Kurangi Mercuri, Pilih Tuna Kecil untuk Dikonsumsi

0
89
Meyliana Anastasya Rumapea

Oleh : Meyliana Anastasya Rumapea
Mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan UMRAH, Tanjungpinang

Tuna adalah salah satu jenis ikan pelagis besar selain tongkol dan cakalang. Memiliki ukuran yang besar, ikan tuna juga memiliki rasa yang lezat.

Ikan tuna mudah ditemukan di perairan laut Indonesia terutama di NTT dan selatan Pulau Jawa. Ikan ini menawarkan harga yang sebanding dengan kelezatan pada dagingnya. Konsumen dipastikan tidak akan merasa rugi mengeluarkan budget yang besar untuk merasakan kelezatan ikan ini.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2014 tercatat bahwa, Indonesia merupakan negara dengan potensi tuna tertinggi di dunia.

Total produksi tuna mencapai 613.575 ton per tahun dengan nilai sekitar Rp6,3 triliun.

Berdasarkan data Food and Agriculture Oganization (FAO) dalam State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) pada tahun 2016, Indonesia menyumbang hampir 16 persen atau 1,1 juta ton dari total sekitar 7,7 juta metrik ton tuna di seluruh dunia. Data-data di atas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki produksi ikan tuna yang sangat besar.

Harga ikan tuna di setiap daerah berbeda-beda tergantung musim dan jumlah tangkapan ikan tuna tersebut.

Harga ikan tuna sirip biru dengan kualitas standar per kilo di Indonesia bisa mega Rp120.000 per kilo.

Untuk harga ikan tuna sirip kuning kualitas standar biasa dibandrol di pasaran seharga Rp100.000 per kilo. Sedangkan harga ikan tuna sirip kuning kualitas super dan siap ekspor dijual seharga Rp120.000 per Kg.

Kata tuna sendiri telah dipakai oleh satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau yaitu Kabupaten Natuna.

Sebenarnya ada banyak versi yang menceritakan asal mula nama Natuna. Salah satu versi mengatakan bahwa Natuna berasal dari kata tuna. Hal ini dikarenakan mudahnya mendapatkan ikan tuna di daerah ini. Bahkan, olahan makanan masyarakat sekitar rata-rata berasal dari ikan tuna.

Kelezatan ikan tuna yang sangat menggiurkan tentu saja memikat para konsumen untuk segera mencicipi dagingnya yang lezat.

Kelezatannya membuat lidah ingin mencoba lagi dan lagi. Namun tahukah bahwa di balik kelezatannya, ikan tuna ternyata mengandung bahan yang berbahaya bila dikonsumsi secara terus menerus dan dalam porsi yang banyak?

Setelah dilakukan penelitian, ditemukan kandungan merkuri pada tubuh ikan tuna. Sebenarnya kandungan merkuri tidak hanya ditemukan di tubuh ikan tuna.

Hampir semua ikan yang berada di lautan mengandung merkuri, hanya saja kandungannya lebih sedikit. Namun karena ukuran ikan tuna yang besar, kandungan merkurinya juga bisa dipastikan lebih banyak dibandingkan ikan yang bertubuh kecil.

Merkuri adalah salah satu jenis logam berat yang bersifat toksik pada tubuh. Merkuri merupakan unsur yang bersifat cair pada suhu kamar 25 derajat celcius. Merkuri terdapat di lautan, udara, dan bebatuan.

Merkuri yang tertelan pada tubuh manusia dalam porsi kecil, tidak memberikan dampak secara langsung. Namun jika kadar merkuri dalam tubuh sudah melewati batas normal, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Kanker bahkan kematian merupakan dampak terburuk dari banyaknya kandungan merkuri di dalam tubuh.

Ikan tuna putih merupakan spesies ikan tuna dengan kadar merkuri tertinggi. Kadar merkuri ini sebenarnya diperoleh dari makanan yang dikonsumsi oleh ikan tuna sendiri.

Ikan tuna merupakan salah satu ikan yang berada di tingkatan teratas rantai makanan, yang artinya ikan tuna menjadi penampung dari merkuri-merkuri yang sudah terkandung pada komponen penyusun rantai makanan di bawahnya.

Ukuran tubuh ikan tuna mempengaruhi kadar merkuri yang di kandungnya. Semakin besar tubuh ikan tuna, maka semakin banyak kandungan merkuri pada tubuhnya.

Selain ukuran tubuh, umur ikan tuna juga mempengaruhi kadar merkuri di tubuhnya. Ikan tuna yang umurnya sudah tua lebih banyak mengandung merkuri.

Hal ini dikarenakan tuna tersebut telah mengkonsumsi banyak ikan yang mungkin tercemar merkuri selama hidupnya.

Untuk mengonsumsi ikan tuna, ada takaran yang dianjurkan oleh pakar kesehatan. Karena ikan tuna putih mengandung merkuri yang tinggi, maka tidak disarankan mengonsumsi lebih dari 150 gram per bulan.

Sedangkan untuk ikan tuna putih kalengan, tidak dianjurkan lebih dari 300 gram dalam seminggu. Anak-anak berusia 7 tahun ke bawah tidak dianjurkan mengonsumsi ikan tuna lebih dari 50 gram per minggu.

Sedangkan anak-anak berusia 8 tahun ke atas tidak dianjurkan mengonsumsi ikan tuna lebih dari 75 gram per minggu.

Kandungan merkuri pada ikan tuna tidak akan hilang bagaimanapun cara pengolahannya. Artinya jika kita mengonsumsi ikan tuna, berarti kita memindahkan kadar merkuri tersebut ke dalam tubuh kita.

Semakin banyak kita memakan ikan tuna, berarti semakin banyak merkuri yang kita masukkan ke dalam tubuh kita. Bisa dikatakan seperti menimbun racun di dalam tubuh, yang sewaktu-waktu dapat membunuh si penimbun racun tersebut.

Namun, bukan berarti tidak boleh mengonsumsi ikan tuna. Boleh saja. Namun dengan porsi secukupnya. Jangan karena kelezatannya kita sampai mengesampingkan kesehatan kita.

Menjadi konsumen cerdas adalah satu-satunya cara untuk menghindari bahaya merkuri. Memilih ikan tuna yang berukuran kecil, sangat dianjurkan karena kadar merkuri yang dikandungnya masih sedikit.

Selain itu mengkonsumsi ikan tuna juga harus memperhatikan rentang waktu. Jangan mengonsumsi ikan tuna dalam waktu yang berdekatan.

Menjadi sehat adalah suatu pilihan. Jangan abaikan kesehatan hanya untuk kenikmatan sesaat. Kesehatan itu mahal harganya.

Jika tubuh sudah sakit, maka selezat apapun makanan yang tersaji akan terasa hambar. Jadi, untuk dapat terus merasakan kelezatan setiap sendok makanan, menjadi sehat adalah kuncinya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here