Laporkan Kekerasan Ibu-Anak dari Hape

0
693
FOTO BERSAMA: Kepala P3AP2KB Pemprov Kepri, Misni foto bersama dengan peserta saat sosialisasi aplikasi Cek Dare.Kepri di Kantor Tanjungunggat Tanjungpinang, Selasa (17/10). f-istimewa/tanjungpinang pos

Aplikasi Cek Dare Sosialisasi hingga Tingkat Kelurahan

TANJUNGPINANG – Hasil penelitian menunjukkan masih banyak kasus kekerasan terhadap ibu dan anak yang belum dilaporkan di Kepri. Salah satu penyebabnya adalah korban tidak tahu hendak melapor kemana. Aplikasi Cek Dare.Kepri yang sudah diluncurkan pekan lalu menjawab semua persoalan ini.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Pemprov Kepri, Misni, mengatakan, aplikasi ini untuk memudahkan masyarakat mengadu atau konsultasi.

Aplikasi tersebut bisa diundur di android. Sehingga bisa memanfaatkan fitur yang disiapkan. Setidaknya, ada enam fitur atau layanan di aplikasi tersebut yakni, pengaduan, tips, konsultasi, data, tutorial dan berita.

Operator aplikasi tersebut adalah pegawai P3AP2KB Pemprov Kepri. Namun, sudah diserahkan juga android ke Polda Kepri, Pemko Batam, Pemko Tanjungpinang, Pemkab Karimun dan Pemkab Bintan termasuk ke advokat yang kerja sama dengan P3AP2KB Pemprov Kepri.

”Kita sengaja memberi mereka smartphone untuk memudahkan masyarakat konsultasi. Mereka tak harus datang ke kantor untuk konsultasi masalahnya, cukup konsultasi via WA (WhatsApp),” ujar Misni di Kantor Lurah Tanjungunggat Tanjungpinang, Selasa (17/10).

Apabila ada keraguan masyarakat untuk mengadu, maka bisa minta pendapat advokat apa efek yang timbul jika melapor ke polisi. Pihak polisi juga bisa memberi pendapatnya.

Baca Juga :  Tak Semua Sekolah di Kepri Gelar UNBK

”Pokoknya masyarakat kita mudahkan dalam segala hal. Aplikasi ini kita harapkan bukan hanya menyelesaikan perkara yang ada, namun bisa mengurangi tindak kekerasan terhadap ibu dan anak di Kepri,” bebernya.

Terkadang, kata Misni, masyarakat yang mengalami kekerasan enggan datang ke kantor polisi atau bingung hendak mengadu kepada siapa. Nah, aplikasi ini akan mendengar semua keluhan masyarakat dan akan diberi masukan-masukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Karena itu, P3AP2KB Pemprov Kepri terus mensosialisasikan aplikasi ini agar semakin dikenal masyarakat dan dimanfaatkan.

Sosialisasi pun sudah digelar, Selasa (17/10) kemarin di Kantor Lurah Tanjungunggat. Aktivis Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) turut membantu P3AP2KB Pemprov Kepri mensosialisasikan aplikasi ini. Puluhan warga turut hadir saat itu dan diberi bimbingan serta diperkenalkan tentang aplikasi tersebut. ”Semoga aplikasi ini cepat dikenal masyarakat dan dimanfaatkan. Sehingga memudahkan semua pihak menangani persoalan ibu dan anak,” ungkapnya lagi.

Misni menjelaskan, banyak pihak yang menangani persoalan ibu dan anak. Namun, masing-masing punya porsi kerja tersendiri. Mereka misalnya, tidak menindak. Namun lebih kepada pendampingan, bimbingan dan upaya pencegahan.

Baca Juga :  Gapeknas Soroti Proyek Gurindam 12

Sedangkan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan sudah masuk proses hukum terhadap pelakunya. Di kepolisian, ada juga unit khusus yang menangani persoalan rumah tangga seperti kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Keberhasilan penanganan kasus ibu dan anak bukan pada berapa banyak pelaku yang dihukum, namun seberapa banyak penurunan kasus dari tahun ke tahun. Artinya, kesadaran masyarakat yang diharapkan untuk memberi perlindungan kepada kaum perempuan dan anak serta tidak menindas hak-hak kaum perempuan.

”Ibu atau kaum perempuan dan anak adalah orang lemah dan rentan mendapat kekerasan. Padahal, anak itu harus kita jaga, harus kita lindungi. Jangan dilihat hasilnya saat ini, tapi 20 atau 25 tahun ke depan. Mereka jadi apa nanti kalau dihantu ketakutan dan tidak nyaman,” tegasnya.

Membentuk karakter anak agar tidak terjerumus dimulai dari keluarga itu sendiri. Anak adalah aset keluarga dan juga aset bangsa ini. Manjakan anak dengan kasih sayang, bukan dengan smartphone.

”Zaman semakin maju. Perkembangan teknologi informasi sangat cepat. Kita tak bisa menghindarinya, namun harus ada pola yang tepat di rumah tangga jangan sampai anak berlebihan menggunakan smartphone. Apalagi seks lebih berbahaya dari dari narkoba,” ungkapnya.

Baca Juga :  Qoriah Kepri Sabet Juara II Dunia

Orangtua harus memperhatikan kondis psikologi anaknya. Perkembangan zaman ini membuat anak tidak sungkan lagi berbohong saat ini. Banyak film yang tak mendidik anak terlebih informasi, foto dan video sangat gampang dilihat di internet.

”Makin mudah mendapatkan apa-apa sekarang. Semua bisa dilihat di internet. Tapi tugas kita makin berat mengawasi anak. Jangan sampai prilakunya menyimpang karena tontotan yang tak sepantasnya,” pesannya.

Tahun depan, mereka akan menyiapkan android untuk Pemkab Natuna, Pemkab Anambas dan Pemkab Lingga. Sehingga warga bisa juga konsultasi dengan petugas lewat WA. ”Anggaran kita tak cukup tahun ini, makanya hanya sebagian yang dapat. Tahun depan kita lengkapi,” bebernya.

Ia juga berharap Pemkab/Pemko melanjutkan program ini. Sehingga semua masyarakat bisa terlayani hingga wilayah pesisir. Sebab, kasus yang dialami kaum perempuan dan anak bukan hanya di perkotaan, namun di daerah pesisir juga terjadi. Bagi masyarakat yang ingin mengadu serta takut pulang ke rumah, maka akan diinapkan di rumah penampungan. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here