Kultur Tanah Membuat Petani Tak Minat Tanam Pisang

0
855
Raja Khairani

TANJUNGPINANG – Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Tanjungpinang, Raja Khairani mengatakan, para petani kurang berminat mau menanam pisang tanduk karena tidak sesuai dengan kultur tanah. Tanah di Tanjungpinang sebagian besar mengandung bauksit yang membuat tidak subur. Dengan demikian, para petani merasa rugi bila memaksakan menanam pisang.

Sehingga wajar bila para pedagang mendatangkan pisang tanduk dari luar daerah. Meski demikian bukan berarti tidak ada petani di Tanjungpinang, tetap ada tetapi lebih kepada jenis lainnya. Sayur-mayur serta cabai dan bahkan kini ada yang menanam padi. ”Salah satu faktornya kultur tanah kita di Tanjungpinang tak subur. Itu saja. Sebenarnya para petani kita itu mau saja menanam namun yang hasilnya tidak produktif,” kata Raja Khairani kepada Tanjungpinang Pos, Senin (11/9).

Berbeda, kata dia, dengan kultur tanah di daerah Guntung, Bintan yang terbilang subur. Sehingga menanam pisang tanduk dinilai tak rugi karena tak butuh biaya besar untuk memupuk dan lainnya. Sedangkan petani Tanjungpinang yang harus mengeluarkan biaya besar bila ingin menanam pisang. Tidak sebanding dengan hasilnya karena berbuahnya cuman sekali dan buahnya mayoritas satu tandan.

Untuk proses pengelolaan lahan memerlukan biaya yang besar. Ini yang membuat para petani memilih jenis tanaman lainnya. ”Bisa mencapurkan sejenis pupuk atau lainya. Metode penyuburan tanah juga sudah ada,” ungkapnya. Sebelumnya, salah satu penjual pisang di Pasar Bestari Bintancentre (Bincen) Tanjungpinang, Awal Ginting mengaku dalam sehari bisa menjual 60 smapai 80 kilo per hari. Dengan harga sekitar Rp 10 ribu per kilo. (dri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here