Kendalikan Inflasi untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Kepri

0
613
Lukita

Oleh: Lukita D. Tuwo
Bekerja di BP Batam

Dalam upaya untuk membangun fundamental ekonomi yang kuat, ada dua hal yang menjadi pusat perhatian, yaitu bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pada saat yang bersamaan bagaimana meredam tingkat inflasi pada level yang rendah dan stabil.

Tetapi di dalam praktiknya, tidaklah mudah untuk menjaga keseimbangan itu mengingat kedua indikator adalah saling berkorelasi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa sampai pada level inflasi tertentu (disebut nilai threshold), kedua indikator adalah berkorelasi positif dimana peningkatan inflasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, inflasi di atas angka threshold, hubungannya adalah negatif. Artinya, semakin tinggi angka inflasi akan semakin cepat menggerus pertumbuhan ekonomi.

Besaran angka threshold tersebut, bervariasi antarnegara. Ada yang 10 s/d 14 persen dan ada yang di bawah angka 10 persen dimana salah satunya adalah Indonesia.

Itulah sebabnya ada istilah satu digit yang bermakna bahwa bila inflasi masih single digit atau disebut juga inflasi moderat, maka tidak perlu dikhawatirkan karena masih memberi dampak atau dorongan positif terhadap pertumbuhan ekonomi,

Inflasi sebagai refleksi kenaikan harga agregat barang dan jasa yang diperjualbelikan di suatu wilayah pada periode tertentu merupakan indikator yang sangat diperhatikan oleh para pelaku bisnis dan investor/calon investor.

Pasalnya, tingkat inflasi dapat menggiring ke situasi ketidakpastian (uncertainty) tentang perolehan profit dari investasi yang ditanam oleh para pemilik modal. Bila inflasi bergejolak, maka suku bunga perbangkan akan ikut menyesuaikan yang pada gilirannya menambah beban bagi investor atau debitor.

Bukan itu saja, inflasi yang meroket akan memperlemah daya saing produk-produk ekspor di pasar internasional yang bermuara pada menurunnya penerimaan devisa dari hasil ekspor.

Ujung-ujungnya akan memengaruhi fundamental ekonomi dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan kurs mata uang asing, neraca pembayaran, neraca perdagangan, produk domestik bruto, dan bahkan tingkat pengangguran.

Menyadari akan kedahsyatan dampak inflasi itu, pemerintah dan Bank Indonesia memberikan atensi besar untuk mengawalnya pada level yang ditetapkan.

Untuk tujuan dimaksud, maka dibentuklah tim pengendali inflasi baik pada level nasional maupun daerah yang dikenal dengan sebutan TPID (tim pengendali inflasi daerah). Melalui peran aktif tim TPID, gejolak harga di daerah bisa dikendalikan melalui penyeimbangan antara supply dan demand akan barang/jasa yang diperjualbelikan di pasar umum.

Baca Juga :  Mengubah Fokus Belanja di 2019

Gejolak Harga Terkendali
Di tengah hiruk pikuknya diskursus tentang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan dibaur dengan berlangsungnya kampanye politik, banyak kalangan terutama para politisi, memberikan komentar akan dampak negatif dari keterpurukan nilai tukar rupiah yang sudah menembus angka di atas Rp14.000 per Dolar AS sejak Agustus dua bulan lalu.

Hal ini tidaklah mengherankan bila dikaitkan dengan impor. Artinya, bila kebutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk kebutuhan sektor manufaktur, berasal dari impor, maka tidak dapat dipungkiri bahwa harga barang/jasa yang diperdagangkan akan terdongkrak naik karena butuh rupiah yang lebih banyak untuk mendapatkan Dolar AS yang diperlukan.

Merujuk pada fakta statistik yang dirilis oleh BPS Provinsi Kepri, gejolak harga yang terjadi sebagai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS, tidak tampak di Kepri yang notabene diwakili Kota Batam dan Tanjungpinang.

Hal ini ditunjukkan dengan tingkat inflasi yang negatif (deflasi) baik pada bulan Agustus maupun September, yaitu masing-masing -0,53 % dan -0,09 %. Bahkan inflasi pada bulan Oktober pun masih relatif terkendali, yaitu sebesar 0,16 persen.

Terkendalinya inflasi Kepri tersebut, pastilah tidak terjadi begitu saja alias tanpa usaha kerja keras. Tim TPID Kepri (provinsi dan kabupaten/kota) benar-benar konsen dalam menyikapi efek negatif yang akan ditimbulkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Strategi jitu yang dilakukan oleh tim TPID Kepri adalah melakukan kolaborasi yang sinergis antarinstansi dan antardaerah dalam menyediakan stok akan komoditas potensial dalam mendongkrak inflasi.

Hal ini dilakukan agar kebutuhan masyarakat dan terutama yang berpenghasilan rendah (40 % terbawah) tidak tertekan karena adanya gejolak harga.

Upaya kerja keras tersebut sungguh menggembirakan dimana harga-harga tidak bergejolak dan bahkan deflasi. Untuk itu, kita beri acungan jempol dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada tim TPID Kepri.

