Kepri Krisis Legitimasi Setelah Ayah Pergi

0
820

Oleh: Rindi Afriadi
Pengurus DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kepri

Pada Kamis, 1 juni 2017 sekitar jam 16:30 wib sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam komisariat K.H Ahmad Dahlan ikatan mahasiswa muhammadiyah kota Tanjungpinang menyelengarakan aksi di tugu pancasila untuk memperigati hari lahirnya pancasila. Dalam peryataan sikapnya sejumlah mahsiswa ini mengatakan bahwa Kepulauan Riau darurat “Kerja- sama” dan secara lantang mereka suarakan bahwa kekosogan kursi wakil guburnur Kepulauan Riau yang cukup lama diakibatkan tidak adanya kerja sama yang baik dilakukan oleh mereka yang berada di pucuk kekuasaan.

Dan mereka berharap elit politik agar lebih bisa mengedepankan sikap kedewasaan dan kearifan agar terciptanya sosial-politik yang kondusif di Kepulaun Riau. Berbicara tentang pancasila berdasarkan penelusuran sejarah, pancasila tidaklah lahir secara mendadak pada 1 Juni 1945, melainkan melalu proses yang panjang yang berakar pada keperibadian bangsa Indonesia. Proses sejarah konseptualisasi pancasila melintasi rangkaian perjalanan yang panjang. Dan perumusan konseptualisasi pancasila dimulai pada masa persidagan pertama badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 29 Mei-1 juni 1945.

Dalam proses perumusan dasar negara, Soekarno memainkan peran yang sanggat penting. Dia berhasil mensistesiskan berbagai pandagan yang telah muncul dan orang pertama yang mengonseptualisasikan dasar negara itu kedalam pengertian “dasar falsafah” (philosofischegrondslag). Di dalam pidatonya 1 Juni 1945, Soekarno mengatakan : “Bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham” ; kita bersama-sama mencari persatuan philosofische grondslagh, mencari satu “ weltanschauung” yang kita semua setuju, saya katakan lagi setuju! yang saudara Yamin setujui, yang ki Bagoes setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui. Pendeknya, kita semua mencari satu modus. Setelah itu Soekarno menawarkan tentang lima prinsip (sila), rumusan kelima prinsip itu adalah : Pertama, kebagsaan Indonesia? Kedua, internasionalisme, atau pri-kemanusiaan. Ketiga, mufakat dan demokrasi? Keempat, kesejahteraan social. Kelima, ketuhanan yang berkebudayaan. Sungguh pun Soekarno telah mengajukan lima sila dari dasar negara, dia juga menawarkan kemungkinan lain, sekiranya ada yang tidak menyukai bilangan lima.

Baca Juga :  Rapor Putih-Hitam Guru Profesional

Alternatifnya bisa diperas menjadi Trisila : “atau barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka bilangan lima, itu saya boleh peras, sehinga tinggal tiga sila saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah ‘perasaan’ yang tiga itu? berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasar Indonesia merdeka, weltanchauung kita, dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme saya peras menjadi satu; “itulah yang saya nama kan socio-nationalisme”. Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tapi politiek-economisce, yaitu politieke-democratie dengan sociale rechtvaardingheid : Inilah yang dulu saya nama kan socio-democratie, yaitu pengabungan antara paham demokrasi dan kesejahteraan. Tinggal lagi ke-tuhanan yang menghormati satu sama lain.

Baca Juga :  Sempat Mengungsi, Agar Warga Merasa Nyaman

Selanjutnya soekarno megatakan. Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapat lah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘GOTONG-ROYONG’ Dengan menyatakan bahwa pancasila diperas menjadi ekasila, yang muncul adalah sila gotong-royong, Soekarno lebih kurang ingin menegaskan bahwa dasar dari semua sila itu, azas dan pondasi pancasila, keperibadian dan jiwa pancasila sebenarnya adalah gotong-royong atau yang kita sering sebut dengan kata “kerja sama”

Darurat kerja sama yang di kata kan oleh koodinator lapangan Agung Yuda Pratama pada aksi 1 Juni 2017, yang dilakukan oleh elit penguasa telah merendahkan nilai pancasila yangmana nilai dasar dan akarnya yaitu “kerja sama” sudah tidak di jalankan lagi.

Berkaca dari hal ini kerja sama yang tidak terjalin baik yang terjadi di provinsi Kepulaun Riau ini bukan hanya akan menjadikan visi dan misi provinsi ini tidak akan tercapai tapi juga ini menyangkut masalah tidak berjalannya roda pemerintahan dengan baik di akibat kan gubernur tidak ada wakilnya yang berujung pada kesejahteraan rakyat yang hanya menjadi mitos.

Baca Juga :  Cara Efektif Menyelesaikan Sengketa Konsumen

Bahkan bukan hanya itu yang lebih parahnya lagi dan menjadi masalah terbesarnya Kepulaun Riau sedang terjadi yang namanya krisis letigimasi dikarenakan tidak adanya exemplary center atau yang bisa kita ungkapkan dengan kata lain hilangnya panutan yang bisa di contoh, yangseharus nya diberikan oleh mereka yang berada di pucuk kekuasaan.

Seharusnya orang-orang yang berada di pucuk kekuasaan bisa menjadi contoh, akan tetapi kerjasama yang tidak baik mereka lakukan, lobi-lobi politik yang tidak pernah usai mengakibatkan mereka tidak pantas di contoh. Kepulaun Riau hilang exemplary center (panutan yang bisa dicontoh ) setelah Aayah Sani Pergi.

Nama : Rindi Afriadi
TTL : Sungai guntung, 30 April 1998
Alamat : Sei ladi RT.001 RW.003 Desa Kampung Bugis. Tanjungpinangkota, Kota Tanjungpinang Provinsi Kepri

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here