Krisis Karakter: Tantangan Kurikulum 2013

0
54
Sugeng Fitri Aji, M.Pd.I

Oleh: Sugeng Fitri Aji, M.Pd.I
Guru SMA Negeri 3 Lingga dan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Lingga.

Sudah seharusnya kita prihatin terhadap kondisi negeri ini. Berbagai permasalahan bangsa terus muncul silih berganti tanpa henti. Krisis moral atau karakter, seakan menjadi momok penyebab pangkal permasalahan negeri ini yang seakan tak akan pernah mandeg.

Setiap hari di media televisi maupun surat kabar, kita selalu disuguhi dengan berita-berita tentang kasus korupsi, suap, penyalahgunaan berita hoax, penyalahgunaan obat terlarang (narkotika), kriminalitas, kemiskinan, serta tawuran antar pelajar, yang seolah-olah sudah menjadi gaya atau model pembelajaran generasi muda saat ini termasuk kian memanasnya suhu politik menjelang pemilu Presiden 2019.

Tantangan Kita Bersama
Salah satu penyebab karut-marutnya bangsa saat ini adalah karena faktor krisis kejujuran, nasionalisme, minimnya pemimpin yang dijadikan panutan dan teladan, pembiaraan media elektronik dan tanyangan iklan televisi yang kurang mendidik serta lebih tragisnya lagi seakan tanyangan-tanyangan itu hanya mendorong pada pola hidup mewah tanpa harus bekerja keras. Berkembanganya budaya asing yang tidak terfilter yang berdampak pada menggrogoti budaya pribumi (kearifan lokal).

Tekanan budaya luar yang berangkat dari arus globalisasi begitu kuatnya tanpa diimbangi dengan upaya mempertahankan dan menanamkan budaya lokal serta nilai-nilai agama sebagai benteng moral generasi muda penerus bangsa. Seolah-olah globalisasi disambut gegap gembira, namun kita lupa bahwa di balik itu terdapat banyak ancaman yang sewaktu-waktu dapat merugikan kita, terutama bobolnya benteng moral anak bangsa. Inilah tantangan berat kita bersama dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah.

Melihat tantangan dan ancaman tersebut, kiranya harus diperhatikan oleh semua pihak untuk berpikir bersama dalam mencari solusi-solusinya. Tentu peran dunia pendidikan lah yang menjadi elemen paling strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh dan mandiri (berkarakter).

Nampaknya, hal ini sudah direspon positif oleh Kemendikbud melalui kehadirannya kebijakan baru tentang kurikulum 2013. Melalui penguatan kurikulum 2013 yang berbasis karakter (sikap) dan pembelajaran tematik, penulis yakin jika hal ini bisa dimaksimalkan dan optimalkan oleh seluruh lembaga pendidikan dengan baik, maka pada akhirnya generasi-generasi muda bangsa akan menjadi generasi emas di tahun 2025 kelak.

Tak kalah penting juga perhatian orang tua yang sejak dini mengawal perkembangan dan pertumbuhan putra-putrinya agar mampu membedakan budaya yang berpengaruh buruk dan baik terhadap diri mereka, lingkungan, agama, dan bangsa ini pun tidak kalah pentingnya. Sehingga kita dapat mengoptimalkan peran semua elemen yaitu informal (keluarga), non formal (masyarakat) dan formal (sekolah).

Sukses Penerapan, Sukses Pengawasan, Sukses Evaluasi
Singkat penulis, permasalahan krisis karakter harus jadi prioritas perhatian bersama semua pihak dan stakeholder dalam pembangunan bangsa sekarang ini. Karana jika tidak, maka bisa terlambat, dan akan berakibat lebih fatal lagi, yaitu hancurnya negeri ini karena kehilangan karakter bangsanya.

Di sinilah tantangan dari kurikulum 2013 di era globalisasi saat ini. Sehingga, untuk mensukseskan dan membentuk generasi emas penerus bangsa, maka implementasi kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan harus benar-benar dilakukan dengan sukses mulai dari sukses penerapan, sukses pengawasan dan sukses evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Hal ini menjadi sangat penting, karena tidak sedikit kegagalan-kegalan terjadi bukan karena konsepnya yang kurang baik dan bagus. Melainkan biasanya konsep yang sudah baik, namun terkadang dalam implementasi masih berantakan karena tidak ada pengawasan dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here