Kenapa Harus Tekan Inflasi?
Menjaga level inflasi pada magnitud yang moderat dan stabil, sangatlah diperlukan guna untuk menjaga daya beli masyarakat tetap kuat dan memberikan kepastian profit bagi para pengusaha/investor yang modalnya berasal dari pinjaman bank.

Baca Juga :  Peran Pemuda Bagi Negara

Bila daya beli masyarakat kuat, maka demand akan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor hulu/produsen, tetap akan mengalir yang berarti roda perekonomian tetap berputar kencang.

Bila merujuk pada data BPS Provinsi Kepri, ada kecenderungan akan melambungnya harga-harga pada triwulan IV dan tentunya harus diwaspadai.

Hal ini tidak mengejutkan mengingat pada periode akhir tahun, permintaan akan kebutuhan barang dan jasa cenderung meningkat sebagai dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan manca negara dan domestik serta paket-paket rapat (meeting).

Selain itu, masa kampanye caleg dan pilpres yang sudah memasuki paroh waktu berkampanye akan turut mendorong peningkatan permintaan barang/jasa.

Tentunya, hal ini adalah positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri. Tetapi bila alpa dalam menyeimbangkan akan penambahan permintaan tersebut, maka dapat dipastikan harga-harga akan meroket yang bisa berujung pada pelemahan daya beli masyarakat.

Dalam konteks ini, tim TPID dan ditopang oleh seluruh pemangku kepentingan/kebijakan terkait, harus kembali memainkan perannya secara baik dan optimal.

Dalam upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang lebih kencang pada triwulan IV/2018 yang notabene pada triwulan III sempat mengalami perlambatan ke angka 3,74 %, maka strategi yang relatif mudah untuk dilakukan adalah dengan mendorong kekuatan konsumen melalui pengawalan harga atau stabilitas inflasi.

Tujuannya, agar perputaran roda PDRB Kepri yang digerakkan oleh sekitar 40 persen kekuatan pengeluaran konsumsi rumah tangga, tetap dapat berputar kencang.

Dengan kekuatan yang besar itulah maka perekonomian Kepri pada tahun 2017 bisa terlepas dari keterpurukan yang mendalam, yaitu pertumbuhan negatif (kontraksi).

Untuk mengawal dan mengendalikan inflasi pada level yang ditargetkan, yakni 3,5 persen pada 2018 dalam rangka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada level 4,5 %, maka tim TPID Kepri harus kembali memainkan peran startegisnya sebagaimana telah dilakukan pada triwulan 3 lalu.

Dalam konteks ini, tim TPID sudah harus mulai menyusun program-program aksi terkait dengan pengadaan stok (supply) akan komoditas pemicu inflasi pada bulan November dan Desember.

Berdasarkan kajian yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir, komoditas pemicu inflasi di Kepri pada kedua bulan tersebut adalah komoditas hasil pertanian tanaman pangan, seperti:beras, bayam, sawi hijau, kangkung, tomat sayur, tomat buah, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, buncis, terong, wortel, dan kembang kol.

Baca Juga :  Duka Palu, Dosa Kita

Kemudian komoditas hasil peternakan dan perikanan, seperti: daging sapi, telur ayam ras, ikan tongkol, dan sotong. Selanjutnya adalah komoditas non-makanan, seperti: bahan bakar rumah tangga, tarif listrik, dan angkutan udara.

Jadi, agar ketersediaan akan komoditas-komoditas yang disebutkan bisa hadir pada bulan -bulan tersebut, maka tim TPID dan instansi-instansi terkait sudah mulai bergegas dari sekarang.

Bila komoditasnya harus didatangkan dari luar Kepri, maka perlu melakukan kontak dagang dengan wilayah/daerah pemasok. Bila komoditasnya bisa diadakan di wilayah Kepri, maka rancanglah pengadaannya sedemikian rupa sehingga hasil/output-nya bisa hadir pada bulan November dan Desember.

Dalam konteks ini, perlu melibatkan masyarakat, terutama para petani, untuk diberi penyuluhan dan ajakan agar bisa menyediakan barang/komoditas yang dibutuhkan. Bila perlu, mereka bisa diberi bantuan lunak untuk bibit, pupuk, dan modal kerja.

Dalam jangka lebih panjang (tahun depan) untuk masyarakat membutuhkan lahan untuk menanam komoditas sayur-sayuran atau hortikultur, BP Batam bersedia menyewakan lahan untuk keperluan dimaksud.

BP Batam siap bekerja sama atau menyediakan lahan kepada petani dan/atau pelaku usaha khususnya di kawasan Sei Temiang, untuk memproduksi hasil pertanian, utamanya holtikultur dan ikan air tawar seperti lele dan lainnya.

Saat ini sudah dikembangkan namun hasilnya belum maksimal. Perlu ada dorongan kepada petani/petambak di sana berupa bimbingan atau kerjasama dengan perusahaan yang lebih besar dengan skema saling menguntungkan.

Dengan terkendalinya inflasi maka diharapkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan 40 % terbawah, akan tetap kuat untuk dapat menggerakkan roda perekonomian Kepri secara umum dan Batam khususnya sehingga pertumbuhan minimal 4,5 % pada tahun 2018 dapat diwujudkan.

Mari semua pihak saling bahu-membahu dan hilangkan ego sektoral serta utamakan kemaslahatan rakyat.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here