Kisruh Berlanjut Jelang Survei Kuota

0
554
KADISHUB Kepri Jamhur Ismail memimpin rapat penetapan kuota sementara taksi online di Batam, Rabu (21/2) lalu. f-raymon/tanjungpinang pos

Dilema Taksi Online di Batam Berkepanjangan

Penerapan teknologi untuk mendukung sistem transportasi di Batam benar-benar membuat kisruh. Taksi online yang menjamur di kota industri ini membuat kubu taksi konvensional meradang. Akibatnya kisruh di lapangan berkepanjangan.

BATAM – BARU saja disampaikan kuota sementara taksi online di Batam sebanyak 300 unit siang harinya, namun pada malam hari sudah terjadi lagi bentrok sesama sopir taksi online dan taksi konvensional.

Perkelahian di lapangan bukan terjadi kali ini saja. Sudah berkali-kali terjadi ribut-ribut akibat rebutan penumpang. Intinya adalah rebutan rezeki di lapangan. Bukan hanya taksi, namun ojek online juga sempat ribut dengan ojek konvensional.

Bahkan, pekan lalu, sempat juga terjadi keributan di Batuaji antara sopir taksi online dengan sopir angkot. Keributan ini semakin meluas. Sehingga berbagai pihak meminta segera diatasi.

Kepala Dinas Perhubungan Pemprov Kepri, Brigjend Jamhur Ismail mengatakan, di beberapa kota besar di Indonesia, keributan yang sama juga terjadi ketika perusahaan aplikasi sudah beroperasi. Batam, termasuk daerah yang terlambat menerapkan aplikasi ini. Ketika aplikasi ini masuk Batam, perusahaan atau pihak aplikator merekrut sopir tanpa batas dan belum ada izin operasional untuk armadanya.

Aplikator baru mengantongi izin untuk aplikasinya, bukan izin operasional armadanya. Saat ini, dari 15 perusahaan yang mengajukan izin ingin menjadi aplikator, baru dua yang sudah mengantongi izin.

Karena itu, Jamhur mengingatkan, perusahaan jangan merekrut anggota dulu sebelum jelas izinnya keluar. Sopir taksi online juga diminta menahan diri sebelum benar-benar mengantongi izin.

Baca Juga :  Api Ratakan Pusat Bisnis Lingga

Jamhur mengatakan, hasil survei sementara, kebutuhan taksi online di Batam sekitar 300 unit. Penumpang tetap bisa terlayani karena masih banyak taksi konvensional di Batam di luar angkot dan bus-bus lainnya.

Namun, untuk penetapan kebutuhan taksi di Batam akan dilakukan setelah hasil kajian atau hasil survei yang dilakukan perusahaan pemenang tender nanti selesai. Saat ini, kegiatan survei kuota taksi Batam di Dishub Kepri sedang tahap lelang. Perusahaan pemenang tender akan bekerja sekitar tiga bulan di Batam untuk melakukan survei berapa sebenarnya kebutuhan taksi di Batam kemudian disesuaikan dengan jumlah taksi yang ada saat ini baik taksi konvensional maupun taksi online.

Kemungkinan, hasil survei ini rampung Juni nanti. Sehingga, diperkirakan Juli sudah ada penetapan kuota taksi di Batam. ”Makanya, kuota yang kita buat itu sifatnya sementara,” ujar Jamhur, kemarin.

Sampai haisl survei nanti selesai, semua pihak diminta menahan diri. Jangan sampai bentrok di lapangan terus berlanjut. Karena ribut-ribut seperti itu akan mempengaruhi banyak bidang baik wisata maupun kenyamanan.

Di satu sisi, penumpang butuh keberadaan taksi online karena lebih praktis, cepat dan mudah. Hanya saja, masih banyak taksi online di Batam mobil pribadi. Beda dengan taksi online yang sudah jelas pelat kuning, nama taksi maupun warna bahkan nomornya.

Baca Juga :  Prajurit Korem Perdalam Kemampuan Yongmoodo

Tetap ada kekurangan dan kelebihan masing-masing armada transportasi ini. Soal kecepatan dan tarif murah masih tetap melekat pada taksi online.

Berikut salah satu pengakuan penumpang taksi online dari Sagulung yang bepergian ke Pelabuhan Telaga Punggur. Mia, seorang warga mengatakan, jika naik taksi atau sewa mobil Carry dari rumahnya ke Pelabuhan Punggur, ongkosnya Rp 150 ribu.

Itu pun, kata dia, menunggunya lama. Kadang, untuk taksi konvensional dirinya harus keluar rumah dulu lalu pergi ke jalan utama untuk menyetop taksi lalu tawar menawar ongkos.

”Kalau taksi online, kita pesan sudah nyampe depan rumah. Duduk manis aja kita, taksinya sudah datang. Ongkosnya Rp 110 ribu. Beda Rp 40 ribu,” katanya membedakan.

Gubernur Harus Turun Tangan
Dari awal beroperasinya perusahaan aplikasi Grab, Uber dan Go Car membuat sopir taksi online dan konvensional terus kisruh di Kota Batam Provinsi Kepri. Gubernur pun diminta turun tangan menanganinya.

Ketua DPD Organda Kepri, Syaiful sangat menyayangkan hal ini bisa berlarut-larut. Sesama anak bangsa saling berantam demi sesuap nasi. Mereka para sopir bukan mencari kaya, tapi hanya untuk memenuhi biaya hidup anak dan istri.

Ia mengatakan, kegaduhan ini juga akan berdampak terhadap investasi dan kunjungan wisman baik lokal maupun mancanegara. Karena setiap kejadian, masyarakat selalu meng-upload keributan tersebut di media sosial sehingga menjadi viral.

Baca Juga :  FBK Masuk Event Pariwisata Nasional

Syaiful menjelaskan, transportasi online bukan hanya beroperasi di Batam atau Provinsi Kepri saja, namun sudah menjamur di seluruh wilayah Indonesia terutama kota-kota besar.

”Tidak ada sebuah persoalan yang tidak dapat diselesaikan jika sang pemimpin benar-benar punya keinginan untuk menyelesaikannya,” jelasnya, kemarin.

Di beberapa wilayah provinsi lain di Indonesia sebut saja seperti Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, Riau, Sumatera Barat sudah dari beberapa waktu lalu diterbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait taksi online.

”Disinilah letak kelemahan Provinsi Kepri yang kita cintai ini, hingga sekarang belum juga diterbitkan Pergub terkait taksi online ini,” tambahnya.

Organda Kepri sudah beberapa kali ingin duduk bersama Gubernur membahas taksi online tersebut. Bahkan mereka sudah mengirim surat melalui sekretaris pribadi gubernur agar dijadwalkan audien Organda dan badan usaha taksi membahas tentang keberadaan taksi online.

Hingga saat ini belum ada jadwal untuk mereka. Sekretaris pribadi gubernur mengatakan, jadwal gubernur masih padat. ”Sementara kami sering baca di koran dan pak gubernur sering mengikuti acara seremoni yang seharusnya hal tersebut bisa diwakilkan ke pejabat lainnya,” ungkapnya lagi.

Rabu (21/2) malam, tepatnya di BCS Mall Batam kembali terjadi keributan besar antara sopir taksi online dengan konvensional.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here