Kenaikan Harga Sembako Selalu Menghantui di Bulan Ramadan

0
788

Oleh: Wahyu Akbar
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Ali Haji

Adalah realita ketika media massa akan memuat berita kenaikan bahan pokok (Bapok) setiap menjelang atau saat Ramadan. Kenaikan harga bapok ini seakan menjadi sebuah tradisi, sebuah momok yang menghantui tidak hanya bagi umat muslim yang melaksanakan ibadah puasa, tetapi juga memberikan dampak kepada warga yang sama sekali tidak melaksanakannya.

Tradisi kenaikan bapok di bulan Ramadan – yang kemudian berlanjut menjelang Idul Fitri – ini lantas melahirkan sebuah tradisi lain, yakni gejolak sosial di tengah masyarakat. Keluhan semakin nyaring terdengar, khususnya di kalangan ibu-ibu yang memegang kendali keuangan keluarga. Setiap Ramadan, terlebih menjelang Idul Fitri, mesin hitung akan menjadi ‘alat vital’, lembar kebutuhan dan daftar harga barang akan menjadin diskusi hangat antara suami-istri. Intinya, kenaikan harga barang akan menjadi topik hangat keluarga, bahkan naifnya mengalahkan ibadah puasa itu sendiri.

Yang menjadi tanda tanya tentunya adalah kenapa hal ini selalu terulang sepanjang tahun pelaksanaan ibadah puasa? Bagaimana fungsi pemerintah yang memiliki peran dalam mengotrol dan menekan harga bahan pokok supaya tetap stabil, sehingga harga bahan pokok tidak memberatkan masyarakat yang sedianya merayakan, bukan sebaliknya menjadi seuatu yang memberatkan.

Kenaikan harga bahan pokok di bulan ramadan ini bisa dijelaskan dengan hukum ekonomi. Sebagaimana diketahui, Dalam hukum ekonomi (dibaca: pasar), tingginya permintaan barang akan memengaruhi kenaikan harga. Kenaikan harga barang juga biasanya dipengaruhi oleh kelangkaan barang sementara permintaan tetap tinggi. Ini bisa dipahami agar barang tidak hilang di pasaran.

Hukum pasar ini biasanya akan berlaku dalam fenomena kenaikan harga pada saat – mulai menyongsong maupun sepanjang – Ramadan. Fakta yang selama ini terjadi adalah bahwa persediaan barang yang dibutuhkan akan menipis siring permintaan yang semakin meningkat. Hal ini akan memicu kenaikan harga.Sebagai ilustrasi, pada hari di luar Ramadhan, persediaan telur 1.000 butir, sementara yang membutuhkannya hanya 10 orang, makan yang terjadi adalah pedagang akan menurunkan harga agar persediaan yang banyak itu akan habis terjual. Sebaliknya, saat menjelang atau Ramadhan berlangsung, dimana persediaan telur tetap 1.000 butir dan yang membutuhkan lebih dari 500 butir dimana tiap orang butuh 2 atau 3 butir, maka pedagang akan menaikkan harga. Inilah hukum ekonomi.

Baca Juga :  Waspada Ketimpangan Kepri yang Melebar

Dalam kondisi ini kenaikan harga seakan merupakan suatu keharusan. Akan tetapi, haruskah kita menyerah pada hukum tersebut, atau bisakah diatur sedemikian rupa sehingga pada masa puasa ini harga barang tidak naik? Tentu saja bisa dan seharusnya bisa.

Kita sudah mengetahui bahwa unsur-unsur yang menyebabkan kenaikan harga tadi: yaitu persediaan barang yang terbatas, peminat atau kebutuhan akan barang yang meningkat, dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan harga pasar, tentu yang dilakukan adalah dengan mengendalikan kedua unsur tadi.

Pertama, untuk menghindari kenaikan, persediaan barang harus mencukupi. Ramadan bukan momen sekali dua kali saja setahun, melainkan berlangsung sepanjang tahun. Karena itu, seharusnya sudah bisa diprediksikan berapa kebutuhan akan barang tertentu. Misalkan saja, kalau setiap Ramadhan kebutuhan akan telur sekitar 3.000 (dalam skala rendah), maka menjelang Ramadhan harus sudah disediakan 3000-4000 butir telur.

Kedua, penetapan harga batas atas (price ceiling) oleh pemerintah, Sebagai penentu kebijakan, pemerintah dapat menentukan harga tertinggi / harga maksimum dari suatu barang. Misalnya, dengan meningkatnya kebutuhan akan cabe merah, tetapi suplai cabe merah sedikit, harga yang biasanya berkisar antara Rp 35.000 sampai Rp 40.000 bisa melonjak hingga Rp 60.000 per kilogram. Dengan menetapkan harga maksimum dari cabe merah, misalnya Rp 45.000 per kilogram, kenaikan harga bahan pokok dapat teratasi dan konsumen menjadi terlindungi.

