yang mampu membuat sebuah gunung tak kalah apiknya dengan kisah Musa yang mampu membelah lautan untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Tambahan lagi, kisah Sabdo Palon sang penasihat Brawijaya tak kalah menariknya dengan kisah Yusuf yang mampu menabirkan mimpi seorang raja.

Beberapa kisah yang dikemukakan di atas adalah contoh sastra lisan yang jamak diketahui oleh masyarakat. Agar pembahasannya jadi tidak terlampau lebar, sastra lisan didefinisikan sebagai sebuah karya yang diproduksi dan didistribusikan secara lisan. Ini mengacu pada pendapat Finnegan (1977) yang menegaskan bahwa sastra lisan kerap kali disamakan dengan tradisi lisan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang belum bisa membaca atau menulis. Kisah-kisah di dalam sastra lisan tersebut terus-menerus diceritakan ulang dari generasi ke generasi selanjutnya. Namun ada yang unik, ternyata kehadiran era digital sama sekali tidak memengaruhi eksistensi keberadaanya. Malah kisah-kisah tersebut dialihwahana ke dalam pelbagai bentuk. Misalnya berupa komik, film, lagu, drama, dan sebagainya.

Penulis menduga terdapat sebuah persepsi yang menjadikan sebuah karya sastra (terutama sastra lisan) tetap bertahan hidup dalam sebuah masyarakat. Sastra lisan yang terus-menerus diproduksi dan didistribusi oleh masyarakat mengandung sesuatu yang tepat dan layak guna. Oleh pemerhati sastra hal itu disebut dengan nilai-nilai. Entah itu nilai religi, nilai sosial, nilai moral, atau nilai agama. Dengan nilai-nilai itu, sastra lisan berperan dalam membentuk sebuah identitas dan memberi pedoman hidup bagi masyarakat yang memilikinya.

Sastra lisan hadir di masa lampau dengan beberapa fungsi. Pertama, penjelas asal-usul suatu kelompok masyarakat. Kedua, pembawa visi atau cita-cita. Ketiga, media perekat interaksi.

Anggapan bahwa sastra lisan hadir untuk menjelaskan asal-usul suatu masyarakat tampaknya merupakan hal yang wajar. Masyarakat di awal kelahiran satra lisan bukanlah masyarakat yang sama dengan saat ini. Interaksi dengan kelompok lain adalah hal yang sangat jarang terjadi. Kehidupan masyarakat terisolasi dengan masyarakat lainnya. Dengan keadaan yang demikian, wajar jika setiap kelompok masyarakat memiliki versi yang berbeda dalam menjelaskan asal-usulnya. Ada kelompok masyarakat yang percaya bahwa manusia berasal dari surga, kemudian diusir oleh Tuhan karena memakan buah terlarang. Ada kelompok masyarakat yang percaya bahwa manusia adalah keturunan para dewa yang tinggal di kayangan. Begitu banyak versi yang mengisahkan asal-usul manusia. Lantas, sebagai manusia modern versi mana kah yang harus dipercayai? Pada tahap kognisi tertentu, sastra lisan hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sastra lisan juga hadir untuk membawa visi atau cita-cita. Hal ini disederhanakan menjadi hal apa yang paling diinginkan oleh masyarakat tersebut. Ada sekelompok masyarakat yang cita-citanya adalah untuk hidup kekal abadi. Dengan menyadari bahwa manusia akan mati, maka cita-cita tersebut dimodifikasi menjadi kemampuan untuk hidup kembali di waktu yang akan datang sehingga lahirlah konsep reinkarnasi. Ada sekelompok masyarakat yang memercayai bahwa semua permasalahannya akan selesai jika seseorang yang dinubuatkan telah tiba. Seseorang itu akan muncul di waktu tertentu dengan ciri tertentu pula. Oleh sebab itu muncullah konsep profetik. Dengan fungsi itu, kemunculan sebuah tokoh transendental adalah hal yang penting dalam upaya memanifestasikan visi atau cita-cita tersebut.

Fungsi yang terakhir adalah sastra lisan mampu menjadi media perekat interaksi. Kesamaan asal-usul merupakan alat pemberi identitas sedangkan kesamaan visi merupakan pembentuk cara pandang. Dengan pelbagai kesamaan itu lah, interaksi antaranggota masyarakat akan terjadi. Dengan demikian timbul loyalitas terhadap golongannya dan tak jarang loyalitas itu menjadi sebuah sebab primordialisme, yakni perasaan kebanggaan kelompok/ kesukuan yang berlebihan.

Sastra lisan tidak hanya berbicara tentang sastra itu sendiri. Di dalamnya terdapat proses yang sungguh kompleks. Dimulai dari produksi dan latar belakangnya, nilai-nilai yang dikandungnya, proses distribusinya, sasaran pendengarnya, bahkan otoritas orang yang menyampaikan sastra lisan itu.

Untuk karya sastra lisan masyarakat Sambas (sebagai sebuah contoh) waktu dan tempat penceritaan pun telah diatur. Ada beberapa cerita yang baru bisa disampaikan jika sesajen dan persyaratan lain disediakan. Jika ada sebuah pandangan yang menyatakan bahwa sebuah kisah di dalam sastra lisan berfungsi sebagai cerita pengantar tidur saja, pemerhati bahasa dan sastra perlu sesegera mungkin mengoreksinya.

Sebagian sastra lisan di nusantara telah didokumentasikan. Dokumentasi itu tidak sekadar dalam upaya mengumpulkannya saja, melainkan untuk dikaji dengan serius di departemen-departemen sastra atau linguistik perguruan tinggi. Upaya itu membutuhkan waktu yang lama, personil yang tidak sedikit, serta pendanaan yang cukup besar. Hal ini diakibatkan letak geografis sebagian besar daerah di nusantara masih sulit sedangkan ‘pemilik’ sastra lisan itu biasaanya terdapat di daerah pedalaman. Oleh sebab itu diperlukan sosok pemerhati tangguh yang bersedia melakukan pelbagai hal dalam kegiatan dokumentasi ini.

Keberadaan sastra lisan, selain menjadi tanggung jawab pemilik aslinya juga menjadi tanggung jawab pemerhati sastra dan linguistik. Bahasa daerah yang notabene bahasa pengantar sastra lisan tengah menghadapi beberapa ancaman. Berkurangnya minat penutur, berkurangnya kompleksitas upacara adat, dan interferensi bahasa dari luar adalah ancaman yang paling nyata. Hal itu belum ditambah makin menurunnya minat kaum muda terhadap keberadaan sastra lisan dan keaslian bahasa ibunya. Berdasar beberapa hal yang telah dikemukakan, pemerhati sastra dan linguistik mesti lekas mengambil peran. Kegiatan dokumentasi, penelitian, publikasi, lokakarya, dan sebagainya perlu digalakkan dalam upaya revitalisasi sastra lisan sebagai pemandu jalan suatu kelompok masyarakat. Jika hal itu tidak segera dilakukan, krisis identitas, kehilangan visi komunal, dan hilangnya interaksi adalah hal yang akan terjadi.

Sastra lisan pada mulanya hidup dan berkembang di dalam masyarakat yang tidak menggunakan kaidah empiris dan metodologis sebagai landasan bernalarnya. Oleh sebab itu banyak sekali ditemukan kontradiksi penceritaan di dalamnya. Jika dikaitkan dengan perkembangan pemikiran manusia yang ada di abad modern, jelaslah bahwa kandungan sastra lisan tidak valid sama sekali. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here