Kinerja FKPT di 32 Provinsi Dievaluasi

0
107

JAKARTA – 206 pengurus daan satgas FKPT dari 32 provinsi di Indonesia mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program pencegahan radikalisme dan terorisme yang digelar selama setahun.

Acara yang digelar tiga hari (10-12/2018) di hotel Royal Kuningan Jakarta ini dibuka oleh Sekretaris Utama Badan Penanggulangan Bahaya Teroris (BNPT) Marsma TNI Dr Asep Adang Supriyadi. 

Adang berharap, agar setiap FKPT di Indonesia, terus memaksimalkan sosialisasi dan program program BNPT agar setiap daerah terhindar dari cikal bakal radikalisme dan teroris. Salah satu peran FKPT adalah menyasar ke program program pencegahan dengan berkoordinasi pada elemen elemen pemerintah dan masyarakat.

“Salah satu cara efektif yang mesti dilakukan FKPT adalah mempertahankan kearifan lokal sebagai benteng pertahanan menuju Indonesia damai” kata Adang Setiadi.

Sementara itu, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Andi Lintang menyebutkan, setiap FKPT provinsi sudah menggelar 5 kegiatan dalam setahun yang dibiayai oleh APBN dan ada beberapa di antara FKPT juga menambah program dengan biaya bantuan instansi dan lembaga lain untuk memaksimalkan program pencegahan radikalisme.

“Sasaran sosialisasi selama setahun ini lebih banyak pada tema cegah radikalisme di era milinial. Selama setahun ada 32.653 tokoh masyarakat dan pemuda dari lima bidang yang digelar,” sebutnya.

Hanya saja, sambung Andi Lintang, sosialisasi ke kampus kampus mesti lebih digiatkan karena ada terindikasi beberapa mahasiswa yang ditenggarai terlibat upaya upaya radikalisme.

“Selama ini program kita sudah menyasar pelajar dan pemuda, tokoh agama, jurnalis. Bahkan kita membuat berbagi lomba seperti karya tulis, video pendek dan dakwah tang bertema tangkal radikalisme,” sebut Andi Lintang.

Ketua FKPT Kepri Reni Yusneli menyebutkan, sebagai perpanjangan tangan BNPT di Kepri, alhamdulilah, FKPT Kepri yang ia pimpin sudah menjalankan seluruh program yang tujuanya untuk sama sama mewujudkan kedamaian dan ketenangan di masyarakat. “Karena wilayah Kepri berupa kepulauan, FKPT mesti menggelar kegiatan di setiap kabupaten kota. Dan kita juga mengupayakan memperbanyak program program sosialisasi kearifan lokal agar pemuda pemuda di era milinial ini banyak memanfaatkan waktu luang dengan menciptakan hal hal yang bermanfaat,” sebut Reni.

Reni juga mengapresiasi dan mendorong terbentuknya perda perda kearifan lokal karena umumnya bermanfaat untuk menciptakan kenyamanan bermasyarakat. 

“Di antara kearifan lokal yang sangat bermanfaat dan berhubungan dengan kedamaian adalah dengan lebih memasyarakatkan syair syair Gurindam 12,” sebutnya.

Menurut Reni, dari banyaknya cara mencegah radikalisme adalah dengan memaksimalkan penerapan keariifan lokal.

Sementara itu, Ketua Bidang Penelitian Dr Fauzi menyebutkan, Lokal wishdom dalam hal ini Gurindam 12 memiliki nilai yang sangat signifikan dalam peningkatan kesejahteraan dan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dalam cegah tangkal paham radikalisme di Kepri. Hal itu diketahui dari hasil penelitian yang sudah dilakukan,” jelas pria yang juga sekretaris MUI Provinsi Kepri.

Menurut Fauzi yang juga ketua STIT Lingga ini, ada beberapa pantun lokal selalu mengingatkan kita agar selalu ingat akan budaya.

“Tak ada guna bebaju tebal
Hari panas badan berpeluh
Tak ada guna melayu bebal
Diri pemalas kerja bertangguh.

Tak ada guna kayu diukir
Bila dipakai dimakan ulat
Tak ada guna melayu pintar
Bekerja lalai makanya kuat

Apa guna merajut baju
Kalau ditetas butangnya lepas
Apa guna disebut melayu
Kalau malas bekerja keras,” pantunya. (Jek)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here