Lanud Butuh Apron Pesawat Tempur

0
924
SEORANG pilot tempur Hawk 100/200 TNI AU ketika singgah di Lanud RHF Tanjungpinang tahun 2015 lalu saat menggelar Operasi Pertahanan Udara Eyes in the Sky (EIS).f-adly bara hanani/tanjungpinang pos

Dukung Pertahanan Udara dari Ibukota

TANJUNGPINANG – Untuk memperkuat basis pertahanan udara Kepri, maka TNI Angkatan Udara (AU) khususnya Lanud Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang butuh pangkalan aju yang lebih lengkap.

Sebagai unsur pangkalan dari TNI AU, Lanud RHF Tanjungpinang yang kini dikomandani Kolonel Pnb M Dadan Gunawan ST MM menganggap perlu memiliki fasilitas pangkalan aju bagi armada tempur TNI AU di Lanud RHF. Bahkan, rencana ini telah disuarakan oleh tiga perwira sebelumnya yang menjabat Danlanud RHF.

Landasan pacu atau runway Bandara RHF bisa didarati pesawat tempur kelas Hawk dan T-50 Golden Eagle yang dimiliki TNI AU. ”Namun, saat ini diupayakan adanya lahan untuk apron fasilitas pendukung jet tempur ketika melaksanakan patroli udara jika singgah di Lanud RHF,” terang Dadan, kemarin.

Bukan tanpa alasan permintaan adanya apron untuk pesawat tempur. Semua itu bermakna strategis bagi pengamanan udara NKRI khususnya di Kepri. Dadan juga merincikan, saat ini landasan Bandara RHF Tanjungpinang 2.500 meter dan sudah cukup didarati jet tempur Hawk dan T-50 Golden Eagle.

Baca Juga :  Sapta Nugroho Latih Atlet U-15 Kepri

Namun, untuk jenis F-16 bisa mendarat jika keadaan darurat tetapi perlu dipasangi kabel penahan pesawat untuk pendaratan (Arrester Cable). Minimal, untuk pendataran jet tempur kelas F-16 dan Sukhoi yang dimiliki TNI AU paling tidak dibutuhkan panjang landasan 3.000 meter lebih.

Perpanjangan runway Bandara RHF diperlukan bukan untuk kebutuhan penerbangan pesawat komersil saja. Juga untuk persiapan kekuatan pertahanan udara. Sebab, wilayah Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, Vietnam sangat rawan dengan pelanggaran wilayah udara. Perlu adanya landasan pacu pesawat tempur misalnya perlu mengisi apron.

Karena itu, dirinya hingga kini masih terus meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Koordinasi itu diperlukan dalam meningkatkan daya gentar (Deterrence effect) bagi kepentingan aspek pertahanan di Kepri khususnya Tanjungpinang.

Baca Juga :  Angka Kelahiran Anak di Kepri Turun

Menurut data dari Satuan Radar (Satrad) 213 di Kilometer 53 Sri Bintan, Kabupaten Bintan di bawah naungan Kosek Hanudnas I, belum lama ini mereka mendeteksi adanya pesawat asing yang memasuki wilayah Kepri tanpa izin. Kejadian itu tercatat sekitar bulan Maret lalu.

”Karena pilot pesawat tahu telah diendus oleh radar pertahanan yang dimiliki Satrad 213, lantas pesawat tersebut langsung cepat keluar dari wilayah udara Kepri yang termonitor di layar pantau,” jelas Kolonel Pnb M Dadan Gunawan.

Saat ini, diketahui TNI AU melalui Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I melalui Satrad 213 telah mengaktifkan radar pertahanan Master T Fixed Station Radar. Keberadaannya diharapkan dapat mendeteksi secara maksimal khususnya dalam memantau kegiatan penerbangan di wilayah perbatasan udara Zona Ekonomi Eksklusif di kawasan Barat Indonesia.

Mengingat strategisnya wilayah itu maka Satrad 213 menjadi sangat penting dalam hal pengawasan wilayah Indonesia tercinta. Hal itu akan berjalan ideal, karena radar merupakan mata dan telinga dari sistem Pertahanan Udara serta sebagai ujung tombak dari penegakan kedaulatan negara di udara.

Baca Juga :  Pemusik Matangkan Persiapan Festival Batak

”Jangkauan radar Master T yang dimiliki TNI AU sangat luas mencapai 240 nautica mile atau sekitar 432 Km. Jangkauan radar TNI AU sampai ke Thailand bagian bawah,” ungkapnya.

Pihak TNI AU kerap menggelar latihan pertahanan udara di wilayah Kepri seperti di Natuna, serta Bandara Hang Nadim Batam untuk dijadikan pangkalan. Bahkan beberapa kali TNI AU menurunkan jet tempur canggih di kelasnya yakni Sukhoi SU-27/30 Super Flanker buatan Russia ke Batam.

Belakangan, kabar terbaru Departemen Pertahanan telah memesan keluarga Sukhoi terbaru multiperan kelas berat yakni SU-35 dari Russia. Pemesanan jet tempur canggih itu, sebagai jawaban perimbangan kekuatan postur TNI-AU dengan negara tetangga. (abh)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here