Ketika IPK Tak Sesuai Ekspektasi

0
908
Dewi Susanti

Oleh: Dewi Susanti
Mahasiswa STIE Pembanguna Tanjungpinang, jurusan akuntansi

Di dunia perkuliahan tidak lepas dari yang namanya Indek Prestasi Komulatif (IPK). IPK adalah mekanisme penilaian keseluruhan prestasi terhadap mahasiswa dalam sistem perkuliahan selama masa kuliah. Mendapatkan IPK tinggi merupakan dambaan setiap mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri juga, orang tua akan bangga jika anaknya punya IPK tinggi. Namun, menganggap bahwa hanya itu saja yang bisa membanggakan mereka pun sempit sekali. Naif jika bilang IPK tidak penting.

Tapi naïf juga menggantungkan masa depanmu pada angka-angka mati. Lantas bagaimana caranya mahasiswa mendapatkan nilai IPK tinggi tersebut yang terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan? Setiap mahasiwa tentunya ingin mendapatkan IPK tinggi atas kerja kerasnya tapi seringkali dinodai dengan segala kecurangan. Percuma mendapatkan nilai IPK tinggi bila IPK tinggi menghapuskan nilai-nilai kejujuranmu.

Baca Juga :  Maraknya LGBT Makin Memprihatinkan

Di zaman serba IT ini nilai dapat dimanipulasi, tapi skill yang akan membenarkan semua. Faktanya, bukanlah hal yang aneh jika semua orang menginginkan nilai A, tapi anehnya sedikit orang yang dapat membuktikan bahwa dia bernilai “A” dalam segala hal. IPK tinggi memang sangat penting tetapi harus diimbangi dengan kemampuan kita, dan bukan menjadi suatu kepentingan nomor satu. Karena nilai A, B+, dan lain-lain itu tidak menunjukkan diri seseorang.

Lebih baik kualitas bukan kuantitas. Percuma IPK bagus tapi cuman formalitas buat bahan pameran ke orang tua, kualitasnya saja tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dan hasil dari semua itu yang sulit kadang diperoleh dengan “normal” dan “murni”. Alias dari keringat sendiri tanpa adanya andil dari “tetangga”.

Baca Juga :  Membangun Kembali Paradigma Qur’ani di Bulan Suci

Mahasiswa seharusnya menjadi agen perubahan masa kini dan masa depan. Masa kini, yadengan menjadi sosok teladan bagi masyarakat. Memberikan contoh yang baik sesuai core competence-nya.Esensi kuliah sendiri tidak boleh tertinggal. Jangan sampai ilmu yang diserap hanya segelintir saja. Jangan sampai hanya kulitnya saja, karena kuliah bukan untuk berenang diatas ilmu, tetapi menyelam ke dalam ilmu itu. Apakah patokannya hanya IP dan IPK?

TIDAK!!! Masih ada hasil ilmu yang harus diaplikasikan lewat penelitian, program kreativitas, kompetisi, maupun inovasi sosial untuk masyarakat. Tetapi patokan resmi dari proses belajar adalah IP dan IPK. Khusus IP dan IPK sendiri, semuanya akan terjawab ketika mahasiswa terjun langsung ke lapangan.

Baca Juga :  Genjot Pariwisata untuk Dulang Devisa

Apakah dirinya akan menjadi agen perubahan atau tidak? Apakah dirinya menjadi teladan atau tidak? Itu semua akan dijawab oleh proses kuliah dan hidup di masyarakat nantinya. Anggaplah kuliah itu seperti menu makan dan IPK adalah nasinya, pengembangan skill dan pola pikir lauk-lauknya. Mendewakan IPK sama halnya dengan hanya memakan nasi tanpa lauk dan kamu akan kekurangan kurang gizi. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here