Latih Keberanian Sejak Usia Dini

0
56
SISWI RA Aluswah Tanjungpinang saat mengikuti outbond pada akhir Maret lalu untuk melatih keberanian siswa. f-istimewa

Peserta Didik TK Islam Aluswah Tanjungpinang Ikuti Outbond

Siswa TK Islam RA Aluswah Batu 10 Tanjungpinang dilatih keberaniannya melalui kegiatan outbond yang digelar di belakang GOR Bintancenter Tanjungpinang pada, 28 Maret.

TANJUNGPINANG – KEPALA RA Aluswah Tanjungpinang, Dwi Afriliyana Syari SPd.I mengatakan, kegiatan itu diikuti sebanyak 98 siswanya.

Ada beberapa kegiatan yang diikutisiswa yakni high impact spirit, flying fox, two line bridge, spider net, games low impact seperti roda gila, bola estafet.

”Semua kegiatan ini mengajari anak-anak kompak satu tim, kepemimpinan, kerja sama yang baik, disiplin dan yang paling utama adalah melatih keberanian mereka karena ada permainan flying fox,” ujar Dwi Afriliyana Syari kepada Tanjungpinang Pos via ponselnya, Jumat (5/4) kemarin.

Flying fox merupakan permainan yang membutuhhan keberanian untuk memanjat ke atas pohon kemudian meluncur melalui tali yang disambungkan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Semua anak-anak mengikuti permainan ini. Hanya dua orang yang sempat menangis karena tidak berani meluncur. Akhirnya mereka dituntun instruktur untuk meluncur pelan dari tali itu. Ini tantangan paling sulit diikuti. Namun semua siswa tetap bisa melewatinya.

Kemudian ada juga permainan menggulingkan bola dari bagian atas melalui pipa paralon yang disambung-sambung. Siswa yang dibuat per kelompok diminta kerja sama agar pipa-pipa paralon itu disambung satu sama lain sehingga bola bisa meluncur ke bawah.

”Pelajaran yang ditangkap anak-anak pada permainan ini adalah, tanpa kerja sama kelompok, bola itu tidak akan sampai ke bawah. Tiap peserta dalam satu kelompok harus mempertahankan pipa di tangannya dan disesuaikan kemiringannya dengan temannya yang lain, sehingga bola bisa meluncur dari atas ke bawah,” jelasnya lagi.

Ada juga permainan games low impact seperti roda gila. Setiap kelompok berjalan dengan ditutupi terpal putih. Agar bisa memainkannya, maka semua peserta harus turut dengan aba-aba yang diberikan temannya paling depan.

Komando dari depan harus sama-sama dilakukan. Apabila satu orang tidak menuruti perintah dari depan, maka mereka akan jatuh sendiri. Ini juga bagian dari kekompakan tim.

Sedangkan permainan two line bridge adalah uji mental dan juga kesabaran serta kehati-hatian. Berjalan di atas tali tidaklah mudah. Jika ceroboh atau sepele maka bisa jatuh.

Permainan flying fox maupun two line bridge sudah menggunakan safety yang terjamin. Instrukturnya sudah berpengalaman dan mereka sudah terbiasa mengadakan kegiatan yang sama dengan posisi yang lebih tinggi.

Dwi Afriliyana mengatakan, outbond ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilakukan mereka. Siswa TK A dan TK B digabung dan mereka dibagi berkelompok. Satu kelompok 8-9 siswa. Yang laki-laki digabung dengan laki-laki dan siswa perempuan digabung dengan siswa perempuan.

Sebagian orangtua siswa ikut ke lokasi kegiatan untuk menyaksikan anak-anaknya bermain. Para orangtua juga mempercayakan anak-anaknya pada instruktur dan orangtua senang dengan kegiatan itu. Selama ini, mereka mengadakan kegiatan itu bekerja sama dengan pihak ketiga. Mulai 2019 ini, kegiatan outbond dilakukan Qurthuz Training Centre, unit yang dibentuk pihak Yayasan Bina Insan Sakinah (YBIS) Tanjungpinang khusus untuk outbond.

Qurthuz Training Centre ini merupakan spesialis penyelenggaraan untuk pelatihan mental, keberanian, kepemimpinan, disiplin dan kerja sama tim.

Saat ini, jumlah siswa TK Aluswah Tanjungpinang tinggal 98 orang. Sebelumnya, jumlah siswa mereka 100 orang. Namun dua orang pindah mengikuti orangtuanya yang pindah kerja. Mereka terdiri dari 42 perempuan dan 56 laki-laki.

Pada 27 April nanti, siswa mereka akan mengikuti wisuda. Rencananya wisuda ini akan diadakan di Hotel Conforta Tanjungpinang.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here