Komoditi Pertanian Inflasi, Siapa yang Menikmati?

0
688
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Pemerhati Pembangunan Sosial Ekonomi Kepri

BULAN Ramadan sudah di depan mata yang menurut kalender diperkirakan akan jatuh pada medio Mei dan sebulan berikutnya, Lebaran pun tiba. Pada bulan Ramadan dan lebaran, inflasi cenderung meroket karena ada peningkatan permintaan yang menurut pemikiran awam dianggap justru sebaliknya, yaitu menurun.

Anggapan yang terakhir ini muncul karena ada semacam hipotesis bahwa pada bulan Ramadan, umumnya masyarakat Indonesia adalah berpuasa yang berarti permintaan akan kebutuhan sehari-hari tentunya akan berkurang yang bisa berdampak pada penurunan harga (deflasi).

Sekilas, pemahaman tersebut dapat diterima karena pada siang hari, masyarakat tidak makan dan minum yang berarti permintaan akan kebutuhan pangan pastilah berkurang. Tetapi dalam kenyataannya, kebutuhan terhadap bahan pokok pangan justru meningkat. Kok bisa?

Hal itu dapat terjadi karena kalau pada hari-hari biasa (bukan Ramadan), masyarakat tidak memerlukan makanan buka puasa dan demikian juga pada saat makan malam tidak terlalu membutuhkan menu (lauk-pauk) yang lebih enak/lezat.

Tetapi pada saat Ramadan, makanan berbuka puasa dibutuhkan hidangan pembuka untuk mengundangselera makan yang diikuti dengan menu makan malam yang lebih merangsang pula dimana pada hari-hari biasa hal itu tidak menjadi keharusan.

Demikian juga pada saat sahur, dibutuhkan lauk-pauk yang lebih enak agar selera makan pagi bisa lebih baik dan mengundang lahap. Dalam konteks seperti di atas yang tadinyamasyarakat tidak makan kolak atau cendol dan sejenisnya, jadi makan kolak dan cendol. Demikian juga dengan menu makanan yang tadinya tidak terlalu memikirkan lauk-pauk ayam atau daging dan sejenisnya, menjadi permintaan ekstra.

Baca Juga :  Paradigma Masyarakat Terkait Generasi Micin dan Kids Zaman Now

Fenomena inilah yang mengakibatkan menigkatnya demand akan kebutuhan pokok sehari-hari pada saat Ramadan dan pada gilirannya mendongkrak peningkatan harga-harga. Selain itu, faktor psikologis juga turut andil dalam mendongkrak peningkatan harga.

Para pedagang, memandang bahwa momentum Ramadan dan Lebaran, merupakan panen tahunan. Itulah sebabnya para pedagang cenderung menaikkan harga-harga yang walaupun suplai tidak mengalami penurunan atau kelangkaan.

Inflasi dan NTP Komoditas Pertanian
Bila diperhatikan hasil rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Kepri, tampak bahwa hampir setiap bulan inflasi Kepri disebabkan oleh komoditas hasil pertanian, seperti komoditas tanaman pangan (beras), hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan), peternakan (ayam ras dan daging sapi), dan ikan-ikanan.

Apalagi saat Ramadan dan lebaran sudah dapat dipastikan bahwa komoditas-komoditas hasil pertanian tersebut akan mendongkrak inflasi Kepri yang tentunya harus diwaspadai melalui program-program aksi mulai dari sekarang.

Saya kira, kita pasti sepakat bahwa bila komoditas hasil pertanian tersebut mengalami kenaikan harga (inflasi) dan kemudian peningkatan harga itu dinikmati oleh para petani (dalam arti luas), kita pun pasti senang karena mereka dapat merasakan hasil pertaniannya. Tetapi faktanya, para petani masih mengalami kondisi “besar pasak dari tiang”. Artinya, hasil pertaniannya belum mampu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Baca Juga :  Dalam Politik Selalu Ada Balutan Kosmetik

Potret tersebut tampak jelas dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan rasio dari indeks yang diterima oleh petani (hasil penjualan pertaniannya) terhadap indeks yang dibayar oleh petani (kebutuhan hidup), yang masih berada di bawah angka 100.

Artinya, besar pasak dari tiang, alias merugi. Idealnya, angka rasio itu harus berada di atas 100 yang berarti rumah tangga petani telah merasakan hasil pertaniannya, alias untung.

Berdasarkan fakta empiris, terlihat bahwa sejak 2014 tren nilai tukar petani Kepri terus menunjukkan penurunan dan angkanya pun berada di bawah 100. Petani yang paling terpuruk adalah mereka yang bergelut di sub sektor tanaman pangan dan hortikultura.

Lalu bagaimana dengan inflasi yang disebutkan di atas? Dalam hal ini, tampak suatu fenomena yang anomali dimana komoditas hasil pertanian inflasi, tapi para petaninya tidak menikmatinya yang ditunjukkandengan nilai NTP di bawah 100. Lalu siapa yang menikmati kenaikan harga (inflasi) tersebut?

Baca Juga :  Ibu dalam Paradigma Patriarki

Bila ditelisik lebih jauh, ada 2 faktor penyebab nilai NTP di bawah 100, yaitu pertama, kecilnya luas lahan yang dikelola untuk tanaman pertanian (tanaman pangan dan hortikultura) dimana hampir 57 persen adalah petani gurem, yaitu petani yang menggarap lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare.

Akibatnya, hasil pertaniannya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kedua, terbatasannya infrastruktur untuk membawa hasil pertaniannya ke wilayah/daerah transaksi yang harganya lebih baik.

Terkait dengan hal yang kedua ini, para pedagang pengumpul menjadikannya sebagai peluang untukmemperoleh pendapatan yang lebih baik. Mereka mendatangi para petani ke desa-desa atau pedalaman dan kemudian membeli hasil pertaniannya dengan harga yang mereka tentukan (semurah-murahnya) karena mereka yang menjemput “bola”.

Dalam hal ini para petani memiliki posisi dilematis. Dijual harganya murah, dan kalau dibawa sendiri ke daerah transaksi yang harganya lebih tinggi, terkendala dengan sarana/prasarana transportasi.

Karenapara petani juga harus memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka barang pun terpaksa dijual sesuai harga yang ditetapkan oleh pedangang pengumpul. Dari sini terlihat bahwa yang menikmati inflasi komoditas hasil pertanian itu bukanlah petani melainkan para pedagang pengumpul. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here