Ketika Ojol Jadi Mitra Sekaligus Rival Pertamina

0
179
Petugas Pertamina saat melayani pelanggan Bright Gas 5,5 Kg di SPBU Coco, Baloi, Batam. F-Martua/Tanjungpinang Pos

Setiap hari, petugas Pertamina di SPBU Coco, Baloi, Batam, harus melayani ribuan orang, ditengah pandemi Covid-19 saat ini. Namun, tugas itu sedikit atau banyak dengan kehadiran layanan Mypertamina. Tidak ketinggalan, petugas Pertamina terbantu dengan kehadiran aplikasi mini market dan ojek online. Layanan-layanan online itu, mengurangi penumpukan orang di SPBU dan agen. Sekaligus, memudahkan pelanggan dan masyarakat, mendapat energi milik Pertamina.

Martua P Butarbutar, Batam

Pagi itu, dengan menggunakan motor, Asdi Bancin, memasuki area SPBU Coco Baloi, Batam. Dia sempat melirik kearah spanduk diarea, berisi tulisan peringatan, untuk menggunakan masker.

“Peringatan. Wajib masker. Anda akan kami layani jika menggunakan masker,” demikian tulisan dispanduk yang terlihat pagi itu, Selasa (13/10/2020).

Spanduk sejenis, tidak hanya terpasang di SPBU itu. Namun di 39 SPBU di Batam, setelah pandemi Covid-19 terjadi di Batam, sejak Maret 2020 lalu. Semua petugas di SPBU itu dilengkapi alat pelindung diri (APD). Seperti sarung tangan karet, face shield dan masker. 

Pagi itu, antrian kendaraan roda dua dan empat, cukup banyak, untuk mengisi bahan bakar minyak. Namun Asdi bukan satu diantara mereka. Asdi pagi itu hadir untuk mengabsen dan mengambil Bright Gas 5,5 Kg, pesanan konsumen, melalui aplikasi MyPertamina.

Asdi merupakan satu dari dua petugas SPBU itu, yang melayani pesanan lewat sistem digital Pertamina, MyPertamina. Belakangan ini, ditengah pandemi Covid-19, nama aplikasi ini mulai dikenal masyarakat. 

Melalui aplikasi ini, Pertamina menjalankan program Pertamina Delivery Services (PDS). Petugas mengantarkan pesanan konsumen, baik berupa Bright Gas, BBM jenis Pertamina Dex,  Pertamax hingga Pertamax Turbo.

Untuk mengantarkan pesanan lewat MyPertamina, Asdi sudah tiba sekitar pukul 06.00 WIB di SPBU. Kemudian, dia pulang kerumah, sekitar pukul 21.00 WIB. Namun BBM atau LPG yang harus diantar Asdi dan rekannya, diakui belum terlalu banyak.

Asdi dan rekannya harus bersaing dengan diriver ojek online, yang juga banyak menerima pesanan pelanggan Bright Gas. Belakangan ini, driver ojek online seperti dari operator Gojek, yang tergoncang akibat, Covid-19, banyak terbantu karena produk Pertamina. Terutama LPG pink, Bright Gas 5,5 kg atau 12 kg.

“Mungkin ini karena aplikasi masih tergolong baru di Batam. Belum sampai 10 tabung per hari kalau saya antar. Ojek online, banyak juga yang antar pesanan Bright Gas sekarang. Fungsi kami sama,” beber Asdi kepada Tanjungpinang Pos.

Kini, manfaat kehadiran produk Pertamina kini dinikmati pihak ketiga, mulai dari ojek online, hingga minimarket. Terlebih, ketika masyarakat Batam semakin familiar dengan Bright Gas, baik 5,5 atau 12 kg. Stok yang mudah ditemukan dan pemasaran dekat pemukiman warga, melalui Indomaret, membantu memudahkan warga.

Keberadaan Bright Gas ini, membantu ojek online. Driver ojek online mendapat alternatif tambahan, untuk sumber rezekinya, ditengah pandemi Covid-19. Penghasilan ojek online terbantu ditengah, sepinya penumpang. Wargih, seorang driver Gojek, mengaku, dari segi penumpang, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di Batam.

