Kursi adalah Kunci

0
51

SELAIN perangkat komputer dan seabrek buku-buku bagus, yang diperlukan penulis adalah tempat menulis yang nyaman. Memang, ini relatif. Nyaman bagi saya, belum tentu bagi penulis lain. Pun sebaliknya. Satu yang pasti: nyaman adalah kunci. Saya kira, kenyamanan bagi penulis itu bisa bersumber dari meja dan kursi yang digunakan. Menulis, memang ada kalanya, lesehan atau cukup dengan gawai di tangan. Tapi tidak ada yang mengalahkan kenikmatan menulis dengan kursi dan meja yang pas. Mejanya kukuh, kursinya empuk. Betah.

Maka untuk urusan dua hal ini, saya dikenal sebagai penulis yang bawel. Kenyamanan meja saya ukur dari ketepatan posisi bidang datarnya dengan posisi saya duduk. Terlalu tinggi bikin sakit tangan, terlalu rendah bikin sakit punggung. Kedai-kedai kopi yang sering saya kunjungi sudah pasti punya komposisi meja yang pas untuk menulis dan ini faktor saya untuk terus-terusan kembali, selain kopi yang enak sudah pasti.

Saya harus akui, meja di kos saya belum dapat dikatakan nyaman. Posisinya sedikit terlalu rendah dari posisi saya duduk. Agak membosankan dan menyakitkan lama-lama menulis di sana. Belum lagi ruang geraknya yang sempit. Maklum saja, di kos, saya menggunakan meja belajar ala anak sekolahan. Bidang datarnya tidak lebih dari 40 x 60 centimeter dengan rak buku di bagian atasnya. Jujur, ini bukan jenis meja yang saya inginkan. Tapi, untuk sementara waktu harus bisa diandalkan. Meja dengan kaki-kaki kukuh, berbidang lapang, dan posisi ketinggian yang pas itu mahal harganya. Cek saja di toko furnitur atau pasar seken. Tidak akan pernah kurang dari Rp 500 ribu. Itu belum termasuk ongkos angkutnya. Karena itu, untuk sementara waktu, saya lebih gemar membenamkan diri di kedai-kedai kopi.

Saya pernah masuk ke kantor seorang kepala dinas untuk melangsungkan sesi wawancara. Saya sama sekali tidak tertarik dengan foto-fotonya yang mentereng di luar negeri, sertifikat berkelas, atau mesin pembuat kopinya yang terpajang di sana. Tapi mata ini berbinar melihat meja lapang berbahan dasarkan kayu yang tampak cokelat tua berkilat dan ada bagian kaca di atasnya. Dengan meja seluas hampir sebidang papan tenis meja, saya membayangkan bisa meletakkan satu unit layar ukuran 29 inci, agak di sebelah kanan dari posisi duduk, lalu mengosongkan sedikit di bagian depan untuk komputer jinjing. Sementara di bagian sisi lain, saya bisa mendirikan berderet-deret buku bacaan yang sedang saya suntuki. Oh iya, tentu harus ada titik khusus tempat saya meletakkan gelas kopi dan asbak berbahan kaca. Kenyamanan yang hakiki.

Saya tanyakan harga meja semacam ini kepada narasumber di muka. Ia mendeham dan tidak tahu. Tak masalah, setidaknya saya sudah memotret sepintas dan berharap kelak punya meja kerja yang sama di masa depan.

Tapi meja yang bagus tinggallah meja yang bagus jika tidak dibarengi dengan kursi yang aduhai. Urusan ini bisa lebih pelik ketimbang memilih meja. Kursi yang nyaman sudah pasti terbuat dari kulit yang menyampuli gundukan busa, lalu ada penyangga tangan di kanan-kiri, dan sebagai bonusnya bisa diayun-ayun sebagai pengusir lelah yang menyita setelah lama-lama duduk di sana.

Saya kira, harga kursi bisa lebih murah dari meja. Nyatanya tidak. Malah bisa sampai dua kali lipat. Hampir lebih dari empat tahun menulis, saya hanya bisa duduk di atas kursi plastik sebagaimana yang ada di pesta pernikahan. Agaknya, hanya kursi jenis ini yang murah dan punya posisi ketinggian paling pas dengan posisi duduk saya. Tapi celakanya, bahan dasarnya yang plastik membuatnya meliuk ketika semakin lama diduduki. Pernah sekali, saya nyaris terjengkang ketika asyik menulis. Sejak saat itu, saya berjanji tidak lagi menggunakannya. Karena tahu kursi yang nyaman itu mahal, mengapa tidak untuk mencari yang bekas belaka. Asal masih mampu menyajikan kenyamanan sesuai patokan saya, tidak ada masalah. Putar-putar keliling pasar, saya dapat jua kursi warna hitam kusam. Ya, namanya saja bekas, tapi per di bagian bawahnya masih berfungsi. Setelah proses panjang tawar-menawar, akhirnya harganya bisa turun separo.

