Konsumsi Listrik Industri Tumbuh 4 Persen

0
649
Head of retail Batam Centre, Wardono, Selasa (16/10) didampingi Manager of Public Relation, Bukti Panggabean, ‎dikantor pelayanan Batam Centre.f-martua/tanjungpinang pos

Pelanggan Bright PLN Minus Diawal Tahun

BATAM – Pertumbuhan ekonomi Batam dan Kepri yang membaik tahun 2018 menjadi 4,47 persen, tidak hanya diakui Bank Indonesia (BI) Kepri. Bright PLN Batam juga merasakan, dari pertumbuhan pelanggan prima atau industri dan bisnis‎ yang tumbuh saat ini. Walau diakui, tahun 2018, pelanggan prima sempat minus (turun), sebelum akhirnya meningkat 4 persen.‎

Kondisi itu diungkapkan Manager Pelanggan Prima Bright PLN Batam, Arif S‎, Selasa (16/10) didampingiManager of Public Relation, Bukti Panggabean, ‎dikantor pelayanan Batam Centre. Diakui, setelah industri shypard‎ sempat booming tahun 2016, sempat terjadi peningkatan pelanggan Bright PLN Batam disektor industri.

“Namun setelah itu, ada penurunan daya dan berhenti langganan. Awal tahun minus. Kadang ditengah jalan, ada telepon, minta kurang daya dan berhenti langgan. Susah cari pelanggan industri baru.  Tapi kemudian sekarang sudah plus (bertambah),” ungkap Arif.

Tidak ditampik, pertumbuhan kelompok industri dan bisnis di Batam, menjadi salah satu indikator kondisi perekonomian di Batam. “Untuk pertumbuhan, diawafl tahun kita minus. Tapi sekarang sudah grot. Ada pertumbuhan energi. Sampai September, sudah 4 persen‎,” ungkap Arif.

Baca Juga :  Ibu dan Adek Jokowi Silaturahmi dengan Tokoh Batam

Dengan ketersediaan daya saat ini, 412 MW, pertumbuhan pelanggan di kelompok bisnis dan industri tetap terakomodir. “Itu yang pemanfaatan listrik berdaya tingi. Mengkonsumsi daya sekitar 80 juta KWh per bulan,” beber dia.

Menurut dia, sektor industri yang membuat naik, seperti pabrik plastik, manufaktur. Ada juga pelanggan disektor bisnis seperti pergudangan, apartemen dan lainnya, yang saat ini sedang tumbuh.‎ Dari sekitar 300 ribu pelanggan PLN,  pelanggan bisnis dan industri, 452 pelanggan.

“Tapi di Batam, sektor bisnis masih mendominasi dibanding industri,” kata Arif.

Pelanggan-pelanggan PLN Batam itu diakui, kini dimudahkan untuk membayarkan kewajibannya. Pelanggan, baik industri, bisnis, rumah tangga hingga sektor sosial, bisa membayar tagihan dengan sistem online.

“Sekarang, sudah 80 persen pelanggan menggunakan sistem online‎,” ujar dia.

Demikian, Arif mengakui jika kemudahan itu, tidak membuat 5ribu pelanggan atau sekitar 5 persen dari 300 ribu, menjalankan kewajiban dengan baik. Jumlah 5 persen itu menjadi pelanggan PLN yang nunggak.

Baca Juga :  Pemko Goro di Engku Putri

“Bayar lewat ATM, internet banking dan ke kantor pelayanan. Bisa ke kantor pelayanan di unit bisnis distribusi dan pelayanan di Baloi, Kantor area pelayanan Nagoya, Kantor area pelayanan Batam Centre, Kantor Area Pelayanan Tiban dan kantor pelayanan Batuaji,” beber dia.

Lebih jelasnya, Head of retail Batam Centre, Wardono memaparkan, pembayaran tagihan sistem online, bisa dilakukan dari seluruh daerah di Indonesia. Pelanggan bisa memanfaatkan Alfamart, Indomart, BNI, BCA, BII, BTN, Mandiri, Mega, Panin dan lainnya.

“Kalau untuk membayar listrik, sudah jarang juga ke kantor kita. (Pelanggan) ke kantor ini, kalau ada pengaduan,” beber dia.

Terkait pelanggan PLN Batam yang hanya berjumlah 300 ribu, diakui karena banyak bangunan yang kosong atau belum digunakan. “Memang, banyak rumah di Batam, termaksud ruko-ruko. Tapi banyak yang kosong dan tidak menggunakan listrik,” ujar dia.

Baca Juga :  Telkomsel Sediakan Hadiah Miliaran

Terkait kesiapan Bright PLN dalam memenuhi tantangan pertumbuhan ekonomi Batam kedepan, Wardono ‎mengungkapkan kesiapan pihaknya. Langkah antisipasi diakui sudah disiapkan, melalui peningkatan kapasitas produksi listrik yang ditargetkan terus meningkat setiap tahun.

“Kita proyeksikan listrik yang diproduksi PLN, hingga 2021 nanti, sudah 1.056 MW. Itu total, baik dengan skema IPP murni, pembangkit skema IPP sewa dan menggunakan pembangkit milik sendiri,” bebernya dengan nada optimis.

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri, Gustian Raisal Eka Putra mengatakan, pada triwulan II tahun 2018, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 4,51 persen (yoy). Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I tahun 2018 sebesar 4,47 persen (yoy). Diantara faktor pertumbuhan ekonomi yang menguat itu,didorong oleh pertumbuhan investasi.(mbb)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here