Krisis Air Tanjungpinang Sudah Stadium 1

0
1083
KERING: Inilah kondisi air di Sungai Pulai, sumber air bersih untuk masyarakat Kota Tanjungpinang saat musi kemarau. f-adly/tanjungpinang pos

Krisis air bersih di Kota Tanjungipinang dan Bintan sudah masuk stadium I.  Krisis air ibarat sudah sakit parah. Namun, masih ada obatnya dengan pembangun Waduk Kawal di Bintan.

DOMPAK – Hal ini diungkapkan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, kemarin.

”Pembangunan Waduk Kawal di Bintan terbentur masalah lahan. Sebagian lahan yang akan dijadikan peruntukan waduk adalah milik perusahaan, masyarakat dan hutan lindung,” kata Nurdin Basirun.

Mantan Bupati Karimun ini, mengatakan, sebesar apa pun persoalan lahan itu harus dicari solusinya. Waduk itu harus dibangun karena Pulau Bintan sudah krisis air.

Ia mengibaratkan, krisis air di Tanjungpinang ibarat sudah sakit parah sudah mau masuk ruang Intensive Cardiologi Care Unit (ICCU). ”Sudah stadium 1. Belum, belum stadium 4,” ujarnya.

Pembahasan awal, pembangunan Waduk Kawal dikeroyok Pemprov Kepri, Pemkab Bintan dan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satker Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) IV Sumatera.

Namun, dalam perjalanannya, Pemkab Bintan tidak menganggarkan biaya pembebasan lahan dengan alasan defisit. Sehingga, pembangunan waduk itu belum terealisasi sejak didengungkan tiga tahun silam.

Ditanya ke gubernur soal biaya pembebasan lahan itu, Nurdin mengatakan akan membicarakannya lebih lanjut dengan pihak Pemkab Bintan. Namun pada prinsipnya, Pemprov Kepri siap membantu.

”Kalau tak mampu seluruhnya, kita bantu. Kita anggarkan nanti di APBD,” tegasnya

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappe Litbang) Pemprov Kepri, Naharuddin mengatakan, jika gubernur menginginkan pembebasan lahan Waduk Kawal diatasi Pemprov, maka ia akan memasukkannya di APBD 2018 nanti.

”Apa yang menjadi keinginan pak gubernur, harus kita laksanakan. Apalagi ini menyangkut kebutuhan masyarakat banyak,” jelasnya.

Memang, kata Pak N, panggilan akrab Naharuddin, pembangunan Waduk Kawal itu awalnya masuk di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Tapi, karena krisis air makin sulit kondisinya, akhirnya pembangunan Waduk Kawal digeser dan dipercepat menjadi Rencana Pembangunan Jangka Pendek Daerah (RPJPD).

Dalam pembagian tugas pembangunan Waduk Kawal, Kementerian PU akan membangun bendungan waduk serta memperdalam lahan penyimpanan air itu sendiri. Kemudian membangun IPA (Instalasi Pengolahan Air)

Sedangkan Pemkab Bintan mengatasi ganti rugi lahan dan Pemprov Kepri membangun jaringan pipa dari IPA ke Tanjungpinang dengan panjang sekitar 60 Km.

Adapun kapasitas produksi air bersih dari waduk tersebut sekitar 400 liter per detik dengan luas lahan waduk mencapai 300-350 hektare. Sebagian besar lahan ini harus dibebaskan. Sebagian merupakan hutan lindung.

Studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) waduk ini sudah pernah dilakukan beberapa tahun lalu. Saat itulah diperkirakan, produksi airnya bisa mencapai 400 liter/detik.

Bukti Tanjungpinang sedang krisis air adalah, banyaknya calon pelanggan PDAM Tirta Kepri yang belum bisa disambung lantaran produksi air bersih tak mencukupi.

Saat ini, waiting list (daftar tunggu) pelanggan PDAM Tirta Kepri mencapai 7.500 sambungan. Jumlah ini akan terus bertambah seiring pembangunan perumahan juga bertambah.

Ada pun sumber air bersih di Tanjungpinang berasal dari Waduk Sei Pulai dengan kapasitas produksi 200-250 liter per detik dan Waduk Gesek dengan kapasitas 100 liter per detik. Produksi air bersih Waduk Kawal pasang surut. Saat musim hujan, bisa memproduksi hingga 250 liter per detik. Namun, saat musim kering produksi akan turun sesuai kondisi air baku di waduk.

Sedangkan dua mesin super mahal yakni Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam Tanjungpinang, dibangun dengan anggaran puluhan miliar belum dioperasikan meski sudah rampung dua tahun silam.

Mesin yang mengolah air laut (asin) menjadi air tawar ini dibangun dengan dua mesin masing-masing kapasitas 25 liter per detik (2X25). Kemudian, ada Reverse Osmosis (RO) dibangun di Penyengat dengan kapasitas 5 liter per detik.

Pembangunan RO lebih duluan selesai dibandingkan SWRO. Tapi tetap saja belum berguna bagi masyarakat. Seakan tidak ada solusinya.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here