Langkah Nyata untuk Menurunkan Jumlah Perokok

0
773
Lia Afiani, S.I.Kom

Lia Afiani, S.I.Kom
Penyuluh BNN Kota Tanjungpinang

Beberapa waktu lalu, BNNK Tanjungpinang mengadakan rapat dengan perwakilan masyarakat di Kota Tanjungpinang. Satu hal yang menarik, seorang ibu perwakilan dari PKK mengungkapkan rasa prihatin atas semakin tingginya jumlah remaja yang menjadi perokok. Dan ibu tersebut meminta solusi dari masalah tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan itu, akan lebih menarik jika kita menyimak dahulu profil sebuah desa bebas asap rokok di Sulawesi Selatan. Bone-Bone, sebuah desa di kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang disebut-sebut sebagai desa tanpa rokok pertama di dunia. Tak hanya dibahas oleh media di dalam negeri saja, profil desa Bone-Bone juga diulas oleh media Eropa, France24.

Program desa bebas asap rokok ini dimulai sejak tahun 2000 dengan keluarnya aturan pemerintah setempat untuk melarang penjualan rokok di desa tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan aturan larangan merokok di tempat umum pada tahun 2003. Merokok harus di dalam rumah dan tidak terlihat oleh warga lain.

Sejak itu, tidak pernah lagi kelihatan warga yang merokok di tempat umum. Tahap selanjutnya yaitu merokok hanya boleh dilakukan di kebun. Aturan ini pun dipatuhi oleh warga. Akhirnya, warga sendiri yang mengajukan tambahan peraturan untuk menolak penggunaan zat pewarna makanan. Baru pada tahun 2006 aturan ini bisa berlaku maksimal dengan diberlakukannya aturan larangan penuh merokok dan jual beli rokok.

Latar belakang ide program desa bebas asap rokok ini berawal dari keprihatinan Kepala Desa yang pada saat itu dijabat oleh Muhammad Idris, yang menemukan fakta bahwa 70% warganya adalah perokok sebelum tahun 2000.

Tingginya jumlah perokok ini dianggap Idris sebagai salah satu faktor penyebab kemiskinan di desanya. Kemudian Idris mengumpulkan warganya dan mengatakan jika pendidikan di desanya tidak akan bisa maju jika masyarakatnya masih saja menjadi perokok. Akhirnya, Idris memutuskan untuk membuat peraturan larangan merokok di wilayahnya.

Kendala yang dihadapi adalah sulitnya menerapkan peraturan tersebut kepada perantau yang kembali ke desanya. Tetapi dengan diberlakukannya sanksi sosial seperti dipaksa menyampaikan permintaan maaf kepada publik melalui pengeras suara, membersihkan rumah ibadah, sekolah, atau lingkungan desa, aturan ini pun masih bisa berjalan. Prestasi desa Bone-Bone ini pun menarik minat Australia dan Jepang untuk melakukan penelitian di sana.

Keberhasilan program desa bebas asap rokok ini diikuti oleh beberapa daerah lainnya seperti di Desa Nagari di Sumatera Barat, Desa Meli, Sumberharu, dan Desa Girikusuma di Lampung, dan kampong Gunung Cariu yang ada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Desa-desa tersebut optimis bahwa program bebas asap rokok tersebut akan berhasil dilaksanakan.

Kisah inspiratif perjuangan desa tanpa asap rokok di atas memang mematahkan pendapat banyak pihak yang sanksi dengan keberhasilan upaya mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia. Menurut ahli kesehatan yang dilansir dari France24, sedikitnya ada 200 ribu orang meninggal akibat merokok di Indonesia. Perokok di Indonesia bahkan menempati posisi ke lima di dunia, menurut World Health Organisations Global Adult Tobacco Survey.

Sekarang kita bisa mengambil sikap dan langkah nyata untuk menurunkan laju aktivitas merokok di kalangan remaja, khususnya di Kota Tanjungpinnag. Kalau di tempat lain saja bisa diterapkan program bebas asap rokok, mengapa tidak kita adopsi program tersebut untuk diterapkan di Tanjungpinang?

Kuncinya adalah tekad kuat untuk menciptakan generasi yang sehat. Setelah tekad, harus diikuti oleh konsistensi pemerintah setempat untuk mendukung berjalannya program ini secara berlanjut. Jika berkaca pada keberhasilan desa Bone-Bone di atas, ternyata tidak banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan program desa bebas asap rokok. Hanya butuh kerja sama antara pemerintah setempat dengan warga : pemerintah mengeluarkan peraturan dan warga dengan penuh kesadaran mematuhi aturan tersebut.

Mungkin yang terjadi saat ini adalah masyarakat dan pemerintah setempat sendiri belum menyadari pentingnya hidup sehat tanpa merokok. Bahwa selain menjadi pemicu terjadinya penyakit kanker, rokok adalah pintu gerbang untuk menyalahgunakan narkoba jenis lainnya. Karena biasanya setelah terbiasa merokok, orang akan lebih mudah mengkonsumsi ganja, yang mana cara pemakaiannya sama dengan rokok, yaitu dilinting lalu dihisap asapnya.

Oleh karena itu, sosialisasi bahaya rokok kepada masyarakat terutama kepada pelajar harus digalakkan oleh instansi-instansi terkait. Mungkin hasilnya tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat, karena mengubah cara berpikir atau kebiasaan masyarakat untuk merokok yang sudah tertanam sejak kecil dan telah menahun tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Tetapi kita tetap harus optimis jika usaha tersebut pasti akan berhasil.

Tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja (masyarakat–red), tetapi pemerintah daerah juga harus membuat peraturan larangan merokok yang tegas dan mengikat semua komponen masyarakat tanpa terkecuali dan menindak tegas semua pelanggarnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here