Kepri Terbaik 1 Penanganan Gizi Buruk

0
105
Tjepjep Yudiana

DOMPAK – Provinsi Kepri paling unggul dalam penanganan kesehatan masyarakatnya dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. Untuk penanganan gizi buruk, Kepri yang terbaik di nusantara ini.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjepjep Yudiana M.Kes mengatakan, selain unggul dalam penanganan gizi buruk, Kepri juga terbaik ketiga di Indonesia soal akses layanan kesehatan.

Kemudian, Kepri juga terbaik keempat di Indonesia tentang penanganan stunting. Rata-rata lingkar kepala anak-anak di Kepri 67 Cm. Sedangkan rata-rata nasional hanya 58 Cm. Beda 9 Cm.

Dengan lingkar kepala yang besar, maka anak-anak Kepri memiliki otak yang lebih besar. Kemampuan anak Kepri lebih tinggi dan lebih cepat dalam menyerap apapun.

Ibarat ponsel, kata Tjepjep, yang memori 12 GB tidak sama dengan 64 GB. ”Kalau 12 GB, hanya bisa men-download yang kecil. Kalau 64 GB, prosesnya lebih cepat dan kapasitasnya juga besar,” ujar Tjepjep menjelaskan, kemarin.

Adapun jumlah dokter di Provinsi Kepri sekitar 1.700 orang dan 450-an diantaranya adalah dokter spesialis. Jika dilihat rasionya, maka 1:1.700. Artinya, 1 dokter hanya melayani 1.700 penduduk.

Secara nasional, perbandingan dokter dengan penduduk 1.3.000. Artinya, 1 dokter melayani 3.000 penduduk. Warga Kepri lebih unggul dari segi pelayanan dokter.

Para dokter ini menyebar mulai dari rumah sakit, klinik, hingga puskesmas. Rata-rata puskesmas di Kepri memiliki 3-6 dokter. Pelayanan puskesmas makin baik dengan adanya tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat.

Target nasional, layanan dokter harus bisa 1:2.500. ”Target nasional saja 1:2.500 orang. Kita sudah jauh di atas. Artinya, dari segi akses layanan kesehatan masyarakat kita dimudahkan dengan banyaknya dokter di Kepri ini,” tambahnya.

Memang, kata dia, ada juga puskesmas yang dokternya sangat minim. Namun itu dialami puskesmas yang baru dibangun. Sarananya disiapkan, namun SDM (Sumber Daya Manusia)-nya belum disiapkan.

Harusnya, pemerintah daerah harus sama-sama mempersiapkan antara SDM dan gedung maupun fasilitasnya. Rekrut juga dokter, bidan dan perawatnya saat puskesmas hendak dioperasikan.

Dijelaskannya, meski Kepri terdiri dari pulau-pulau dan akses transportasinya mahal, namun pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota saling membantu menyediakan sarana kesehatan di pulau-pulau.

Di pemukiman penduduk seperti di Batam misalnya, masyarakat sangat mudah mendapatkan pelayanan terutama dari bidan-bidan yang buka praktik di tempat tinggalnya.

Posyandu juga rata-rata berdiri di satu perumahan. Sehingga orangtua bisa dekat membawa anaknya ke posyandu baik itu untuk menimbang berat badan, mengukur tinggi, mendapatkan pembagian vitamin, vaksin dan layanan lainnya.

Adapun capaian kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Kepri berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menurut Indikator Pembangunan Kesehatan Daerah ini, untuk Proporsi Status Gizi Buruk dan Kurang Gizi Pada Balita, Kepri terbaik nasional dengan poin 13.

Posisi kedua Bali dengan poin 13,1. Posisi ketiga Provinsi Bengkulu dengan poin 13,2 dan posisi keempat Jawa Barat dengan poin 13,2. Sedangkan angka rata-rata nasional 17,7. Kepri hanya di angka 13. Makin rendah poinnya, maka jumlah balita gizi buruk dan kurang gizi makin sedikit di provinsi itu.

Untuk Prevalensi Diare berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (Nakes) dan gejaja menurut provinsi yakni, Kepri terbaik Indonesia dengan poin 4,3. Posisi kedua Bangka Belitung dengan poin 4,4. Jambi di posisi ketiga dengan poin 4,5 dan Lampung di posisi keempat dengan poin 4,9.

Angka prevalensi Kepri pada poin 4,3. Sedangkan nasional 8. Makin rendah poinnya, makin sedikit korban diare di provinsi itu.

Untuk Prevalensi Diare pada balita berdasarkan diagnosis nakes dan gejala, Kepri terbaik Indonesia pada angka 6. Posisi kedua Bangka Belitung dengan angka 7,5.

Maluku Utara di posisi ketiga dengan angka 8,1 dan Jambi di posisi keempat dengan angka 8,6. Secara nasional, angkat rata-rata 12,3. Makin rendah poinnya, makin sedikit korban diare balita di provinsi itu.

Untuk proporsi rumah tangga dengan ART gangguan jiwa, skizofrenia/psikosis (per mil), Kepri terbaik Indonesia dengan angka 3. Posisi kedua NTT dengan angka 4.

Posisi ketiga Maluku dengan angka 4 dan posisi keempat Kalimantan Tengah dengan angka 4. Secara nasional, rata-rata di angka 7. Makin rendah poinnya, makin sedikit korban gangguan jiwa, skizofrenia/psikosis di provinsi itu.

Untuk kecenderungan proporsi pemeriksaan kehamilan K1 ideal pada perempuan usia 10-54 tahun, Kepri terbaik kedua nasional dengan angka 94,4. Posisi pertama DI Yogyakarta dengan angka 95,1. Posisi ketiga DKI Jakarta dengan angka 90,6 dan posisi keempat Bali dengan angka 90,3.

