Lari Itu Murah, yang Mahal Itu Sakit

0
455
Yogi berlari di lintasan Jembatan Dompak. f-dok. pribadi yogi

BANYAK yang beranggapan olahraga lari itu mahal. Hal ini sekiranya berkenaan dengan kelengkapan yang dikenakan. Mulai dari sepatu lari dan tetek-bengek aksesori. Namun, Yogi Rizkiyanto membantah hal ini. Menurut penghobi lari asal Tanjungpinang ini, pikiran bahwasanya lari itu mahal lantaran banyak yang tidak mengerti kebutuhan sebenarnya dalam berlari.

“Lari itu hanya perlu sepatu, dan selebihnya niat yang tinggi,” kata Yogi.

Memang, diakuinya semakin kemari, semakin tinggi teknologi yang diciptkan produsen perlengkapan olahraga. Baik itu sepatu, jam tangan, pemutar musik, sampai baju maupun celananya. Hanya saja itu sekadar pelengkap. Tanpa itu semua, tegas Yogi, setiap orang masih bisa berlari. Ia telah membuktikannya sendiri bahwasanya ketika menuntaskan rute 21 kilometer di Bandung, yang bekerja adalah tekad dalam pikiran. “Sudah tidak terpikir apa-apa kecuali menguatkan kaki untuk terus berlari,” kenang Yogi.

Pilihan untuk menyukai olahraga berlari bagi Yogi, bukan karena tidak menyukai jenis olahraga yang lain. Namun, baginya lantaran lari ini yang begitu murah dan sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Ketika di Tanjungpinang, Yogi mengaku gemar berlari pagi atau petang di Tepi Laut atau Jembatan I Dompak. Soal manfaat yang didapat, jangan ditanya lagi. Yogi merasa kondisi tubuhnya semakin baik semakin rutin berlari.

“Semua anggota tubuh bekerja ketika berlari. Sehat iya, stress hilang. Kalau lelah, itu pasti. Tapi manfaay yang didapat lebih besar lagi,” ungkapnya. Jika dalam seminggu saja ada ia tidak berlari, Yogi mengaku badannya justru mudah letih dan stamina bekerja menurun drastis. Karena itu ia merutinkan berlari, entah sendiri atau bersama KepriRunners, komunitas larinya.

Hari ini, sambung Yogi, lari kian menyenangkan. Memang tidak perlu jam tangan hebat untuk berlari. Bermodalkan aplikasi-aplikasi canggih di gawai saja sudah lebih dari cukup. Beragam aplikasi bisa diunduh dengan gratis guna mengukur jarak tempuh hingga kecepatan. “Jadi tidak perlu smartwatch yang mahal itu. Rata-rata kita kan sudah pakai smartphone, fungsinya sama saja kok,” ujarnya.

Urusan sepatu pun terbilang relatif. Sepengalaman Yogi berlari, sepatu mahal bukan garansi berlari jadi semakin nyaman. Ia sendiri sudah membuktikannya. Memilih sepatu yang nyaman sesuai bentuk kaki itu jadi kunci. Bukan malah mengikut gaya atau tren terkini. “Buat apa sepatu mahal, paling baru, tapi kalau lari malah tidak nyaman. Jadi yang paling penting nyaman di kaki,” tekannya.

Semangat ini yang juga Pepy kobarkan ke orang-orang terdekatnya. Baginya tidak ada alasan bahwa lari itu mahal. “Yang mahal itu sakit lho. Kalau lari itu murah saja dan siapa saja bisa melakukannya,” timpalnya.

Saking giatnya Pepy mengajak karib-karibnya berlari, ia membentuk wadah berupa #TemanSehatPepy. Dalam komunitas ini, Pepy mengajak siapa pun berlari bersamanya, merasakan kesenangan dan manfaat kebugaran yang didapat dari berlari. Berkomunitas atau lari bersama-sama, kata dia, membuat kegiatan berlari menjadi kian menyenangkan. Dan, kata dia, dari hari ke hari, jumlah #TemanSehatPepy semakin bertambah saja.

“Lari jadi bukan lagi kegiatan olahraga penuh beban, malah yang ada sangat menyenangkan,” ungkap Pepy. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here