Namun, masalah lain dapat muncul jika suplai barang tidak tercukupi, yaitu habisnya barang di pasaran. Nah, hal ini bisa memicu timbulnya pasar-pasar gelap, yang menjual barang di atas harga yang ditetapkan pemerintah, menjadikan masyarakat sebagai konsumen tidak memiliki pilihan sehigga tetap membeli dengan harga walau selangit.

Baca Juga :  Menakar Waktu yang Terbuang karena Game Online

Untuk diketahui, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, melalui Permendag No. 57/M-DAG/PER/8/2017 telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk tiga komoditas. Yaitu Beras, Gula Pasir, Daging Sapi Beku, dan Minyak Goreng. Beras premium ditetapkan seharga harga Rp 13.300,- beras medium Rp 9.950,-, Gula Pasir dengan harga Rp 12.500,-, Daging sapi beku dengan harga Rp 80.000,- dan Minyak Goreng dengan harga Rp 11.000,-

Ketiga, untuk mengatasi kenaikan harga dapat di atasi dari konsumen. Masyarakat dituntut bijak dengan mengendalikan diri untuk tidak kalap belanja. Karena kebutuhan ini melekat pada manusia, maka yang perlu dikendalikan adalah manusianya. Nafsu condong menjadi pendorong manusia untuk membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak. Jika seandainya nafsu itu dapat dikendalikan, tentu manusia tidak akan membeli dalam jumlah yang banyak yang memunculkan konsekuensi naiknya harga barang.

Konsumen cerdas yang terus didengungkan oleh Kementerian Perdagangan yang kemudian melatari semboyan:Belanja Sesuai Kebutuhan, Bukan Keinginan.

Persoalannya, dapatkah manusia mengendalikan nafsunya itu? Seharusnya dapat. Bukankah bulan ramadan adalah masa puasa. Puasa merupakan ibadah. Bulan puasa ini umat muslim diminta untuk mengendalikan hawa nafsunya. Dan salah satu hawa nafsu itu adalah nafsu membeli barang dalam jumlah yang banyak. Konsekuensi logisnya adalah di masa Ramadan ini manusia mengendalikan hawa nafsunya, termasuk membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga dengan demikian harga barang tidak akan naik.

Pertanyaan kita sekarang adalah siapa yang bertanggung jawab akan semuanya ini. Untuk pengendalian unsur yang pertama, yaitu persediaan barang, tentulah yang bertanggung jawab adalah pemerintah, para produsen dan para pedagang.Pemerintah bertanggung jawab untuk mengatur ketersediaan barang di pasar. Dengan wewenang yang dimilikinya, pemerintah dapat mendesak para produsen untuk memproduksi barang dalam jumlah yang banyak menjelang Ramadhan.Dan para produsen harus menyediakan hal itu.

Baca Juga :  Langkah dan Persiapan Menghadapi Ramadan

Jika produsen memproduksi barang dalam jumlah yang banyak di saat mendekati Ramadan, tentulah para pedagang tidak ada niat untuk melakukan penimbunan. Masalahnya Kota Tanjungpinang bukanlah daerah penghasil (produsen). Dari sekian banyak komoditi yang beredar di pasar-pasar Kota Tanjungpinang didatangkan dari luar daerah dan luar negeri.

Memang pemerintah bertanggung jawab atas pengendalian harga pasar ini.Namun bukan berarti kesalahan atas naiknya harga barang dalam masa puasa ini mutlak pada pemerintah.Tak pantaslah kita menyalahkan pemerintah saja atas kejadian ini. Pihak lain yang harus disalahkan adalah konsumen, yang merupakan unsur kedua.

Konsumen adalah pengguna atau pemakai barang. Ia merupakan unsur kedua yang bertanggung jawab atas kenaikan harga barang. Konsumen juga berperan penting dalam menstabilkan harga barang. Bagaimana caranya?

Masing-masing orang hendaknya mengendalikan hawa nafsunya untuk membeli barang dalam jumlah sangat banyak.Sebenarnya saat puasa adalah momen yang sangat tepat.Inti dari puasa adalah pengendalian hawa nafsu, bukan keserakahan yang terlihat dari naiknya porsi makanan. Orang selalu heran kenapa di saat Ramadan, orang justru makan lebih banyak daripada biasanya. Bukankah puasa itu mengajak orang untuk menahan diri? Bukankah pada saat puasa orang hanya makan dua kali sehari? Jadi, logikanya, di bulan Ramadhan ini harga barang tidak harus naik.

Dengan adanya pengendalian dua unsur ini, tentulah kejadian naiknya harga barang menjelang dan sepanjang Ramadhan tidak akan terjadi lagi. Ramadan atau bukan kebutuhan orang akan barang tetaplah sama saja. Malah seharusnya di saat Ramadan kebutuhan akan barang mesti turun,karena orang makan cuma 2 kali sehari (pagi dan malam). Semua ini bisa terjadi jika ada kemauan politik dari unsur-unsur yang berkaitan dengan kenaikan harga tadi.*** 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here