Kendalikan Nafsu dan Akal dengan Agama

0
361
Nurfitrianti

Oleh: Nurfitrianti
Kader Lembaga Dakwah Kampus, Ukmi Bahrul Ulum, UMRAH

Pada dasarnya agama menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Manusia diciptakan dengan sempurna dibandingkan mahluk lainnya karena dikaruniai akal dan nafsu. Ketika manusia mengedepankan nafsu dan tidak mampu mengendalikan dengan akalnya maka ia akan menjadi lebih hina dari hewan karena keliarannya. Namun, jika ia mampu mengendalikan nafsu dan akalnya dengan agama ia akan menjadi lebih mulia dari malaikat. Hal inilah menjadi gambaran kedudukan agama dalam kehidupan, agama sebagai penerang, benteng, penyeimbang, dan pengontrol kehidupan manusia agar tetap terjaga martabatnya. Sehingga esensi keberadaan agama ialah memberikan kedamaian.

Islam ialah agama damai, sebagaimana Alquran mengungkapkan bahwa Islam rahmatan lil ‘alamiin. Rahmat bagi alam semesta, ajarannya menuntun kepada kasih sayang, tuntunannya mengajarkan keteladanan, orientasinya menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bukan hanya kepada manusia namun kepada seluruh alam. Jika membunuh semut saja tidak dibenarkan apatah lagi membunuh sesama manusia, jika mengambil tempat duduk orang lain saja dilarang apatah lagi menjarah kehidupan dengan kekerasan, jika ketauhidan kepada Allah menjadi kewajiban bagaimana mungkin umatnya menjadi hamba bagi kekuasaan, dan jika menyebar salam dan senyuman menjadi anjuran, itu bukti islam menebar kedamaian.

Jika dianalogikan secara sederhana umat Islam bagai sebuah pohon apel, yang ditanam di tanah yang subur, mendapatkan sinar matahari yang sama dan mendapatkan aliran air dari sumber yang sama. Namun, walaupun seperti itu tidak ada jaminan buah yang dihasilkan dari pohon tersebut akan baik dan bagus semua kualitasnya. Tetap ada buah yang baik, layu atau busuk. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya pasokan air maupun sinar matahari yang didapatkan sehingga ia menjadi busuk, atau dikarenakan kelebihan pasokan air maupun sinar matahari yang didapatkan sehingga buah yang dihasilkan menjadi layu selain itu bisa karena diserang oleh serangga, ulat maupun sejenisnya sehingga buah tersebut menjadi rusak dan busuk. Namun ada juga hasil dari buah yang busuk tersebut masih bermanfaat dan bijinya bahkan masih bisa tumbuh menjadi pohon yang lebih subur.

Begitulah Islam, yang merupakan agama yang syumul, mengatur sistem kehidupan manusia sehingga manusia mampu menjadi insan yang bermartabat walalupun tidak ada jaminan semua umatnya menjalankan sistem tersebut sehingga ditemukankah orang yang mengaku muslim namun tidak menunjukkan sikap dan akhlaq sebagai seorang muslim, seorang yang mengaku muslim namun keberadaannya tidak memberikan kedamaian bagi lingkungannya. Namun bagaimanapun kondisinya islam tetap saja memberikan kedamaian umatnya, ketika seorang muslim yang berlumuran dosa dan pernah terjerumus pada keburukanmaka masih ada kesempatanuntukia bertobat memperbaikai diri dan menjadi manusia yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sehinggga kesempatan tersebut mengembalikan martabat kemanuisaannya. Inilah islam, ajarannya tidak memaksakan, tuntunannya tidak mendeskritkan dan umatnya membawa kedamaian.

Mari berfikir, jika dari sebuah pohon yang subur telah menghasilkan ratusan ton buah dengan kualitas yang baik sehingga diimpor dan meningkatkan pendapatan negara namun pada suatu musim terdapat beberapa buah yang busuk dan rusak apakah pohon tersebut adil jika di tebang dan dimusnahkan? Padahal buah yang busuk tersebut bisa saja rusak karena di makan ulat, serangga dan sebagainya, atau karena sebab lain bukan karena pohonnya. Jika hari ini karena oknum tertentu islam dideskritkan sebagai agama yang radikal, maka tanyakanlah pada diri masing-masing apakah sudah benar keislaman kita. Jika identitas telah menggadaikan esensi islam sebagai agama rahmatanlil’alamiin maka ketahuilah bahwa islam bukan sekedar simbol namun sebuah sistem kehidupan yang syumul (menyeluruh).

Untuk itu jadilah hakim yang adil bagi diri kita sendiri karena mengadili satu pihak tidak lantas membuat kita lebih mulia. “Dan diantara orang-orang yang telah kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan dasar kebenaran, dan dengan itu pula mereka berlaku adil “ (Q.S An Nahl;90). ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here