Kepri Masuk Zona Minus Air Bersih

0
805
Abdul Kholik

Kementerian PU Bangun Waduk Busung 2020

Warga Bintan, Tanjungpinang dan Batam mulai dilanda krisis air bersih. Di Batam, air baku mulai krisis tahun 2017 ini. Di Tanjungpinang, ribuan perumahan baru yang dibangun developer tak bisa ditempati karena tak ada air bersih. Kini, penduduk Kepri berada di zona minus air bersih.

Tanjungpinang – DI Batam, kebutuhan air bersih tahun 2017 ini sekitar 113.580.000 meter kubik atau setara dengan 3.601 liter/detik. Sementara total ketersediaan air baku dari lima waduk yang ada, hanya sekitar 104.260.000 meter kubik atau sekitar 2.980 liter/detik.

Sehingga, kebutuhan air bersih Batam minus sekitar 9.320.000 kubik atau sekitar 621 liter/detik.

Berdasarkan informasi dari Abdul Kholik, Dirut PDAM Tirta Kepri, untuk Tanjungpinang saja butuh air bersih sekitar 600-700 liter/detik. Sementara produksi Instalasi Pengolahan Air (IPA) dari dua waduk yang ada hanya 350 liter/detik.

”Kita masih minus sekitar 300 hingga 350 liter per detik untuk Tanjungpinang. Untuk Bintan masih relatif aman untuk sementara ini,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.

Adapun waduk yang melayani penduduk Tanjungpinang adalah Waduk Sei Pulai yang memproduksi air bersih 100 liter/detik dan Waduk Sei Gesek yang memproduksi air bersih 250 liter/detik.

Kebutuhan air bersih 700 liter/detik di Tanjungpinang hanya sebatas ke pelanggan yang terdaftar di PDAM saja. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk, kebutuhan itu makin besar.

Namun, sebagian besar masyarakat Tanjungpinang sudah menggunakan sumur. Sehingga PDAM tidak menyalurkannya air bersih ke mereka.

”Hitungan saya itu untuk pelanggan yang dilayani pakai pipa saja (pelanggan PDAM, red). Tak termasuk mereka yang pakai sumur sendiri,” bebernya.

Untuk memenuhi kekurangan air bersih di Tanjungpinang, Pemprov Kepri pun mempercepat proses pembangunan Waduk Kawal yang diperkirakan bisa memproduksi air bersih sekitar 300-400 liter/detik itu. Jika sebelumnya pembangunan Waduk Kawal masuk dalam perencanaan jangka menengah, maka dipercepat menjadi program perencanaan pembangunan jangka pendek.

Tahun 2017 ini, sudah direncanakan mulai membangun Waduk Kawal. Sehingga, tiga tahun ke depan diperkirakan sudah bisa memproduksi air bersih. Karena waktu untuk membangun waduk tersebut butuh bertahun-tahun termasuk pembebasan lahannya.

Apabila Waduk Kawal sudah dibangun dan dioperasikan, maka air bersih yang diproduksinya hanya mampu menutupi minus yang terjadi selama ini. Setelah itu, Pulau Bintan tetap kekeringan air bersih.

Jika tak ada pembangunan waduk yang baru, maka kekeringan seperti yang dialami Afrika bisa terjadi di Pulau Bintan. Hal ini seiring pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pertumbuhan industri ke depan yang semuanya butuh air bersih.

Namun, kata Abdul Kholik, pemerintah pusat sudah membuat perencanaan untuk puluhan tahun ke depan. Sehingga, tidak dibiarkan masyarakat Kepri mengalami kekeringan air bersih berkepanjangan.

Zulkifli, anggota Komisi II DPRD Bintan sebelumnya mengatakan, pihaknya sudah melakukan diskusi dengan Tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU) saat berkunjung ke Bintan, baru-baru ini.

Saat itu, tim kementerian tersebut juga turun ke lapangan untuk melihat kawasan Busung yang akan dijadikan dam estuari.

Waduk ini diperkirakan mampu memproduksi air bersih sekitar 5.000 liter/detik. Bahkan, pemerintah pusat akan menyediakan anggaran Rp 1 triliun untuk membangun estuari dam Busung.

Yang mereka minta saat itu agar pemerintah daerah berbenah. Sebelum membangun estuari dam Busung itu harus dibuat kajian dan sosialisasi.

Secara konsep, lokasi pembangunan Waduk Busung sudah cocok. Waduk ini menjadi jawaban kebutuhan air untuk Bintan, Tanjungpinang dan Pulau Batam hingga bisa dijual ke Singapura.

Zulkifli mengatakan, Pulau Bintan dan Batam diperkirakan mengalami krisis (kondisi para) air di atas tahun 2020 mendatang. Karena itu, pembangunan estuari dam Busung dengan luas 4 ribu hektare itu sudah mendesak.

Ia sendiri setuju dengan rencana pembangunan waduk tersebut karena itu menyangkut masalah hajat hidup orang banyak. Akan ada tiga kabupaten/kota yang dilayani waduk itu ke depan.

Hanya saja, karena waduknya dibangun di Bintan, tentu dalam pengelolaannya harus melibatkan Pemkab Bintan. Masyarakat sekitar juga jangan sampai dirugikan.