Importir barang bekas dari Singapura itu melunak setelah saya memberi tahukan profesi saya sebagai penulis. Kata dia, perawakan saya lebih pantas menjadi preman pasar dan memerlukan kursi yang nyaman sembari menunggu setoran. Tapi, setelah tahu pekerjaan saya, ia memberikan harga khusus. “Kamu pelanggan pertama yang seorang penulis,” ucapnya. Di sini saya jadi tahu, masih ada banyak ruang lain bagi para penulis di dunia ini, sekali pun hanya di hadapan pedagang barang seken.

Sejak saat itu, saya punya kursi yang jauh lebih nyaman dari sekadar kursi plastik. Walau kombinasinya belum sempurna lantaran meja yang seadanya, setidaknya, saya sudah bisa betah duduk berlama-lama dan berayun-ayun ketika bosan datang. Inilah singgasana terbaik saya sebagai seorang penulis.

Ada seorang teman menyarankan agar saya berpose sembari menginjak kursi bekas di kamar. Kata dia, foto semacam ini sedang viral. Mana tahu, potret seorang penulis dan menginjak kursi kerjanya bisa ikut tenar. Saya agak ragu memenuhi saran ngawur itu. Ketenaran penulis, saya yakin cuma bersumber satu: karyanya. Jika karena lain hal, itu hanya sensasi recehan.

Saya menolak saran itu. Karena saya ingat perjuangan yang saya tempuh agar bisa memboyong kursi bekas ini ke kos. Belum lagi penatnya mengangkat ke lantai dua yang bikin keringat bercucuran. Setelah sederet proses itu, akankah saya kemudian menginjaknya dan tersenyum lebar ke arah kamera. Oh tidak! Kalau sampai hal semacam itu tayang di media sosial (apalagi viral), saya merasa saya seperti menodai mimpi saya sendiri bisa memiliki kursi tersebut. Sebaik-baiknya perayaan yang bisa saya lakukan terhadap kepemilikan kursi bekas itu, adalah dengan betah lama-lama duduk di sana dan menulis sebuah karya. Bukankah sudah menjadi kodrat sebuah kursi buat diduduki dan bukan buat diinjak?

Orang lain mungkin bisa melakukannya. Saya tidak. Jika kursi adalah lambang feodalisme, yang harus dipersalahkan adalah persepsi yang terbangun dari hiruk-pikuk demokrasi kita. Untuk menyebut sebuah kekuatan dalam tubuh legislasi, orang mengistilahkannya dengan kursi. Semakin banyak hitungan kursi yang diduki, semakin digdaya kuasanya. Istilah kursi ini seingat saya belum bergser sampai hari ini. Mereka berebut-rebut kursi kekuasaan setiap lima tahun sekali. Maka, ketika sudah dipastikan mendapatkan kursi, mereka datang ke kantor untuk menduduki, menikmati kulitnya, empuknya, dan ayunannya. Sayang, mereka tidak menulis cerita atau puisi dari kursi sebagus itu.

Di sekolah, dulu juga amat dilarang menginjak kursi dan berdiri di sana. Guru bisa mencubit atau memukul dengan penggaris jika sampai ada murid yang nekat. Barangkali itu sebuah bentuk perlawanan, persis sebagaimana yang ditampilkan di film Dead Poets Society itu. Kalau saya diharuskan foto dengan pose menginjak kursi, tentu saya harus melakukannya sebagai sebuah perlawanan terhadap sesuatu. Jika tanpa alasan, saya khawatir dianggap gila dan mengumbar kepongahan.

Toh sebagai muslim, saya selalu berpendapat kursi adalah perkakas yang mulia. Ia diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menunaikan kerja-kerjanya. Belum lagi, saya juga masih hapal potongan QS Albaqarah yang disebut Ayat Kursi. Konon, semasa kecil dulu saya diberitahu, setan-setan amat takut dan akan terbakar ketika dilantunkan ayat-ayat ini. Maka, ketika teman saya meminta saya melakukan pose menginjak kursi, saya buru-buru melafalkan Ayat Kursi. Mungkin teman saya sedang kerasukan setan dan untuk itu perlu dirukyah dengan Ayat Kursi.***

OLEH: FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here