Kepri No.3 Paling Rawan di Indonesia

0
217
Tjepjep Yudiana

Ditemukan 114 Kasus Rubella

Program imunisasi vaksin Measles and Rubella (MR) akan dilanjutkan di Kepri. Keputusan untuk melanjutkan program ini karena sudah mendapatkan restu dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apalagi sudah ditemukan 114 kasus Rubella di Kepri dan provinsi ini masuk paling rawan ketiga Indonesia.

DOMPAK – penyebaran kasus rubella ini sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi Kepri merupakan daerah tujuan wisata. Sehingga penularannya bisa makin parah jika imunisasi MR tak didukung.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri Tjepjep Yudiana dalam jumpa pers yang berlangsung di Kantor Dinkesprov Kepri di Dompak, Senin (27/8).

Dalam jumpa pers itu hadir juga Sekretaris Umum MUI Kepri Edi Saprani serta pengurus Dewan Pendidikan Kepri Hj Riasneli, yang juga mantan kepala sekolah Sekolah Luar Biasa di Tanjungpinang.

Menurut Tjetjep Yudiana, Kepri termasuk daerah yang rawan kasus Rubella dengan penderitanya tercatat ada 114 kasus di Kepri.

”Jadi Imunisasi MR terus dilakukan dan Fatwa MUI mendukung,” ujar Tjetjep.

Tjetjep menyebutkan, pihaknya sengaja mengundang mantan kepala sekolah SLB untuk menceritakan gambaran sulitnya orang tua mendidik dan membesarkan anak yang terkena autis yang terkena kasus rubella.

”Kami berterima kasih atas upaya yang sudah dilakukan MUI. Kami ditugaskan untuk melanjutkan pelayanan bagi yang bersedia atau bagi yang tidak keberatan,” sambung Tjetjep.

Menurut Tjetjep, virus Rubella dan campak ini belum ada obatnya. Salah satu caranya mengantisipasinya hanya dengan cara vaksin. ”Untuk tanda-tanda anak terkena virus Measles and Rubella ini, demam yang sangat tinggi, radang paru, mata memerah. Akibatnya bisa menyebabkan ketulian, mata rabun, otak mengecil yang mengakibatkan tidak bisa menyerap pengetahuan dengan baik, serta bisa mengakibatkan kebocoran jantung,” sebut Tjetjep.

Sedangkan alasan memberi vaksin kepada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun ini karena, dari yang sudah terjadi ternyata virus MR paling suka menyebar di usia 9 bulan sampai 15 tahun.

”Untuk target vaksin MR di Kepri, kita mentargetkan mencapai 95 persen. Dengan target 95 persen tentu akan mampu melindungi kemungkinan tersebarnya virus tersebut. Jika target capaian imunisasi rendah, maka virus akan lebih mudah menyebar dan virus berbahaya ini makin mudah menyerang ibu-ibu hamil,” sebutnya.

Banyaknya kasus penderita Measles Rubella ini lantaran masyarakat luas tidak tervaksinasi dengan baik. ”Kepri ini tingkat kerawanan dan kasus Rubella masuk ke nomor urutan 3. Kita ini sangat rawan, salah satunya karena Kepri berada di perbatasan dan banyak turis dari Eropa yang datang,” ucapnya.

Di dunia, sebut Tjetjep, hanya ada 3 negara yang memproduksi vaksin anti virus Measles and Rubella. Namun hanya produksi India yang mendapatkan rekomendasi dari badan kesehatan PBB. Diceritakan Tjetjep lebih jauh, untuk kasus campak di Kepri tercatat ada 170 kasus dan rubella ada 114 di Kepri.

”Secara nasional kasus campak lebih dari 8 ribu dan kasus rubella tercatat 5.337. Maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika kita tidak cepat melakukan vaksinisasi secara masif. Rubella dan campak ini kasusnya selalu beriringan. Di daerah yang imunisasi campak yang tidak berjalan dengan baik, maka berpotensi juga ada Rubella,” terangnya.

Untuk melihat gambaran penderita rubella, Tjetjep menyebutkan, bisa melihat siswa-siswa SLB.

”Meski tidak semua siswa SLB kena rubella, namun penderita rubella, lebih kurang akan bernasib serupa dengan anak-anak yang terpaksa menempuh pendidikan di SLB,” sebutnya.

Untuk pengobatan pasien yang kena virus rubella, menurutnya, mesti dioperasi dengan biaya berkisar antara Rp200 juta sampai Rp300 juta.

Sementara itu, Edi Saproni, Sekretaris MUI Kepri menyebutkan dalam UU No 33 memang disebutkan suatu produk baru bisa mendapat label setelah ada rekomendasi dari MU.

”Dalam kandungan vaksin yang sekarang ini memang terdapat kandungan yang tidak halal menurut umat Islam. Namun penyebaran rubella sekarang sudah membahayakan sementara kita belum bisa mendapatkan vaksin yang halal,” jelasnya.

”Untuk melakukan penelitian membuat vaksin itu membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun. Akhirnya vaksin vaksin Measles and Rubella diperbolehkan penggunaannya meski di dalamnya terdapat bahan gelatin. Ini hukumnya mubah atau harus karena darurat sari. Yang kita pakai di Indonesia itu produksi Serum Institute of India,” sebut Edi Saproni.
Menurut Edi Saproni, dalam hukum Islam, kalau ada darurat sari maka rusak atau mubah diperbolehkan pengunaannya.

”Kasusnya kalau kita ilustrasikan seperti sapi dari kabupaten yang terkena antraks, maka sapi dari kabupaten tersebut tidak boleh keluar. Baru ada tiga negara yang memproduksi vaksin ini diantaranya Cina, Jepang dan India,” tambahnya.

Untuk vaksin dari Jepang, itu hanya untuk vaksinasi bagi warga mereka sendiri. Sedangkan vaksin yang direkomendasi dari India.(ZAKMI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here