Krisis Air, SWRO Mangkrak

0
590
Warga menunggu giliran untuk mendapatkan air bersih di sumur umum belum lama ini. Tanjungpinang sedang krisis air bersih.f-istimewa
Tanjungpinang mulai darurat air bersih. Sumur sumur warga sudah pada kering. SWRO satu-satunya sumber air bersih yang diharapkan bisa mengurangi krisis air ternyata proyek negara itu belum juga bisa diandalkan.

TANJUNGPINANG – Namun, hingga kemarin SWRO belum dioperasikan oleh Pemko Tanjungpinang. Teknologi canggih ini mengelola air asing jadi tawar mampu memproduksi air bersih kapasitas 50 liter per detik.

Tahun 2014, krisis air juga terjadi di Tanjungpinang. Untungnya saat itu, masih banyak Caleg yang membantu masyarakat dengan mengantar air berlori-lori ke pemukiman penduduk. Tapi, Caleg sekarang tidak berani menyalurkan air bersih lagi. Mereka takut dikatakan kampanye. Takut diberi sanksi atau di jadikan tersangka karena bagi-bagi air bersih. Niat Caleg untuk membantu masyarakat sudah dilaporkan ke Bawaslu tapi tidak direspon.

Krisis air tahun 2019 terulang kembali. Waduk Gesek kering. Sumur warga mulai mengering. SWRO tidak kunjung dioperasikan. Meskipun sudah puluhan miliar dihabiskan. Kini, banyak warga Tanjungpinang menjerit dan mengeluh kesulitan air, sebab sudah dua bulan terkahir hujan tak turun. Sumber air warga seperti sumur dan PDAM sudah tidak maksimal. Meskipun ada bantuan air bersih dari ormas seperti Melayu Raya, PMI Kepri, pihak kepolisian dan BPBD Tanjungpinang, tapi pembagiannya belum merata.

Baca Juga :  PT Angkasa Pura Bagikan Kaki Palsu

Bahkan diantara warga menggunakan PDAM Tirta Kepri sudah 10 hari tidak mengaliri kerumahnya. Bagi warga yang mengandalkan sumber air sumur pun sudah mulai mengering.

Mengatasi persoalan kesulitan air, anggota DPRD Tanjungpinang, Reni menyarankan Pemko segera mengoperasionalkan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam.

Meski tidak ada alokasi anggaran khusus namun bisa menggunakan pos dana darurat. Ini menjadi salah satu sumber di luar hal lainnya yang nantinya diupayakan.

Untuk diketahui, Pemko Tanjungpinang melalui Dinas PUPR Tanjungpinang tidak mengalokasikan anggaran operasional SWRO 2019 ini.

”Kita tahu sudah beberapa bulan ini SWRO tidak dioperasionalkan karena tidak ada alokasi anggaran, tetapi kondisi sekarang sudah darurat. Hampir seluruh warga mengeluh, jadi wajar pemerintah membantu melalui dana darurat yang disediakan,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (20/3).

Baca Juga :  Pasar Modern Dibangun di Batu 8 Atas

Dituturkannya, krisis air di Tanjungpinang sudah masuk kategori darurat bila hujan tidak turun dalam seminggu ke depan. Pemko harus sudah memiliki trik atau solusi membantu warga.

Dituturkannya, bagi rumah warga yang sudah memiliki sambungan ke bisa langsung disalurkan. Sedangkan bagi penduduk lainnya, khususnya kawasan Batu 2 sampai ke Batu 16 bisa menggunakan tengki milik BPBD Kota Tanjungpinang.

”Kami akan sarankan ini ke pemerintah, mudah-mudahan di dengar demi kepentingan warga,’ ucapnya.

Dituturkannya, menghidupkan SWRO lebih baik bila dibandikan membiarkan warga mencari sumber air sendiri. Khawatir air yang di beli warga nantinya tidak layak konsumsi.

Ini juga akan berdampak kepada kesehatan serta kenyamanan warga. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pemerintah perlu mencarikan solusinya.

Sesuai hasil komunikasi sebelumnya, anggaran pengadaan obat-obat tersebut di perkirakan sekitar Rp150 juta. Obat yang di perlukan ada tiga jenis yang artinya harganya berkisar Rp50 juta per jenis.

Baca Juga :  PT Angkasa Pura II Serahkan Mobil Perpustakaan ke Pemko

Salah satu warga Tanjungunggat RT5/6, Kelurahan Tanjungunggat, Dewi kepada Tanjungpinang Pos, mengeluhkan, susah mendapatkan air bersih.

Sumber air dari sumur bor yang biasa digunakan warga kini kualitasnya tidak bagus. Air tersebut tidak bisa untuk diminum sebab warnanya tidak bening.

Ia meminta Pemko Tanjungpinang bisa merespon dan segera mengoperasionalkan SWRO.

Meskipun Dewi menuturkan, air SWRO biasa juga tidak bisa untuk diminum sebab kurang jernih. Hanya saja menurutnya sudah membantu untuk kebutuhan sehari-sehari. Seperti mandi, mencuci pakaian dan lainnya.

”Kami hanya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi airnya memang tidak berbau, tidak asin maupun payau tapi tidak begitu putih bersih jadi tak berani minum langsung,” ucapnya. (DESI – ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here