Kepri Ikon Daerah Toleransi

0
949
GUBERNUR Kepri H Nurdin Basirun saling bergandengan tangan dengan tokoh lintas agama saat Temu Kerukunan Umat Agama di Hotel Haris, Batam, Selasa (13/2) malam. F-istimewa/humas pemprov kepri

Gubernur Gandeng Semua Umat Beragama Jaga Kerukunan

Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menegaskan tak ada ruang intoleransi di republik ini apalagi di Kepri. Semua agama-agama di republik ini tidak ada yang mengajarkan penyebaran kejahatan. Tak ada celah intoleransi di Kepri. Karena itu, Kepri harus jadi ikon daerah yang penuh toleransi.

BATAM – Sebagai Indonesia, mari bersama menjaga empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-undang Dasar 1945.

”Inilah keindahan Kepulauan Riau. Tanpa membangun konektivitas hati, tak mungkin membawa Kepri sukses. Mari jadikan Kepri sebagai rumah dan surga untuk anak cucu kita,” kata Nurdin saat memberi sambutan pada Temu Kerukunan Umat Agama di Hotel Haris, Batam, Selasa (13/2) malam.

Tak lama setelah mengawali sambutannya, Nurdin meminta dengan hormat para tokoh agama, sejumlah petinggi di Kepri untuk bersama-sama dengan dirinya naik di atas panggung. Nurdin kemudian menambah sambutan singkatnya.

Prosesi itu, sepertinya Nurdin ingin menunjukkan begitu kompaknya seluruh masyarakat Kepri menjaga kerukunan. Karena itu dia menegaskan lagi bahwa tidak ada celah intoleransi di Kepri.

Baca Juga :  Pelabuhan Pelantar II Mulai Dibangun

Tampak yang naik ke panggung Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, Wakapolda Kepri Brigjen Pol Yan Fitri Halimansyah, Kabinda Kepri Brigjen Pol Suharyono, Pembina Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) HM Soerya Respationo, Ketua Pelita KH Didi Suryadi, Kapolresta Barelang Hengki, Ketua PMI Kepri Isdianto.

Ketua MUI Batam, Ketua DPRD Batam, serta pada pembaca naskah Deklarasi Kerukunan di antaranya Sekertaris MUI Kota Batam mewakili Islam H.M. Santoso, SE, Mewakili Kristen Protestan Pendeta Hanny Andreas, Mewakili Katolik Romo Lukas Sitepu, Mewakili Hindu I Wayan Catra Yasa, Mewakili Budha Y.M.Bhikkhu Guttadhammo Thera dan Mewakili Konghucu susanto.

Dengan NKRI, kata Nurdin, tak ada yang lebih indah selain di Indonesia dengan kerukunannya. Ada belasan ribu pulau, ratusan suku bangsa. Semua direkatkan dengan keberagaman. ”Bhineka Tunggal Ika menguatkan kita semua. Keberkahan dengan NKRI dari Sabang sampai Marauke, Mianggas ke Pulau Rote. Semuanya ada di Kepri sebagai miniatur Indonesia. Kita kawal dan jaga bersama Kepri,” kata Nurdin.

Baca Juga :  Layani Investor Seperti Raja

Nurdin berterima kasih atas gagasan terselenggaranya acara dengan tema Harmoni dalam Keberagaman ini. Dia mengajak semua masyarakat Kepri bahu membahu bersama-sama menjaga empat pilar kebangsaan, kerukunan dan kedamaian Kepri.

Wakapolda Kepri Brigjen Pol Yan Fitri Halimansyah sebelum menyampaikan sambutan Kapolda Kepri Irjen Pol Didit Widjanardi mengajak semua pihak di Kepri untuk menjadikan daerah ini sebagai promotor ikon daerah yang penuh toleransi. Pemerintah pun harus menjadikan toleransi umat beragama di Kepri senagai sebuah program.

Menurut anak jati Kepri ini, sekarang ada saja pihak tertentu yang ingin memporakporandakan negeri ini. Mereka ingin menceraiberaikan negeri ini. Salah satu sarana yang dimanfaatkan untuk menceraiberaikan masyarakat melalui media sosial.

”Mari bersama-sama memberikan masukan dan pencerahan kepada siapapun untuk memanfaatkan teknologi dan media sosial dengan baik. Para tokoh agama bisa mengajak umat, jamaah untuk benar-benar memanfaatkan energi dengan beretika dan sopan santun yang baik,” kata Yan Fitri.

Baca Juga :  Salat Berjamaah Kurang Diamalkan

Dalam sambutannya, Kapolda menyampaikan bahwa semuanya harus meningkatkan dialog untuk menjaga keharmonisan. Perbedaan adalah alat pemersatu dan perekat bangsa. Hidup saling berdampingi dan menghormati antar sesama. ”Semoga kita selalu dalam kerukunan,” kata Kapolda.

Ketua Dewan Pembina Pelita HM Soerya Respationo pada kesempatan itu membaca sebuah pemaparan dengan judul Kitab Sejati Tanpa Aksara.

Di antara isinya, Soerya menyampaikan, dalam lintasan sejarah nusantara, agama tidak pernah sekedar mengurus urusan pribadi tetapi juga terlibat dalam urusan publik dan secara historis hidup religius dengan kerelaan menerima keragaman telah lama diterima sebagai suatu hal yang wajar oleh masyarakat.(MARTUA-MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here