“Sekarang yang banyak, antar pesanan orang, seperti Bright Gas 5,5 kg. Paling banyak, pesanan makanan. Tapi gas warga pink ini udah makin banyak pesan beli dan antar pakai Gojek,” ujar Wargih.

Setiap ada pesanan untuk membeli Bright Gas, Wargih lebih memilih membeli di Indomaret. Selain dekat dengan pemukiman, juga harga sesuai dengan ditentukan Pertamina. Pelanggan Bright Gas 5,5 Kg, C Everest S. Everest yang tinggal di Taman Golf Residence 2, Bukit Indah Sukajadi, Batam Kota ini, membenarkan.

Everest mengaku, kerap menggunakan jasa ojek online. Kemudian pembelian dilakukan di Indomaret. Walau diakui, belakangan ini mereka juga kerap menggunakan aplikasi MyPertamina. Namun Everest dan tetangganya, lebih sering menggunakan jasa ojek online, untuk membeli Bright Gas 5,5 kg. Alasannya, Gojek bisa membeli di Indomaret, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.

“Belakangan ini saja kami kadang pakai layanan PDS di aplikasi MyPertamina. Itu bibi (pembantu) yang pakai aplikasinya. Dirumah, bibi sama istri yang bosnya, untuk mengatur beli gas dimana,” katanya Everest.

Baca Juga :  Tes SKD CPNS Dimulai, Jika Telat Dianggap Gugur

Untuk memantau harga gas atau tabung LPG 5,5kg dan 12 kg, Everest bisa memantau lewat aplikasi Indomaret. Indomaret melalui KlikIndomaret.com, tidak hanya menampilkan harga isi ulang. Namun juga harga tabung. Harga Bright Gas 5.5Kg (Isi Ulang) seharga Rp 69.000. Kemudianan, tabung Bright Gas Tabung 5.5Kg, seharga Rp 289.000.

Kemudian, Bright Gas Isi Ulang 12Kg seharga Rp148.000. Sehingga, popularitas Bright Gas 5,5 Kg yang terus naik di Batam, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Indomaret, yang bekerjasama dengan Pertamina. Terlebih, di Batam, jumlah Indomaret terus meningkat dan dekat dengan pemukiman warga. Sehingga, memudahkan warga, membeli Bright Gas. – Butuh Penguatan Promosi PDS

Saat ditemui diruang kerjanya, Manager SPBU Coco di Baloi, Batam, Bayhaqqi membenarkan, jika layanan PDS MyPertamina, masih kalah dengan layanan pengantaran Bright Gas dari ojek online. Sehingga, dinilai, penting dilakukan sosialisasi atau promosi program PDS dengan aplikasi MyPertamina.

“Pesanan Bright Gas, pasti lebih banyak dibanding BBM. Bisa karena masyarakat belum familiar dengan apalikasi. Butuh promosi juga,” ujar Bayhaqqi.

Padahal, dari menu yang ditampilkan aplikasi, diakui banyak. Bayhaqqi juga memperlihatkan aplikasi yang ada di MyPertamina. Informasi yang ditampilkan, ada program promo produk Pertamina.

Kemudian, harga produk-produk Pertamina, jaringan layanan PDS dan lainnya. Layanan ini, bisa dinikmati dengan mendownload aplikasi di playstore, untuk ponsel android. Lewat aplikasi digital MyPertamina, konsumen akan mendapat banyak keuntungan. 

Seperti kemudahan dan kepraktisan dalam pembayaran non tunai, akses mengetahui SPBU terdekat, meraih poin reward dengan berbagai benefit, hingga pembelian BBM dan LPG. 

Lewat aplikasi itu juga, konsumen bisa memantau harga produk layanan PDS sama dengan pembelian langsung di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kemudian, web situs  pertamina.com, mudah dipantau harga BBM di SPBU di Provinsi Kepri. Mulai Pertamina Dex, Dexlite, Pertalite, Pertamax, hingga Pertamax Turbo. 

Namun Bayhaqqi juga berpendapat, saat pemesanan BBM tidak banyak LPG, karena kondisi Batam yang tidak semacet Jakarta. Sehingga, memiliki waktu lebih banyak untuk mengisi BBM di SPBU. Kemudian, akibat Covid-19, mobitas warga juga turun, walau belakangan ini mulai normal. 

