Kepri Bebas Penyakit Difteri!

0
953
Tjepjep YudianaKadis Kesehatan Pemprov Kepri

Penyakit Difteri kembali mewabah di berbagai provinsi di Indonesia. Untuk Kepri, sampai saat ini dinyatakan masih bebas dari penyakit mematikan ini. Meski demikian, tetap rawan diserang penyakit ini karena 10 persen anak Kepri belum imunisasi.

TANJUNGPINANG – KEPALA Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjepjep Yudiana mengatakan, di Karimun ada laporan seorang anak yang diduga kena difteri. Sudah dilakukan pemeriksaan dan sampel darah juga sudah diambil. ”Sampel itu sudah dikirim ke Jakarta untuk diperiksa dan hasilnya belum keluar. Makanya, belum bisa dipastikan itu difteri atau tidak. Masih suspect (dicurigai),” ujar Tjepjep via ponselnya, Jumat (8/12).

Tjepjep mengatakan, sampai kemarin, ia baru menerima laporan dari Karimun atas dugaan fiteri itu. Sedangkan dari enam kabupaten/kota lainnya masih aman.

Meski demikian, pihak Dinkes Karimun menyatakan, daerah itu masih aman dari difteri. Tidak ada anak korban difteri yang dirawat di RSUD M Sani.

Dijelaskannya, anak yang jadi korban difteri karena imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) tidak lengkap sejak bayi.

Untuk Kepri, tambahnya, anak-anak relatif lebih aman karena sudah 90 persen yang imunisasi. Meski ada sisa 10 persen yang belum imunisasi, namun sudah lebih bagus menangkap penyakit ini.

Meski demikian, Dinkes dan Dinas Pendidikan tetap melakukan kerja sama untuk menyasar anak-anak yang belum imunisasi. Karena itu, program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) terus dijalankan.

Baca Juga :  Tukang Pijit Ditemukan Meninggal di WC

”Mulai pekan depan akan dilakukan imunisasi ke sekolah-sekolah. Kita harap orangtua dan pihak sekolah mendukung program ini agar Kepri bebas Difteri,” harapnya.

Sebenarnya, kata dia, imunisasi ini sudah gencar dilakukan. Namun, ada saja kelompok tertentu yang menolak anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan.

Padahal, program ini untuk membebaskan anak dari berbagai penyakit berbahaya dan mematikan salah satunay difteri. Kini, anak akan diimunisasi langsung di sekolah.

Ia juga mengimbau agar guru-guru di sekolah terutama PAUD, TK, SD dan SMP agar selalu memperhatikan kondisi siswanya di sekolah.

Apabila ditemukan panas dingin, sebaiknya cepat diperiksa dan dibawa ke dokter atau dibawa pulang ke rumah orangtuanya.

Senin Imunisasi di Sekolah
Sekdako Tanjungpinang Riono mengatakan, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Pemko Tanjungpinang yang disampaikan kepadanya, sampai saat ini belum ditemukan kasus difteri di ibu kota provinsi ini.

Meski demikian, pihaknya mulai Senin-Sabtu (11-16 Desember) akan turun ke sekolah-sekolah dasar untuk melakukan imunisasi terhadap anak Kelas I dan Kelas II.

”Dari 4.500-an siswa Kelas I dan II di Tanjungpinang, sekitar 800 orang diantaranya belum imunisasi. Kelas I ada 400-an orang dan Kelas II ada 400-an orang juga. Makanya nanti akan diimunisasi di sekolah,” jelasnya via ponselnya, kemarin.

Riono mengatakan agar pihak sekolah mendukung program ini. Ia meminta semua siswa yang belum imunisasi ada yang terlewat. ”Satu orang pun jangan sampai terlewatkan,” tegasnya.

Baca Juga :  Masalah KSN Sandera Ranperda Pesisir Kepri

Antisipasi Terjadi KLB
Kementerian Kesehatan sudah menjadwalkan imunisasi vaksin TD (Tetanus-Difteri) untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri di Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Penyakit akut yang menyerang saluran pernafasan ini sudah menjangkit di 95 kabupaten/kota di Indonesia sepanjang 2017. Alhamdulillah penyakit mematikan ini belum ditemukan di Tanjungpinang.

Untuk mencegah itu, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang akan melakukan sweeping ke sekolah dasar untuk menjaring murid kelas satu dan kelas dua yang belum mendapatkan imunisasi difteri dan tetanus (DT).

Saat ini di Tanjungpinang tercatat tidak kurang dari 513 murid kelas satu yang belum mendapatkan imunisasi (DT) dan 452 murid kelas dua yang belum mendapatkan imunisasi Tetanus Difteri (TD).

Sedangkan murid kelas satu yang sudah mendapatkan imunisasi DT adalah sebanyak 4.013 anak dan murid kelas dua yang sudah mendapatkan imunisasi TD adalah sebanyak 3.792 anak.

”Kegiatan sweeping ini akan dilakukan mulai Senin 11 Desember 2017 dan diharapkan telah selesai pada Sabtu 16 Desember 201,” kata Rustam, SKM, M. Si, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, kemarin.

Baca Juga :  Baru Launching, Suzuki XL7 Terjual 20 Unit

Kata Rustam, langkah ini ditempuh untuk mencegah terjadinya kasus difteri, dimana sejumlah provinsi telah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

KLB Difteri sangat menakutkan karena angka kematiannya cukup tinggi, dimana berdasarkan data pada provinsi yang mengalami KLB dari 592 kasus Difteri yang dilaporkan terjadi kematian sebanyak 32 orang.

Penderita Difteri berdasarkan data yang ada sebagian besar yaitu 66 persen tidak terimunisasi sama sekali, 31 persen tidak terimunisasi lengkap dan 3 persen terimunisasi lengkap.

Oleh karena itu Dinkes mengimbau para kepala sekolah, komite sekolah dan para orang tua murid untuk dapat memberikan dukungan agar semua murid kelas satu dan kelas dua dapat memperoleh imunisasi DT dan Td sebagaimana seharusnya agar kejadian luar biasa Difteri di Tanjungpinang tidak terjadi.

”Kita lakukan ini untuk mencegah agar tidak terjadi di Tanjungpinang,” harapnya.

Kemenkes menetapkan status KLB karena penyakit mematikan yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sampai November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.(TUNAS-ABAS-YENDI-MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here