Kurang Kios, PKL Menjamur

0
523
BERJUALAN: Salah satu pedagang sayur dan bumbu di Kota Lama sedang berjualan di lapak miliknya. f-raymon/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – PEMERINTAH sering mengeluhkan menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di beberapa kawasan. Diantaranya Jalan Gambir, Potong Lembu, trotoar jalan serta lainnya di Tanjungpinang. Padahal, sudah seharunya mereka mendapat dukungan, dalam bentuk tempat yang layak, pembinaan dan mungkin modal.

Hal ini dikatakan anggota Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang, Reni. ”Ditengah kondisi ekonomi saat ini, pelaku usaha mikro sangat berperan membangkitkan ekonomi ditengah masyarakat,” paparnya.

Sehingga wajar jika para PKL mendapat perhatian, minimal tempat yang layak.
Bicara hal ini tentu perlu konsep atau penataan. Pemerintah dapat mengandeng pihak swasta atau memperdayakan PT Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) selaki BUMD yang mengelola.

PT TMB dapat memaparkan berapa jumlah meja, kios atau lapak yang ada, berapa yang tersisi dan kini tidak digunakan. “Banyak masyarakat bertanya, ada kios atau tidak, berapa sewa dan lainnya. Ini perlu peran PT TMB untuk nenjelaskan,” paparnya.

Bagi pelaku mikro, penggunaan kios atau meja PT TMB yang tepat, sebab sewanya pasti lebih murah dari kios atau ruko umum. Pengawas PT TMB, Zohran menyebutkan mulai dari awal 2016 sampai sekarang ini tidak ada penambahan meja baru dan penambahan pedagang baru. ”Tidak ada penambahan jumlah kios yang di sewa,” paparnya.

Mungkin masyarakat mengira sewa lapak meja atau kios di PT TMB mahal, padahal sangat terjangkau. Misalnya untuk lapak meja sayu di Kota Lama hanya Rp 6 ribu per hari. Untuk meja pedagang daging ayam senilai Rp 165 ribu dan pedang ikan sekitar Rp 360 ribu per bulan.

Bagi pedagang sayur yang ingin berjualan dapat menghubungi PT TMB dengan mendatangi kator yang beralamat di Potong Lembu. ”Kita liat saja di pasar Kota Lama dan Bincen banyak PKL, padahal kalau mau memiliki lapak bisa saja agar nyaman,” paparnya.

Salah satu pedagang Bambang menyebutkan, jika ia menyewa lapak bukan dari PT TMB, melainkan pihak ke tiga. Terkait hal ini, PT TMB sudah berjanji ingin menyelesaikan, realitanya hingga kini masih dalam proses pendataan. ”Belum ada kejelasan sampai kini, padahal praktek ini sudah lama ada,” tuturnya singkat.(DESI-EDO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here