Langkah Membangun Minat Membaca

0
875
Rindi Afriadi

Nama: Rindi Afriadi
Warga Kampung Bugis Tanjungpinang Kota

Jumlah penduduk di Indonesia ada 237.641.326 jiwa. Data ini menurut sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan oleh badan pusat statistik. Berangkat dari asumsi jumlah penduduk ini, jika menggunakan data pertumbuhan penduduk Indonesia yang dikeluarkan oleh bank dunia, yakni 1,21% per tahun, maka jumlah penduduk Indonesia paa 2016 ini sudah jadi 256.511.495 jiwa.
Akan tetapi jumlah penduduk yang banyak ini bukan menumbuhkan citra baik bagi Indonesia.

Ini dibuktikan dengan rendahnya peringkat minat baca masyarakat Indonesia. Dalam data World‘s Most Literate Nations, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Peringkat tersebut merupakan hasil penelitian dari Central Connecticut State University 2016. Selain itu, pada tahun 2016 UNESCO melansir index tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001 persen. Itu artinya dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Minat membaca masyarakat Indonesia sangat memperihatinkan. Ini akan berimbas kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Penyebabnya karena orang-orang tuanya malas membaca dan akan menciptakan generasi yang juga malas membaca. Ini terjadi akrena anak adalah seorang peniru ulung. Tokoh yang paling banyak ditiru anak-anak adalah prilaku orangtuanya. Setiap saat mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, dan pikirannya mencerna apapun yang orang di sekitarnya. Ya termasuk apa saja yang dilakukan orangtuanya.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan perilaku meniru, karena pada dasarnya meniru adalah proses pembelajaran alami semua makhluk hidup kata Rosdiana Styaningrum, M.Psi, MHPEd, (pisokolog anak dan keluarga) Mulai usia 3 tahun, anak meniru perilaku, sopan-santun dan bahasa, perbuatan yang sering dilakukan dan sering diperintahkan. Pasti akan menjadi mata rantai yang tidak akan pernah usai dan putus masalah malas dalam membaca ini jika orang tua sebagai agen sosial pertama di dalam kehidupan tidak pernah mencontohkan budaya membaca, memerintahkan membaca dan selalu rajin membaca.

Baca Juga :  Perang Melawan Hoaks

Kita sama-sama mengetahui bahwa anak merupakan aset yang berharga bagi masa depan bangsa. Mereka sebagai tunas, potensi, dan generasi muda. Penerus cita-cita perjuangan bangsa harus diasuh, dilindungi, dan dididik dengan baik. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindugan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Nyatanya tidak semua orang tua mampu atau mau mendidik anaknya agar berkembang menjadi tunas dan potensi bangsa sebagi penerus cita-cita bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya anak-anak yang berumur 6-12 tahun setelah keluar dari agen sosial pertama yaitu keluarga melakukan perilaku menyimpang bisa kita lihat perkembagan mental anak-anak, khususnya anak-anak yang berusia 12 tahun atau anak-anak yang sedang duduk dibangku kelas 6 SD.

Mereka seakan kehilangan jati diri sendiri, jenjang usia 12 tahun merupakan proses menuju remaja. Akan tetapi perilaku mereka tidak menunjukan kepolosan anak-anak yang hendak beranjak remaja. Misalnya, sekarang anak-anak usia 12 tahun banyak yang sudah berpacaran. Anak SD zaman kini telah melakukan seperti halnya anak remaja berpacaran. Bahkan mereka tidak memiliki rasa malu untuk berpacaran di depan umum. Pada zaman ini pun alat komunikasi berupa handphone bebas tanpa larangan menggunakannya.

Baca Juga :  Antara Rokok, Kerugian Pembeli dan Keuntungan Penjual

Menurut Yusuf Syamsu (2000:37), bahwa keluarga memiliki peranan penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang memberikan penuh kasih sayang dan pendidikan, nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang merupakan faktor yang sangat baik untuk mempersiapkan anak menjadi seorang berkepribadian baik. Oleh karena itu, keluargalah yang sangat menentukan individu menjadi individu yang sehat dari lahir dan batinnya atau tidak. Keluarga merupakan pijakan pertama bagi individu untuk mendapat segala aspek apa pun itu. Akan tetapi, tidak sedikit pula peran keluarga pada perkembagan anak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seperti orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa berperan aktif dalam keluarga, maka orang tua itu fungsi afeksi orangtua kurang berjalan.

Inilah salah satu penyebab mengapa anak-anak yang masih duduk dibangku SD sudah berpacaran dan lain sebagainya. Padahal ini tidak sesuai dengan nilai dan norma. Ini semua akibat tidak adanya contoh yang baik dari orangtua. Saat sang anak berada di rumah dan tak ada aturan bagi anak, semesti orang tua memberikan ajaran yang baik bagi anaknya, termasuk tta keraba, sopan tantun dan menyuruh anak agar rajin belajar.

Menyuruh anak untuk rajin belajar merupakan upada meningkatkan budaya membaca bagi anak, karena keluargalah awal dari anak memulai kehidupan. Jika baik yang diajarankan di dalamnya, maka baiklah di luarnya. Jika buruk ajarannya, maka buruk jualah ia.

Dalam hal ini Bandura dan yusuf (2000:9) mengemukakan bahwa anak-anak belajar melalui observasi atau modeling, terhadap empat proses di antaranya yaitu :
1. Attentional yaitu proses dimana anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku atauprilaku orang yang diimitasinya.
2. Retention yaitu proses yang merajuk kepada upaya anak untuk memasukan informasi tentang segala hal yang ada pada objek yang ditiru anak kedalam memorinya.
3. Production yaitu proses mengontrol tentang bagaimana anak merespon hal yang ditirunya.
4. Motivational yaitu proses pemilihan tingkah laku yang diimitasi oleh anak. Hal ini jelas bahwa anak-anak akan belajar meniru dari apa yang mereka lihat dan mereka ketahui. Setelah mereka tiru, mereka akan merespon dan akhirnya mereka mengaplikasikan tiruan itu pada kehidupan nyata.

Baca Juga :  Plagiarisme di Perguruan Tinggi

Jadi, untuk membangun minat dan kebiasaan membaca anak ialah di mulai dari agen sosial pertama anak yaitu keluarganya. Ayahnya harus memberikan tiruan rajin membaca agar anaknya juga mendapat rangsangan untuk membaca dan ibunya ajarkan ia membaca agar berminat untuk selalu memegang buku dan membacanya.

Dan orang tuanya menanamkan kepada anaknya bahwasannya membaca itu kebutuhan bukan hobby, dan orang tua selalu memberikan hadiah buku untuk anak jika ia melakukan suatu yang baik atau di hari ulang tahunnya bukan mainan saja setiap saat yang diberikan. Dan jauhkan anak-anak dari sinotron yang kurang mendidik ada baik nya jika matikan 1 jam saja saat malam televisi dan jadikan waktu itu untuk waktu mendidik anak-anak dan selalu beri ia semagat dan contoh yang baik. Anak adalah cerminan ayah dan ibunya. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here