Mobilitas warga itu tercermin dari konsumsi BBM yang menurun. Dimana, sebelum pandemi Covid-19, konsumsi BBM di SPBU Coco, sekitar 20 kilo liter (Kl) per hari. “Sekarang, sekitar 14 Kl saja per hari. Tapi ini sudah lumayan. Maret dan April 2020 lalu, dibawah itu lagi,” terangnya.

Diharapkan, pertumbuhan penggunaan produk Pertamina melalui aplikasi atau sistem online, akan terus meningkat. Masyarakat akan semakin familiar dengan layanan online itu. Sehingga, antrian di SPBU semakin turun.

“BBM sampai LPG diantar ke rumah. Jadi warga tak perlu menghabiskan waktu ngantri lagi di SPBU,” kata dia.

Optimisme Bayhaqqi bukan tanpa alasan. Disampaikan, jumlah kendaraan di Batam terus tumbuh. Sehingga SPBU akan semakin padat. Dengan adanya pilihan MyPertamina, akan memudahkan warga memenuhi kebutuhan BBM kendaraannya.

Jika saat ini pemesanan lewat sistem online masih didominasi produk Bright Gas 5,5 Kg, kedepan bisa dilampaui BBM. Terlebih pertumbuhan kendaraan di Batam lebih tinggi dari jumlah rumah. 

Dari data Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Provinsi Kepri, jumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat di Batam, sampai tahun 2019, ada 824.365 unit. Jumlah itu terdiri dari 672.640 unit roda dua dan 151.725 unit roda empat. 

“Ini potensi menjadi pelanggan Bright Gas LPG dan BBM non subsidi, lewat aplikasi MyPertamina. Apa lagi, masyarakat sekarang semakin familiar dengan teknologi. Termaksud orang tua,” kata Bayhaqqi.

Kondisi itu juga sejalan dengan data yang disampaikan Kepala Dinas Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Batam, Firmansyah. Di Indomaret inilah tersedia Bright Gas, baik 5,5 Kg dan 12 Kg.

“Saat ini ada 194 unit Indomaret di Batam. Data itu merupakan jumlah Indomaret, hingga Desember 2019,” ungkap Firmansyah.

Keberadaan produk Pertamina ini juga, mendapat respon positif dari manajemen Gojek. Secara khusus, dipaparkan kelebihan Bright Gas itu dilaman website Gojek.com, 

Baca Juga :  Siswa Doakan 1.000 Botol Air

Seperti memberikan apresiasi atas keberadaan produk Pertamina itu, ditampilkan perbedaan dan kelebihan Bright Gas 5,5 Kg, dengan LPG subsidi 3Kg. Ditampilkan perbedaan, mulai dari warna tabung, keamanan dan ketersedian ukuran tabung.

“Bright gas memiliki security seal cab atau penutup tabung yang lebih aman. Menggunakan teknologi double spindle dan karet pelindung dan ukuran isi lebih banyak,” demikian dimuat web Gojek itu.

Menyadari Ojol menjadi mitra tidak langsung Pertamina, belum lama ini, Unit Manager Communication & CSR MOR I Pertamina, Roby Hervindo, mengungkapkan bantuan yang diberikan Pertamina. 

Melalui Mypertamina, perusahaan plat merah itu, memberikan bantuan Ojol di Indonesia, termaksud  Batam. Program itu berjalan belum lama ini, tepatnya 14 April hingga 12 Juli 2020 lalu.

Melalui program itu, setiap ojek online di Kepri, diberikan keringanan dengan cashback 50 persen, maksimal 15 ribu. Syaratnya, pengendara mendownload aplikasi Mypertamina. 

“Ini berlaku untuk drive ojek online yang membeli BBM non subsidi Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo di SPBU Pertamina menggunakan aplikasi MyPertamina,” ujar Roby.

Sementara, ditangeh pandemo Covid-19 ini, manajemen Pertamina, mendorong masyarakat, melakukan transaksi non tunai. Roby mengatakan, melalui MyPertamina, pelanggan bisa memesan BBM dan LPG non subsidi, untuk diantarkan petugas Pertamina, dengan program PDS.