”Pusat merencanakan pembangunan estuari dam Busung itu tahun 2020 mendatang. Dananya dari pusat, lebih dari Rp 1 triliun,” tutup Zulkifli.

Terkait hal ini, Abdul Kholik sangat berterimakasih. Sebab, air waduk itu akan mengatasi krisis air ke depan sekaligus masih ada sisanya untuk menutupi kebutuhan tahun-tahun berikutnya.

Ia mengatakan, pertumbuhan penduduk di Tanjungpinang cukup cepat. Karena itu, kebutuhan air bersih juga meningkat drastis. Sehingga banyak calon pelanggan yang belum bisa dilayani.

Untuk waduk estuari, proses pembangunannya bisa 3-4 tahun. Kemudian, dibutuhkan waktu hingga 5 tahun untuk proses menghabiskan kadar garamnya.

Secara teknis, dam estuari adalah membendung lautan dan di bagian paling bawah bendungan dipasang katub buka-tutup. Ketika air hujan turun, maka secara perlahan air laut makin turun ke dasar waduk karena teorinya, massa air tawar lebih berat dibandingkan air laut.

Sehingga, ketika air hujan makin banyak, maka air laut makin turun ke bawah dan keluar melalui katub tersebut. Ketika air hujan (tawar) sudah memenuhi waduk dan air laut sudah habis, maka katub akan tertutup sendirinya. Sehingga air hujan tak bisa keluar lewat katub itu.

Setelah air waduk sudah tawar, maka sudah bisa diproses menjadi air bersih. Biaya untuk mengolah air tawar menjadi air bersih lebih murah. Sedangkan biaya proses air laut menjadi air tawar (sea water reverse osmosis/SWRO) jauh lebih mahal.

Contohnya, PDAM Tirta Kepri menjual air Rp 1.600 per kubik. Sedangkan harga air SWRO Batu Hitam Tanjungpinang rencananya akan dijual Rp 19.500 per kubik. Itu karena biaya produksinya sangat mahal. Teknologinya juga sangat canggih.

Penduduk Kepri mengalami pertumbuhan yang sangat cepat sejak Batam dijadikan kawasan industri. Saat Otorita Batam (OB) yang kini ganti nama menjadi Badan Pengusahaan (BP) masuk ke Batam tahun 1970, penduduk Batam saat itu sekitar 6.000 jiwa.

40 tahun kemudian (tahun 2010), penduduk Batam sudah mencapai sekitar 1.685.698 jiwa. Tahun 2016, penduduk Batam diperkirakan 1,2 juta jiwa hingga 1,3 juta jiwa.

Sejak Kepri menjadi provinsi sendiri dan Tanjungpinang ditetapkan menjadi Ibu Kota Provinsi Kepri, pertumbuhan penduduk Tanjungpinang melejit begitu juga dengan pertumbuhan pembangunannya. Semua ini membutuhkan air bersih.

Air Waduk Minus
Deputi Bidang Pengusahaan Sarana lainnya Badan Pengusahaan (BP) Batam, P Robert M Sianipar mengatakan, diantara waduk di Batam yang memproduksi, waduk Duriangkang mempunyai kontribusi mencapai 70 persen kebutuhan air bersih penduduk Batam. Sehingga diingatkan perlu menjaga agar ketersediaan air bersih terjaga.

”Kondisi muka air waduk Duriangkang pada 1 Februari 2017, -1,85 meter dari batas muka spillway elevasi +7,50 meter. Apabila musim panas atau el-nino berlanjut, dikhawatirkan krisis air baku,” bebernya.

Diharapkan, pemerintah pusat segera merealisasikan permintaan BP Batam agar teluk Bintan dijadikan waduk. Dimana, permintaan itu sudah disampaikan ke pusat.

Sementara untuk Lingga, dinilai terlalu jauh menyalurkan air ke Batam karena jaraknya ke Galang Baru sekitar 100 kilometer.

”Lingga ke Batam sudah kita kaji. Potesi ada. Hanya saja, jarak dari Lingga ke Galang baru cukup jauh. Sekitar 100 km. Kalau Teluk Bintan kita sudah minta bantuan pusat. Kita butuh penampungan air yang sangat besar,” katanya.

Saat ini, dalam pemenuhan air bersih di Batam sedang proses pengolahan air tawar dicampur dengan air laut atau blended di WTP Tembesi dengan kapasitas 600 liter/detik.

Selain itu, menekan angka kebocoran air, pemanfaatan air pencucian di WTP. Serta di keran air akan dipasang alat penghemat air, berbentuk saringan yang akan dibagi-bagi secara cuma-cuma kepada pelanggan.

”Kita lakukan pengolahan air buangan dengan sasaran kawasan industri, hotel, mal, apartemen, rumah sakit dan kawasan super block,” bebernya.

BP Batam juga sedang mencari sumber air baku dengan membangun bendungan Teluk Tering, Batam. Mengendalikan air hujan yang jatuh di Batam dengan membuat kolam dan pompanisasi.

”Kita juga ke depan akan memanfaatkan dan mengolah air laut,” imbuh Robert.(TUNAS-YENDI-MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here