Ketika Muslim Memilih Golput

0
169
Widya Herlambang

Oleh: Widya Herlambang
Alumni Aktivis 212 Tanjungpinang dan Pembina Komunitas Usaha Perumahan (KOPER) Tanjungpinang

KALAU kita boleh jujur terhadap diri kita mungkin ada satu hal yang membuat kita malu bahwa tahun ini pemerintah membenarkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ikut Pemilu dan ada sebagian muslim malah memutuskan untuk Golput. Padahal, Islam mewajibkan kita untuk memilih pemimpin. Jadi sebagai muslim yang waras mestinya kita menggunakan hak pilih pada 17 April 2019 lalu dan kita harus ketahui bahwa ketika muslim Golput atau orang-orang yang merasa baik Golput bersiap-siaplah orang-orang yang tidak baik masuk parlemen karena orang-orang tidak baik pemabuk, LGBT dan sejenisnya menggunakanhak suaranya untuk mewakili mereka di parlemen.

Meminjam tulisan Raja Dachroni, Muslim AntiGolput di Batam Pos edisi Jumat (28/02/2014), sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antarakamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepadaAllah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan harikemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS An-nisa:58-59).

Ayat di atas mengajarkan konsepsi kepemimpinan dalam Islam dan menjadi pedoman bagi muslim bahwa kepemimpinan adalah suata amanah yangharus dijalankan sebaik mungkin dan penting jugabagi masyarakat untuk memilih orang-orang yangbisa memegang am anah. Berdasarkan ayat di atas maka kita punya kewajiban untuk memilih orang–orang yang amanah yang saat ini sudah dicalegkan oleh partai-partai politik. Dengan katan lain, momentum Pemilu Legislatif 17 April 2019 adalah saatnya bagi muslim untuk menggunakan hak suaranya. Tidak Golput dan anti Golput.

Mengapa? Ini tentu pertanyaan yang menarik apalagi sampai digiring hingga isu haramnya Golput. Searching saja di google pasti kita bingung kalau memang tidak memiliki landasan berpikir atau memahami fikih realitas wajah demokrasi dan nasib Islam dalam percaturan politik. Ada yang mengeluarkan fatwa haram danada juga kelompok lainnya yang menyatakan konyol kalau memfatwakan Golput haram karena sistem Pemilu dianggap produk barat dan bukan datangnya dari Islam.

Meminjam pendapat penulis nasional danjuga m antan jurnalis salah s atu majalah Islam ternama Hepi Andi Bastoni di sebuah mediasiber. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa tidak boleh Golput yang penulis sepakati dari beliau di antaranya Pertama, suara golputer itu, realitasnya, tidak dapat menjadi solusi dan tidak punyai pengaruh apapun untuk kebaikan negeri ini. Hingga kini, golput tidak ada legalitasnya yang m ampu menuntutsah atau tidaknya hasil pemilu. Golput juga tidak bisa menurunkan atau mengangkat seorang presiden atau kepala daerah terpilih.

Kedua, Golput itu umumnya bukan dari pemikiran rasional tapi emosional.

Biasanya mereka yang golput itu akibat rasa kecewaan, pesimis, putus asa dan apatis terhadap keadaan negeri ini. Bahkan, apatis (tidak peduli) bila negara dan bangsa ini dikuasai/dijarah oleh para penjahat. Ketiga, Dengan sistem dan peraturan UU Pemilu yang ada, salah satu yang diinginkan oleh para koruptor itu adalah: semakin banyak anggota masyarakat yang memutuskan untuk golput, agar mereka lebih mudah menjadi anggota dewan dengan ‘money politic’.

Keempat, Sikap golput ini akan makin berbahayaj ika yang golput adalah orang-orang shalih dan baik. Sebab, ketidaksertaan mereka dalam Pemilu akan menambah sedikit dukungan untuk orang baik-baik di panggung kekuasaan. Jika orang-orang baik itu semakin sedikit, maka peluang para koruptor dan penjahat akan semakin mudah melenggang kepanggung kekuasaan.

Misalnya, jika anggota dewan itu seharusnya 500 orang, maka kalau jumlah orang baik-baikhanya 100 orang, secara otomatis orang tidak baik itu menjadi 400 orang.

Kelima, jika alasan golput karena sistemyang ada sekarang tidak sesuai dengan ajaranIslam, justru peluang untuk mengubahundang-undang itu ada di parlemen dan panggung kekuasaan. Jika kita menginginkanaturan di negeri ini bersumber dar i ajaranIslam, maka orang-orang yang pro dengansyariat Islam harus mengubahn ya. Tempatmengubahnya itu bukan di jalanan tapi didalam gedung parlemen. Jika umat Islam inginmendirikan tempat ibadah, maka yang mengeluarkan

IMB-nya itu kepala daerah. Tuntutan1000 orang di jalanan, bisa dimentahkan olehkeputusan hanya seorang kepala daerah.

Untuk menjadi kepala daerah atau presidentidak bisa ditempuh dengan golput.