Masyarakat juga bisa dengan mudah memanfaatkan layanan PDS, dengan menghubungi Call Center Pertamina 135, mulai pkl. 08.00 pagi hingga pkl. 19.00 WIB. BBM dan LPG akan diantar langsung ke alamat. 

“Mudah, nyaman dan aman. Ini inovasi kita untuk membantu masyarakat. Kami juga terus mendorong konsumen agar bertransaksi BBM secara non tunai melalui aplikasi MyPertamina dan LinkAja. Selain lebih mudah dan nyaman, juga mengurangi resiko penyebaran COVID-19,” ujar Roby.

Disampaikan, MyPertamina juga mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Pertamina menggalakkan implementasi cashless payment system pembayaran non tunai untuk agen dan pangkalan LPG. Sistem ini juga mendukung rencana distribusi LPG tertutup yang akan ditetapkan pemerintah tahun 2021.

Menurut Roby, cashless payment system, merupakan sistem untuk pangkalan melakukan transaksi pemesanan. Baik  pembayaran LPG ataupun BBM. Sistem ini bermanfaat  meningkatkan keamanan pelanggan, SPBU hingga pangkalan LPG. 

“Pangkalan dan SPBU bisa mengurangi uang cash. Sehingga lebih aman,” ujar Roby.

Pembayaran non tunai di SPBU dapat dilakukan baik melalui fasilitas yang telah dikerjasamakan dengan berbagai perbankan. Perbankan yang bekerjasama, ada Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA).  Kemudian  dengan Link Aja yang telah terintegrasi dengan aplikasi MyPertamina.  

Kedua cara ini merupakan langkah konkret Pertamina dalam menerapkan transparansi dalam menjalankan penugasan dari pemerintah sekaligus meningkatkan kemudahan bagi masyarakat dalam membeli produk Pertamina. 

Dengan  mobilitas masyarakat Batam yang mulai normal, transaksi di MyPertamina, diharapkan terus meningkat. Konsumsi BBM sempat turun akibat pandemi Covid-19, Maret, April, Mei dan Juni 2020 akibat Covid-19.

“Tapi mulai Juli sampai September 2020, mulai normal,” beber dia.

Petugas Pertamina saat akan mengantarkan LPG 5,5kg ke pelanggan. F-Martua/Tanjungpinang Pos

Dorong UMKM Beralih ke Bright Gas

Petugas Pertamina Kepri dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Batam, mendatangi pangkalan-pangkalan gas subsidi, elpiji 3 kg di Sagulung, Batam, Selasa (13/10). Ikut serta,  Sales Branch Manager Pertamina Kepri, William.

Salah satunya, mereka menuju warung milik  Budi, Februari 2020. Disana ditemukan tiga tabung gas LPG 3kg berwarna hijau. Namun dua dalam kondisi kosong.  Saat itu, William mendengar keluhan Budi sebagai pemilik warung, yang kerap berkeliling mencari LPG 3 Kg. 

Saat itu, William mengatakan jika ketersedian LPG subsidi tidak ada masalah. Demikian, tidak ditampik ada peluang kelangkaan, karena panic buying atau penimbunan LPG subsidi.

Saat itu, William memberikan tawar untuk pelaku UMKM itu. Agar kedepan tidak pernah terkendala dengan LPG, serta usaha bisa berjalan lancar tanpa hambatan. William memberikan tawaran, mengganti LPG subsidi dengan Bright Gas 5,5 kg.

Setelah mendengar penjelasan William, Budi akhirnya setuju.  Budi mendapat nomor kontak telepon agen Bright Gas.  Langkah pendekatan seperti itu, kini kerap diambil Pertamina Kepri. 

Baca Juga :  Bosan Menunggu Janji PLN

Mereka mengajak masyarakat dan pelaku UMKM di Batam, menggunakan Bright Gas. Demikian, tetap disampaikan juga warga miskin dan UMKM berhak atas LPG subsidi.  Dimana, UMKM yang berhak mendapat gas subsidi, omset tidak boleh lebih dari 300 juta setahun atau 50 juta sebulan.

“Bright gas 5,5 kg ini tidak langka dan selalu ada dan sekarang mudah didapatkan. Bisa memesan lewat telepon ke agen, minimarket, lewat aplikasi, atau beli di SPBU,” kata William.

