Kepri 10 Besar Terbaik Penyelesaian Gizi Buruk

0
875
Tjetjep Yudiana

DOMPAK – Provinsi Kepri masuk 10 besar di Indonesia dalam pencapaian target Sustainable Development Goals (SDG). SDG ini merupakan lanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir 2015 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjepjep Yudiana mengatakan, standar SDG ditingkatkan dari standar MDGs dan disepakati 193 negara.

Ia mencontohkan, salah satu standar yang dinaikkan adalah tinggi badan manusia. Jika saat MDGs gizi buruk hanya diukur dari berat badan, maka di SDG sudah diukur dengan tinggi badan.

Contohnya, kata dia, anak usia 6 tahun dengan tinggi badan satu meter dan berat 20 Kg, sudah masuk masuk kategori bebas gizi buruk. Itu di MDGS.

”Kalau di SDG, anak berusia enam tahun dengan berat badan 20 Kg, maka tingginya harus 1,2 meter. Ada standar yang dinaikkan,” ujarnya mencontohkan kepada Tanjungpinang Pos di Gedung DPRD Kepri di Dompak, Kamis (7/12).

Baca Juga :  Ber-SyNC Dahulu, Tangkal VUCA+ Kemudian

Tinggi badan seseorang bukan hanya faktor keturunan saja, namun terbantu dengan gizi dan protein yang diasupnya. Sehingga, ketika standar bebas gizi buruk dinaikkan, poin Indonesia langsung anjlok.

Sebelumnya, gizi buruk di Indonesia tinggal 6 persen saat MDGs. Karena standarnya dinaikkan di SDG, angka gizi buruk di Indonesia langsung melambung ke 17 persen.

”Karena tinggi badan warga tergantung kemakmuran negara itu juga. Makin tinggi daya belinya terutama makanan banyak gizi dan protein, maka makin tinggi badannya,” tambahnya.

Indonesia dengan banyaknya warga miskin, sulit untuk menurunkan angka gizi buruk tersebut. Apalagi kondisi ekonomi saat ini yang lesu. Masyarakat menahan diri untuk belanja makanan bergizi dan berprotein. ”Tapi kita masih 10 besar di Indonesia,” bebernya.

Baca Juga :  Waspada Potensi Inflasi saat Puasa dan Idul Fitri

Ketika ditanya apakah luasnya lautan Kepri dan banyaknya ikan berprotein yang dikonsumsi masyarakat bisa membuat Kepri menjadi 10 besar di Indonesia, Tjepjep mengatakan, sedikit banyaknya pengaruhnya tetap ada.

Namun, banyaknya pendatang ke Kepri dan tinggal di rumah kumuh serta kondisi ekonominya yang lemah, juga turut memperlambat Kepri menuntaskan masalah gizi buruk.

Ia menjelaskan, untuk menghasilkan manusi dengan postur tinggi, harus dimulai dari kecil. Asupan gizi dan proteinnya harus mencukupi. ”Makanya, negara yang makmur, umumnya tinggi-tinggi warganya,” tambahnya.

Saat ini, Jepang dan Singapura merupakan salah satu negara yang sudah tergolong makmur. Postur badan warga negara itu makin tinggi dibandingkan dulu. Itu karena warganya makin makmur. Di Kepri, penurunan tingkat kemiskinan terus dilakukan. Tahun 2012 pada kisaran angka 6,83 persen dan tahun 2016 menjadi 5,84 persen.

Baca Juga :  Jaga Kebocoran Lego Jangkar

Prevalensi kekurangan gizi pun mengalami penurunan. Tahun 2012 di angka 0,6 persen menjadi 0,4 persen di tahun 2016. Jumlah gizi buruk juga mengalami penurunan. Tahun 2012 ada 698 kasus menjadi 438 kasus di tahun 2016. ”Kalau IMP (Indeks Pembangunan Manusia) Kepri nomor 6,” katanya. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here