Kerukunan Beragama, Jadi Contoh di Indonesia

0
163
PETRUS Sitohang, Ketua FKUB Tanjungpinang dan Pj Wako saat membahas kerukunan umat beragama, Senin (3/9). f-istimewa

Pengurus FKUB Tanjungpinang Ikuti Konferensi Nasional

Tiga daerah di Indonesia menjadi percontohan karena kerukunan beragama yang baik. Dari Provinsi Kepri, yang masuk daftar itu adalah Tanjungpinang. Kemudian dari daerah lain yakni, Kota Manado dan Sorong.

TANJUNGPINANG – APA saja yang bisa membuat Tanjungpinang salah satu yang terbaik dalam kerukunan hidup antarumat beragama, hal itu nanti akan disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tanjungpinang Ustaz Zubaith Akhadi Muttaqien di acara Konferensi FKUB Nasional yang akan digelar di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada 5-7 September.

Acara ini diadakan FKUM Provinsi Kalimantan Utara dan keynot speaker nanti adalah Menteri Agama. Namun, Ketua FKUB Tanjungpinang juga akan diminta berbicara agar bisa dicontoh daerah lain di Indonesia.

Senin (3/9) kemarin, Zubaith Akhadi dan anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang Petrus M Sitohang bertemu dengan Penjabat Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza untuk menyampaikan rencana keberangkatan mereka.

Bahkan, saat pertemuan itu, Raja Ariza yang sedang menerima tamu dari Malaysia dan Singapura sengaja mengikutsertakan mereka dalam pertemuan tersebut. Sehingga, dua tamunya tersebut bisa mendengar langsung betapa masyarakat Tanjungpinang ini hidup harmonis sehari-hari.

Saat itu, Raja Ariza mengatakan, dirinya bangga dan senang atas peran semua pihak termasuk FKUB yang selalu menjaga kerukunan umat beragama di Tanjungpinang bahkan bisa menjadi terbaik nasional.

Ia pun mendukung langkah-langkah FKUB untuk turut berperan di konferensi nasional tersebut. Raja Ariza berpesan agar kerukunan beragama dan hidup harmonis di Tanjungpinang tetap dijaga. Namun, anggaran untuk FKUB tidak ada di APBD.

Saat pertemuan itu, juga dibahas mengenai pendirian rumah-rumah ibadah di Kota Tanjungpinang. Pada kesempatan itu baik Pejabat Walikota dan Ketua FKUB sepakat bahwa dasarnya semua umat beragama yang diakui negara berhak mendirikan tempat ibadah selama mengikuti Peraturan Bersama Menteri.

Petrus Sitohang berharap agar ke depan, pemerintah daerah menyiapkan anggaran operasional FKUB di APBD. Demikian juga anggaran untuk semua agama agar disiapkan secara proporsional.

Yang penting, ada anggaran untuk membantu semua agama menyelenggarakan hari besar agamanya masing-masing. ”Tapi proporsional saja. Kita misalnya (kristen), tak mungkin minta banyak karena jumlah kita sedikit. Demikian juga agama lain yang jumlahnya sedikit. Proporsional saja,” harapnya. Petrus Sitohang mengatakan, dirinya mengucapkan terimakasih kepada pengurus FKUP, ketua paguyuban, pemerintah daerah, aparat keamanan terlebih pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Tanjungpinang.

Sebab, peran LAM juga sangat besar dalam menciptakan hidup harmonis dan terciptanya kerukunan umat beragama di kota ini. Sebagai penduduk asli, masyarakat Melayu benar-benar terbuka untuk semua suku, adat, ras yang datang ke kota ini.

Dan dengan payung adat Melayu, semua adat istiadat juga terjaga dan tetap bisa dilestarikan. ”Peran pengurus LAM juga sangat besar dalam hal ini,” katanya berterimakasih.

Paguyuban juga tetap menghargai budaya Melayu. Salah satu contoh, saat Festival Budaya Batak digelar di Lapangan Pamedan beberapa bulan lalu, acara tetap dimulai dengan Tari Persembahan yang juga dihadiri pengurus LAM Tanjungpinang.

Saat itu, Raja Ariza mengatakan, sebenarnya tidak ada lagi istilah pendatang karena sudah sama-sama penduduk Tanjungpinang. Sama-sama membangun kota ini.

Para ketua paguyuban juga bersama dan sama-sama peduli apabila ada persoalan kecil di lapangan. Sehingga gesekan-gesakan tidak membesar dan hidup dalam harmoni tetap terjaga.

Terakhir Petrus mengatakan, status Kota Tanjungpinang sebagai salah satu kota paling toleran dan rukun secara nasional harus dipertahankan. ”Kita ingin pertahankan ini. Supaya jangan karena masalah kecil, jadi besar. Bagaimana kita bisa merawat, tetap harmoni dalam keberagaman. Itu yang harus kita jaga bersama,” pesannya.

Tahun 2017, Gubernur Kepri H Nurdin Basirun mendapat penghargaan dari Kementerian Agama karena dianggap berhasil menyatukan dan menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah ini sepanjang tahun 2016.

Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Kepri menempati urutan tiga dari provinsi se-Indonesia. Kehidupan masyarakat di Provinsi Kepri dalam beragama sangat kondusif. Antarumat beragama saling menjaga dan saling menghormati hingga tercipta harmonisasi dan toleransi yang begitu baik.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here