Golput Juka Bukan Jawaban
Golput Bukan Jawaban, dijelaskan bahwapilihan Gol-Put seb agai perlawanan saat inimenunjukkan masih rendahnya PQ (PoliticalQuotient) umat ini. Dan dalam Islam dijelaskan bahwa setiap sikap (pilihan) akan dimintaipertanggungjawaban termasuk memilih untukmerelakan kepemimpinan umat ke tangan paradurjana. Jadi alih-alih melakukan perlawanan, mereka yang Gol-Put malah harus mengikutiapapun kebijakan dari orang-orang yang merekabiarkan untuk menang dalam pemilu walaupunyang mereka biarkan menang itu adalah orangsetingkat Fir’aun, raja Namruz atau pemimpinkeji dan anti Islam lainnya sekalipun.

Selain itu, kita juga harus pikir-pikir jikamemutuskan ingin Golput s ebab a da l ima h alyang harus kita pertimbangkan. Pikir-pikirlebih j auh, a kan a da j uga k euntungan u ntukpartai atau kelompok dengan agenda deislamisasi atau Islam phobia. Dengan besarnya Gol-Put t erutama d ari m uslim I ndonesiamaka dapat: Pertama, Mengurangi keterwakilan muslim dalam pengambilan kebijakan.

Kedua, mengurangi peran-peran muslimdalam kehidupan berbangsa secara umum.

Ketiga, mempreteli satu demi satu regulasibernafaskan syariah. Keempat, memudahkanjalan untuk mengembalikan Pancasila sebaga iasas tunggal dan kelima memudahkan jalanmelemparkan Islam dari ranah publik (www.dakwatuna.com).

Masih meminjam tulisan dari situs berita itu jikadihitung resiko Golput itu mengancam bangsakhususnya muslim dari 222 juta rakyat (menurutsensus 2006) = 170 juta pemilih. Dengan hitunghitungan bodoh saja, bila persentase muslimIndonesia adalah 86% maka jumlah pemilih muslimadalah 170 juta x 86% = 146 jutaan, sedangkan nonmuslim adalah 170 juta x 14% = 24 jutaan. Denganpendekatan pessimistic no n scientific, anggap saja40% dari muslim itu Gol-Put. Dengan data daripersentase Gol-Put Pil-kada lalu, terlihat daerahdaerah yang mayoritas penduduknya muslimternyata memiliki angka Gol-Put yang tinggi, ratarata 40%, sedangkan daerah yang mayoritas non-muslim seperti Bali, NTT, Maluku, dan Papuamalah memiliki angka Gol-Put yang rendah denganrata-rata 20%.

Maka prediksi bila Gol-Put sukses dan berdasarkan hasil rata-rata maksimal total sua ra yangdidapat partai Islam dalam beberapa pemilusebelumnya, sekitar 20%, yang ikut memilih dipemilu mendatang 60% karena selebihnya Gol-Put. Didapat lah perhitungan kotor sebagai berikut:

Suara partai Islam = 20% x (60%x146 juta) = 17.52juta atau hanya 10%. Suara muslim di partaisekuler = 80% x (60%x146 juta) = 70.08 juta atauhanya 40%. Sisa suara adalah mereka yang Gol-Putdan non muslim. Nah, kalau bisa tebak, dalam pemilu legislatif angka Gol-Put non muslim bakalsangat rendah atau bahkan mendekati nol persen.

Hal ini terkait dengan isu keterwakilan mereka danjuga agenda-agenda lainnya. Dan kemungkinanbesar bahkan bisa jadi pasti mereka tidak akanmenjatuhkan hak pilih ke caleg muslim, ini sebuah misteri idealisme. Jadi anggap saja dari 24 jutapemilih itu semua memberikan suaranya pada wakilmereka. Jadi prosentasenya adalah sekitar 14%, melampaui suara gabungan partai Islam. Hasilnyamemang sungguh mengerikan, partai Islam 10%, partai sekuler (yang di dalamnya sudah pasti adanon) dan partai non Islam 40%+14%, sisanyasekitar 36% adalah suara umat Islam yang takterpakai. Di dalam 36% itu; ada mereka yang takkebagian money politik, ada mereka yang katanyaprotes dan menunjukkan bentuk perlawanan, adayang katanya pemilu itu haram dan oleh karena itutak ikut pemilu demi syariat Islam.

Nah, terlepas dari angka-angka statistik muncullagi pertanyaan, kalau mereka terpilih karena kitamelihat karena baiknya tapi nanti korupsi bagaimana.

Itu perkara lain, yang jelas kita sudah berijtihad untukmemilih dan melepaskan tanggungjawab k ita. Jikaberijtihad itu salah setelah diputuskan maka kitamasih mendapatkan pahala 1. Nah, sudah saatnyadari sekarang kita mengenal, memilah lalu memilihdan sudah saatnya sebagai muslim kita anti Golputdan kita sudah tahu konsekuensinya ketika kitaGolput dan tidak memilih orang-orang berintegritas diparlemen dan terayu oleh praktek politik uang siap-siaplah kita akan merasakan kekacauan-kekacauandan ketidakteraturan yang dilakukan pemerintahkepada kita. Semoga ki ta sebagai muslim berpikirkembali untuk Golput dan memilih orang baik yangberintegritas masuk parlemen dan menjadi pemimpinkita. Semoga! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here