Secara nasional, angkanya rata-rata 81,6. Semakin tinggi angkanya, maka kecenderungan proporsi pemeriksaan kehamilan K1 ideal pada perempuan usia 10-54 tahun semakin bagus.

Untuk proporsi ukuran lingkar kepala saat lahir pada anak usia 0-59 bulan, Kepri terbaik kedua nasional dengan ukuran 67,7 Cm. Posisi pertama Sulawesi Utara dengan ukuran 70 Cm. Posisi ketiga Sumatera Barat dengan ukuran 67,6 Cm dan posisi keempat Jambi dengan ukuran 64,5 Cm.

Rata-rata nasional 58 Cm. Semakin besar ukuran lingkar kepala anak baru lahir maka semakin bagus. Artinya, ukuran otak anak tersebut makin besar.

Untuk Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia di atas 15 tahun, Provinsi Kepri terbaik kedua nasional dengan angka 5,5. Posisi pertama Jambi dengan angka 3,6. Posisi ketiga Lampung dengan angka 5,6 dan posisi keempat Sumatera Selatan dengan angka 6,3.

Sedangkan rata-rata nasional 9,8. Semakin rendah angka ini, maka yang mengalami gangguan mental emosional pada penduduk usia di atas 15 tahun di provinsi itu semakin sedikit.

Untuk proporsi masalah gigi dan mulut, Provinsi Kepri terbaik kedua nasional dengan angka 48,4. Posisi pertama Jambi dengan angka 45. Posisi ketiga Papua dengan angka 49,9 dan posisi kelima Sumatera Selatan dengan angka 52,4.

Secara nasional angka rata-rata 57,6. Semakin rendah angkanya, maka jumlah penduduk yang bermasalah dengan gigi dan mulut makin sedikit.

Untuk proporsi disabilitas usia 18-59 tahun, Kepri terbaik kedua nasional dengan angka 14. Lampung di posisi terbaik nasional dengan angka 13,8. Jambi terbaik ketiga dengan angka 14 dan Sumatera Selatan terbaik keempat dengan angka 15,4.

Secara nasional angka rata-ratanya 22. Semakin rendah angka di provinsi itu, maka jumlah penduduk disabilitas usia 18-59 tahun makin sedikit atau makin baik.

Untuk proporsi pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara dibakar, Provinsi Kepri terbaik kedua nasional dengan angka 24,2. DKI Jakarta di posisi pertama dengan angka 2,6. Maluku Utara di posisi ketiga dengan angka 24,5 dan Kalimantan Timur di posisi keempat dengan angka 24,5.

Secara nasional, angka rata-ratanya 49.5. Semakin rendah angkanya di provinsi itu, maka jumlah pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara dibakar semakin baik atau semakin sedikit.

Untuk kemudahan akses ke rumah sakit Kepri terbaik ketiga nasional dengan angka 59,3. Terbaik nasional adalah DI Yogyakart dengan angka 70,6 dan posisi kedua Bali dengan angka 60,5 serta DKI Jakarta terbaik keempat dengan angka 52,3.

Secara nasional, angka rata-ratanya 59,3. Semakin tinggi angka di satu provinsi, maka kemudahan akses ke rumah sakitnya makin baik.

Untuk proporsi Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi dan anak-anak usia 0-23 bulan, Kepri terbaik ketiga nasional dengan angka 66,6. DKI Jakarta terbaik nasional dengan angka 74,1. DI Yogyakarta di posisi kedua dengan angka 68,5 dan Kalimantan Timur terbaik keempat nasional dengan angka 66,1.

Secara nasional, angka rata-rata 58,2. Semakin tinggi angka di provinsi itu, maka jumlah ibu yang Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi dan anak-anak usia 0-23 bulan makin baik.

Untuk proporsi pernah/sedang cuci darah pada penduduk berusia =15 tahun yang pernah didiagnosis penyakit gagal ginjal kronis, Kepri diurutan ketiga dengan angka 5,2. Sulawesi Utara di urutan pertama dengan angka 2. Posisi kedua Maluku Utara dengan angka 4,9 dan Maluku di posisi keempat dengan angka 6,2.

Rata-rata angka nasional 19,3. Makin kecil angka di provinsi itu, maka yang pernah melakukan cuci darah makin sedikit akan makin baik.

Untuk kemudahan akses ke rumah sakit Kepri di posisi ketiga terbaik nasional. DI Yogyakarta terbaik nasional. Posisi kedua Bali dan DKI Jakarta di posisi keempat.

Untuk proporsi stayus gizi sangat pendek dan pendek pada balita, Kepri nomor 4 nasional. Adapun terbaik nasional DKI Jakarta. Kedua, DI Yogyakarta dan keempat Bali.

Untuk proporsi perilaku cuci tangan dengan benar, Kepri di posisi empat nasional. Posisi pertama Bali, kedua Kalimantan Utara dan ketiga Kalimantan Timur.

Untuk prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran pada penduduk usia = 18 tahun, urutan pertama Papua, kedua Maluku Utara, ketiga Sumatera Barat dan keempat Kepri.

Untuk prevalensi depresi pada penduduk usia =15 tahun, posisi pertama Jambi, kedua Lampung, ketiga Sumatera Selatan dan keempat Kepri.

Dari 18 indikator yang diukur secara nasional, Kepri selalu masuk keempat terbaik Indonesia bahkan 4 indikator terbaik 1. 6 indikator masuk terbaik kedua. 4 indikator masuk terbaik ketiga nasional dan 4 indikator masuk terbaik empat nasional.

Tjepjep mengatakan, peningkatan kualitas kesehatan penduduk Kepri ini juga ikut mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri yang masuk peringkat 4 nasional dan terbaik di Sumatera. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here