Krisis Air Bersih Harus Diakhiri

0
173
Asep Nurdin

Dewan Minta Dijadikan Skala Prioritas

Krisis air bersih yang berulang-ulang terjadi harus diakhiri. Krisis air menambah penderitaan masyarakat. Diminta jangan terjadi lagi ke depan.

TANJUNGPINANG – Pengalaman bertahun-tahun belakangan ini harusnya tidak terjadi lagi apabila pemerintah serius menanganinya.

Anggota Komisi III DPRD Kepri, Asep Nurdin mengatakan, air merupakan kebutuhan utama manusia. Harusnya ini yang diutamakan selama ini. Setiap tahun, harusnya ada perencanaan untuk itu.

Kata dia, untuk membangun suatu penampungan air baku, butuh bertahun-tahun. Sementara kebutuhan air setiap detik. Asep menegaskan, saban hari masyarakat mengeluhkan persoalan air ini, jangan pula tahun depan dan tahun berikutnya masih terjadi juga.

Ia mendukung niat Gubernur Kepri H Nurdin Basirun yang hendak melakukan revitalisasi atau pendalaman waktu Sei Gesek dan Waduk Sei Pulai dengan menggunakan APBD Perubahan 2019.

Meski itu riskan bermasalah, namun Asep mengatakan, anggaran itu bisa dialokasikan apabila kajiannya masih memungkinkan bisa dikerjakan di sisa waktu yang tersisa di akhir tahun.

Politisi Hanura mengatakan, keluhan krisis air datang dari mana-mana. ”Saya kira kita semua tahu itu. Bukan hanya saya yang menerima keluhan itu. Kita semua. Ini pelajaran buat kita. Persoalan air ini harus kita tuntaskan,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (27/3).

Apabila alokasi anggaran dimasukkan di APBDP 2019, maka kemungkinannya masih bisa memperdalam waduk, bukan memperluas. Jika tidak memungkinkan dari segi waktu, maka di Musrenbang tingkat provinsi harus dibahas dan dimasukkan menjadi program prioritas.

”Kalau sudah masuk jadi program prioritas di Musrenbang provinsi, maka anggarannya bisa dialokasikan di APBD murni tahun depan. Masih cukup waktunya untuk melebarkan waduk atau memperdalam dasar waduk kalau di APBD murni,” tambahnya.

Jika alokasinya di APBDP, maka waktunya sangat sempit. Apabila APBDP disahkan Agustus, evaluasi Mendagri September, hingga lelang proyek sudah Oktober. Sisa dua bulan lagi waktu. Sehingga tidak memungkinkan. Karena itu, lebih cocok dialokasikan di APBD murni.

Waduk yang paling perlu diperdalam dan diperluas adalah Waduk Gesek. Saat ini, luas areal genangan waduk sekitar 4 hektare. Namun masih ada lahan sekitar 4 hektare lagi yang bisa dikeruk. Jika itu bisa diselesaikan, maka luas areal genangan waduk bisa 8 hektare.

Dengan penambahan luas itu, maka debit air yang ditampung makin banyak. Sehingga bisa bertahan beberapa bulan meski musim kemarau.

Saat ini, dengan kondisi areal genangan 4 hektare, Waduk Gesek hanya bertahan 2-3 tiga saat musim kemarau. Setelah itu waduk berhenti beroperasi. Hingga, Rabu (27/3) kemarin, Waduk Gesek sudah 17 hari berhenti beroperasi.

Dijelaskannya, untuk menambah daya tampung waduk, maka ada dua hal yang bisa dilakukan yakni pendalaman areal genangan yang sudah ada dan penambahan luas areal genangan.

Jika dua hal ini bisa dilakukan secara bertahap, maka ketahanan stok air baku lebih kuat. Musim kemarau berbulan-bulan pun, masih ada stok air di danau.

Ia juga heran dengan pemerintah. Selama ini, air hujan terbuang begitu saja ke laut. Padahal, Kepri ini hanya mengandalkan air hujan. Harusnya tempat penampungannya disiapkan. Jangan sampai kehabisan lahan dulu baru dipikirkan.

”Pengelolaan air kita ini yang tak maksimal. Air hujan langsung terbuang begitu saja. Harusnya ada waduk menampungnya. Gesek misalnya, saat musim hujan, air terbuang-buang ke laut. Musim kering, stok airnya habis,” bebernya.

Asep pun berharap Pemprov Kepri, BWS (Balai Wilayah Sungai) membahas persoalan ini. ”Jumlah penduduk terus bertambah, pembangunan bertambah. Bangun rumah, bangun ruko, buka usaha baru. Semua itu butuh air, tapi waduk kita itu-itu saja,” ungkapnya.

Anggota Komisi II DPRD Kepri Rudi Chua mengatakan, persoalan yang terjadi di Waduk Sei Pulai adalah, daerah resapan atau daerah tangkapan air di sekeliling waduk sudah habis dan gundul.

Harusnya, daerah di sekelilingnya hijau agar air tetap mengalir ke waduk melalui Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada. Saat ini, areal genangan Waduk Sei Pulai sekitar 60 hektare, namun tidak semua berisi air.

Sedangkan Waduk Gesek, persoalannya adalah lahannya belum dibebaskan. Dan ini sudah terjadi bertahun-tahun. Apabila dibiarkan terus menerus, maka makin sulit membebaskannya. Karena penduduk makin banyak di sana serta tanaman.

Hal yang sama juga dialami Waduk Kawal. Saat ini, areal genangan air dan areal resapan air sebagian belum dibebaskan. Sehingga tidak mungkin ditenggelamkan jika lahan itu masih milik orang lain.

”Saya dengar begitu. Belum semua ganti rugi lahan beres. Tak tahu belakangan ini sudah ada progresnya. Ini tugas pemerintah daerah. BWS sudah membangun, tinggal kita yang harus menyelesaikan masalah lahannya,” ujarnya baru-baru ini.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here