Kuras Air, Datangkan Petugas Pemadam Kebakaran

0
817
AIR Masuk KELAS: Siswa SMPN 28 Batam sibuk menguras air yang menggenangi kelas mereka. F-ISTIMEWA

SMPN 28 Batam Diterjang Banjir

SMP Negeri 28 Batam di Batamcenter sempat hilang dari pemberitaan media massa. Dulu, SMP ini jadi lokasi berburu berita kuli tinta saat hujan deras turun.

BATAM – FOTO-FOTO banjir selalu menghiasi halaman utama berbagai media massa di Batam setiap kali hujan turun. Setelah dua tahun belakangan ini jarang kedengaran, tiba-tiba sekolah ini kembali jadi perbincangan. Akibat hujan turun, Kamis (17/8) hingga Jumat (18/8) kemarin, sekolah ini kembali dilanda banjir. Tidak tanggung-tanggung, air bandang memasuki kawasan sekolah.

Sehingga, semua ruangan belajar banjir. Bahkan, seluruh buku-buku, sebagian alat elektronik seperti komputer ludes disapu banjir. Belasan komputer dan lima infokus rusak. Hingga kemarin, siswa belum bisa belajar. Guru, siswa harus gotong-royong menguras air di sana. Bahkan, harus didatangkan bantuan dari petugas Badan Pemadaman Kebakaran untuk membantu memadamkannya.

Hujan yang mengguyur Batam, Kamis (17/8) hingga Jumat pagi, menyebabkan ruang kelas dan ruang guru terendam banjir, hingga terpaksa siswa sekolah itu gotong royong melakukan pembersihan. Bahkan di ruang guru, Jumat (18/8), sejumlah buku terendam banjir, termasuk komputer dan alat musik. Peralatan perkantoran diruang guru itu terendam karena diperkirakan air sekitar 1 meter lebih.

Baca Juga :  April, Impor Migas Kepri Bengkak

Bekas rendaman air setinggi itu terlihat dari dinding. Saat siswa dan guru tiba di sekolah itu, masih banyak air di ruangan. Menurut Kepala Sekolah SMPN 28, Boedi Kristijorini, banjir kali ini paling parah sejak sekolah itu berdiri. Dimana, banjir terjadi saat hujan deras sehari sebelumnya dengan ketinggian di atas 1 meter.

Malam itu, dirinya sempat meninjau sekolah yang dipimpinnya tersebut. Saat itu dia melihat air merendam sekolah itu hingga sepinggang. ”Sempat saya periksa ruangan. Semua terendam. Buku dan meja terapung, semua habis yang ada di ruangan,” kata Boedi Kristi.

Diceritakannya, ada sekitar tujuh ruang kelas yang terendam banjir. Menurutnya banjir karena air tumpah dari drainase daerah Taman Raya tahap 4. Dimana, saluran drainasenya kecil dan melalui sekolah itu. Selain itu, ada air juga dari depan Taman Raya tahap 3 yang posisinya menurun sehingga air ke arah sekolah itu. ”Dulu sudah dibuat drainase, tapi belum bisa mengatasi banjir. Sudah 11 tahun banjir, kondisinya seperti ini,” bebernya.

Baca Juga :  Baru Launching, Suzuki XL7 Terjual 20 Unit

Menurutnya, untuk mengatasi banjir di sekolah itu, harus ada penimbunan. Jika tidak dilakukan pemindahan sekolah ke lokasi baru. ”Tapi warga pasti kurang setuju kalau dipindahkan. Kalau ditimbun, butuh biaya besar,” bebernya.

Di tempat berbeda, Wali Kota Batam, HM Rudi mengatakan, sudah menugaskan Kepala Dinas Pendidikan Batam, Muslim Bidin ke lokasi sekolah itu. Menurut Rudi, solusi yang memungkinkan diambil, hanya melalui penimbunan. ”Solusi cuma satu ditimbun lantai satu,” ungkap Rudi.

Sementara untuk menggunakan pompa, menurut Rudi dimungkinkan. Hanya saja diingatkan, untuk pompa, risikonya juga tinggi. Karena harus menyiapkan tempat pompa, sehingga tidak terendam saat banjir. Selain itu, biaya pengoperasian dan pemeliharaan juga penting. Dan saat pompa rusak dan hujan deras turun, maka sekolah akan banjir lagi. ”Kalau pompa, lama-lama pompa rusak juga,” bebernya.

Baca Juga :  Sepakat, Tarif Tiket Pesawat Turun

Sehingga menurut Rudi, paling tepat, dengan menimbun ruang kelas satu lantai. ”Kalau lantai satu ditimbun selesai masalah. Rencana timbun lantai satu dan bangun satu lagi. Tentu konsultan yang akan menghitungnya (anggaran),” imbuh Rudi.

Pihak sekolah tak mengira hujan deras diiringi petir sejak Kamis sore akan membuat sekolah itu terendam. Selain kerusakan alat elektronika, sejumlah ijazah siswa yang baru tamat Juni lalu dan belum mengambil ijazahnya, ikut ludes. Untuk membersihkan sekolah itu, diperlukan waktu sedikitnya 2-3 hari. Karena bukan hanya menguras air, tapi banyak sampah dan lumpur mengendap di lantai sekolah. Kemungkinan aktivitas belajar mengajar di sekolah itu akan kembali normal, Senin (21/8) pekan depan. Jumat kemarin, siswa tak belajar. Mereka membantu membersihkan sekolah.(MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here