Laut Sasaran Empuk Sampah Plastik

0
293
Elenna

Oleh: Elenna
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi masyarakat dunia. Penggunaan plastik telah menjadi komponen penting dalam kehidupan modern saat ini. Ada kelebihan yang dimilikinya antara lain ringan dan kuat, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai. Selain itu sifat insulasinya yang cukup baik menjadikan penggunaan plastik semakin bertambah setiap tahunnya. Penggunaan bahan dasar plastik sering kita jumpai pada kemasan makanan, alat-alat rumah tangga, mainan anak, elektronik sampai dengan komponen otomotif.

Peningkatan penggunaan bahan dasar plastik dari tahun ke tahun ini bisa mengakibatkan meningkatnya volume sampah plastik, jika tidak di kelola dengan serius maka pencemaran sampah jenis ini akan sangat berbahaya bagi kehidupan di bumi.

Sampah plastik juga telah menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan laut. Permasalahan sampah di lautan dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan. Kondisi itu menyebabkan laut menjadi kawasan perairan yang sangat rawan akan persoalan global yang sangat serius.

Sampah plastik ini terbawa ke laut dan pantai oleh parit-parit kota yang bermuara ke sungai. Kemudian, sungai-sungai membawa sampah dan segala macam zat pencemar ke muara laut. Akibatnya, sampah terbawa oleh ombak untuk mencapai pantai. Sampah plastik yang terbawa kelautan memberikan dampak negatif terhadap ekosistem di wilayah pesisir dan organisme laut.

Kepala angkatan laut PBB, Svensson memperingatkan bahwa pencemaran laut akan menimbulkan dampak kerusakan luar biasa pada kehidupan laut. Selain mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut, seperti kondisi di sebuah rumah sakit penyu di Kenya yang khusus merawat hewan yang menelan limbah plastik. Salah satu pasien di rumah sakit tersebut adalah seekor anak penyu yang mengalami bengkak di bagian perutnya dan tidak lagi bisa mengendalikan daya apung karena terlalu banyak makan plastik. Walaupun penyu tersebut telah dikembalikan ke habitatnya, namun tidak ada yang bisa memastikan bahwa hewan tersebut tak akan lagi makan plastik.

Demikian juga diungkapkan Direktur Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Jose Tavares menurutnya, setiap tahun sedikitnya 12,7 juta metrik ton sampah plastik yang diproduksi di daratan dibuang ke laut di seluruh dunia. Jose Tavares mengatakan, sampah plastik yang berasal dari daratan dan dibuang ke laut jumlahnya mencapai 80 persen dari total sampah yang ada di laut. Sampah-sampah tersebut masuk ke lautan, disebabkan oleh pengelolaan sampah yang kurang efektif dan perilaku buruk dari masyarakat pesisir di seluruh dunia dalam menangani sampah plastik. Polusi laut akibat sampah plastik ini, kata Jose, tidak hanya berdampak buruk terhadap lingkungan, tapi juga merugikan dari sisi ekonomi karena pendapatan negara dari sektor kelautan juga menurun.

Hal ini dikatakan juga oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bahwa sampah plastik yang ada di laut Indonesia saat ini secara keseluruhan telah menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Bahkan, dia tak ragu menyebut kerugiannya sudah mencapai USD1,2 miliar. Dengan kerugian sebesar itu yang berasal dari berbagai bidang, sampah plastik jika tetap dibiarkan bisa menimbulkan dampak lebih buruk di masyarakat, seperti pengangguran dan itu bisa memicu kenaikan angka kemiskinan di masyarakat.

Oleh karena itu, harus dicari solusi yang tegas untuk mengatasi persoalan sampah plastik yang ada di laut. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah terkait pencemaran laut ini yaitu menyiapkan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk mengatasi persoalan sampah plastik di laut, seperti mengubah perilaku masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik, mendaur ulang plastik menjadi pembangkit tenaga listrik, mengurangi kebocoran berbasis lahan, kebocoran berbasis laut, mengurangi produksi dan penggunaan plastik serta meningkatkan mekanisme pendanaan, reformasi kebijakan dan yang terpenting penegakan hukum.

Terkait dengan hal ini, sebagai warga masyarakat sekaligus mahasiswa yang harus menjalankan perannya sebagai agent of change dan control social, sangat penting berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dan membuka pola pikir masyarakat dalam hal mengatasi masalah sampah plastik ini seperti mengurangi penggunaan kantong plastik minuman kemasan, tidak membuang sampah sembarangan, mengikuti peraturan pemerintah mengenai menejemen plastik, menggunakan produk yang dapat didaur ulang (reuse), mendaur ulang sampah (recycle), serta ikut aktif dalam aksi pembersihan lingkungan, baik secara aktif maupun secara pasif. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here