William juga menjelaskan kepada Budi, jika Bright Gas ini,  memiliki  keunggulan lebih di sisi keamanan dan kemasan. Kemudian,  memiliki katup pengaman ganda, sehingga lebih aman dua kali. Fitur keamanan diperkuat dengan adanya tambahan segel resmihologram  dan optical colour switch.

“Pilihan sekarang juga bertambah. Ada 5,5 kg dan 12kg,” bebernya.

Ditempat berbeda, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Batam, Gustian Riau, berharap, kedepan secara sendirinya masyarakat akan beralih dari gas subsidi menuju non subsidi. “Keberadaan gas non subsidi dengan keunggulan produk, kemasan hingga ketersediaannyan diharapkan bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat,” harap Gustian.

Langkah dukungan juga untuk peralihan masyarakat, untuk menggunakan energi non subsidi. Pihaknya sudah mengeluarkan himbauan agar Aparatur Sipil Nasional (ASN) dilingkungan Pemko Batam, menjadi contoh ditengah masyarakat, untuk tidak menggunakan LPG subsidi. 

“Agar beban subsidi dari pemerintah tidak besar. Sekaligus memberikan hak yang seharusnya diterima warga kurang mampu,” himbau Gustian.

Apa yang disampaikan Gustian, sejalan dengan disampaikan Wali Kota Batam, HM Rudi dalam berbagai kesempatan. Rudi ikut mendorong masyarakat, beralih ke Bright Gas. Demikian dengan BBM.

Wali Kota Batam, HM Rudi juga mendorong masyarakat, transformasi BBM dari subsidi menjadi non subsidi. Selain harganya hanya beda sedikit, juga untuk menekan kelangkaan BBM. Dinilai Rudi, peralihan ke BBM non subsidi dinilai akan membawa masyarakat lebih aman dan tidak mengalami kelangkaan. 

“Kalau kita semua mengejar subsidi, akan terjadi kelangkaan. Beli lah BBM non subsidi dan itu akan lebih untuk kendaraan kita,” himbau Rudi.

Sementara Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho mengatakan, saat ini  alternatif BBM yang semakin banyak, didorong dilakukan penguatan non subsidi. Dia merespon positif peningkatan konsumsi Pertalite, Pretamax dan Pertamax Plus. 

“Itu baik untuk kendaraan dan itu mengurangi beban negara untuk subsidi BBM. Sehingga pemerintah mengalihkan subsidi dari BBM ke bidang lain. Baik subsidi sembako dan perumahan,” kata Udin.

Menurutnya, untuk ekonomi menengah, peralihan itu tidak memberatkan. Alasannya, selisih antara subsidi dan non subsidi tidak besar, seperti beberapa tahun lalu. “Harganya juga hanya selisi seribuan” ungkapnya.

Hal lain yang dinilai Udin mendukung Batam memasuki era BBM berkualitas dan tanpa subsidi, karena kendaraan meningkat dengan jenis baru. Baik untuk roda dua dan empat. Kondisi itu menjadi cermin daya beli masyarakat yang meningkat.  Selain itu juga untuk menjaga kendaraan lebih awet.

“Tapi BBM subsidi belum bisa dihapus sama sekali. Karena nelayan, lembaga sosial, sekolah dan lainnya masih membutuhkan. Hanya perlu pengawasan lebih baik,” kata Udin.

Udin duduk di komisi  yang membidangi ekonomi, keuangan, industri dan perdagangan, meminta penguatan non subsidi, t idak hanya untuk BBM, namun juga untuk LPG.

Diminta agar atau tempat pemasaran LPG non subsidi yang ditambah. Sehingga masyarakat semakin familiar dengan gas non subsidi. 

“Jika dipandang perlu, gas subsidi juga tidak ditambah. Jatah pangkalan dikurangi. Itu untuk mendorong non subsidi tidak semakin besar di Batam,” himbaunya.

Kemudian diingatkan, agar tidak ada agen non subsidi merangkap jadi agen subsidi.  Kemudian, pangkalan subsidi di Batam tidak ditambah lagi.

“Jangan ada pangkalan elpiji non subsidi merangkap non subsidi. Ini harus dipisahkan,” tegas Udin, saat rapat dengar pendapat dengan Pertamina Kepri, belum lama ini di gedung dewan***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here