Lawan DBD dengan “Satu Rumah Satu Jumantik”

0
179
Hendra Dhermawan Sitanggang, SKM., M.Epid.

Hendra Dhermawan Sitanggang, SKM., M.Epid.
Dosen Poltekkes Kementerian Kesehatan Tanjungpinang

Demam Berdarah Dengue atau sering disingkat dengan DBD akhir-akhir ini kembali mencuat di Indonesia. Berdasarkan berita yang disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, secara nasional jumlah kasus DBD sampai tanggal 3 Februari 2019 sebanyak 16.692 kasus dengan 169 orang meninggal dunia, dengan kasus terbanyak di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan Kupang. Di Tanjungpinang sendiri, menurut salah satu media, jumlah penderita DBD selama tahun 2019 sudah 74 orang dengan 1 kasus meninggal dunia. Walau jumlahnya tidak sebanyak di 4 wilayah dengan kasus terbanyak di atas, namun fenomena ini perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang menyerang segala umur, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gejala penyakit DBD ini biasanya ditandai dengan demam tinggi yang mendadak tanpa sebab yang jelas yang berlangsung sekitar 2 sampai 7 hari. Demam Berdarah Dengue (DBD) ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk. Karena ditularkan melalui gigitan nyamuk, nyamuk sebagai pembawa virus dengue ini menjadi krusial keberadaannya. Nyamuk yang dapat membawa virus dengue ini adalah nyamuk Aedes aegypti.

Nyamuk Aedes aegypti yang menggigit manusia adalah nyamuk betina, hal ini dikarenakan nyamuk betina membutuhkan darah manusia untuk proses pematangan telurnya. Pada saat akan bertelur, nyamuk akan mencari tempat-tempat genangan atau penampungan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, seperti bak mandi, kaleng bekas, pot bunga, ban bekas, dll untuk meletakkan telurnya. Dengan kata lain, nyamuk ini berkembang biak di penampungan/ genangan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah.

Jentik nyamuk betina hanya membutuhkan waktu 12 sampai 14 hari saja untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa. Setelah dewasa, nyamuk betina biasanya langsung melakukan proses perkawinan dan setelah dibuahi, dalam waktu 24 sampai dengan 36 jam, nyamuk betina ini akan segera menggigit manusia untuk menghisap darah yang diperlukan oleh nyamuk untuk pematangan telurnya tersebut. Selanjutnya nyamuk akan bertelur di genangan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah. Nyamuk betina dewasa ini mampu menghasilkan 100 sampai 150 butir telur dalam sekali bertelur.

Fakta ini menunjukkan bahwa perkembangbiakan nyamuk ini sangat cepat dan dapat menghasilkan jumlah yang banyak. Hal ini harusnya menjadikan pemberantasan sarang nyamuk menjadi prioritas utama dalam mencegah dan membasmi penyakit DBD, mengingat keberadaan nyamuk ini menjadi sangat krusial dalam penularan dan penyebaran penyakit DBD.

Satu Rumah Satu Jumantik
Pemberantasan sarang nyamuk atau yang disingkat dengan PSN sudah menjadi program pemerintah sejak lama melalui gerakan 3M yang dalam perkembangannya menjadi gerakan 3M plus. Gerakan 3M plus adalah kegiatan menguras/ membersihkan tempat-tempat yang dapat menampung air, menutup tempat penampungan air dan memanfaatkan/ mendaur ulang barang bekas, ditambah dengan kegiatan memberantas larva/jentik dan upaya menghindari gigitan nyamuk, seperti penggunaan repelent dan menanam tanaman pengusir nyamuk.

Gerakan 3M plus ini merupakan kegiatan yang efektif dalam melawan penyakit DBD, karena fokusnya adalah pemutusan mata rantai perkembangbiakan jentik, sehingga tidak sempat berkembang menjadi nyamuk dewasa yang dapat menjadi pembawa virus dengue. Namun dalam kegiatan 3M plus ini harusnya tidak hanya dilakukan dari satu arah saja, yaitu dari pemerintah. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan, karena nyamuk sebagai media penularan biasanya berkembang biak di lingkungan rumah masyarakat. Oleh karena itu, keikutsertaan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam melawan penyakit DBD.

Peran serta masyarakat dalam Gerakan 3M plus ini sudah dirumuskan oleh pemerintah dalam program yang disebut “Satu Rumah Satu Jumantik”. Jumantik adalah singkatan dari juru pemantau jentik. Jadi satu rumah satu jumantik maksudnya adalah dalam satu rumah ada 1 orang yang secara sukarela bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan jentik atau gerakan 3M plus secara berkala dan berkelanjutan di rumah dan lingkungan rumahnya. Kepala keluarga dapat ditunjuk sebagai penanggung jawab jumantik rumah. Pemantauan jentik dilakukan minimal 1 kali dalam seminggu terhadap semua tempat genangan air yang tidak langsung berhubungan dengan tanah, seperti bak mandi, tatakan/penampung air pada dispenser dan kulkas, tempat minum burung, pot bunga, kaleng/botol bekas, ban bekas, dll. Pelaksanaan kegiatan pemantauan jentik ini diestimasi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.

Pelaksanaan satu rumah satu jumantik ini juga bukan berarti melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat, namun lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan keluarga dalam penanggulangan DBD. Secara keseluruhan, pemerintah bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pelaksanaan program ini, baik pembentukan dan pengawasannya. Pemerintah malalui Puskesmas juga harus melakukan rekapitulasi hasil pemantaun jentik yang sudah dilakukan dan melaporkannya setiap bulan. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan monitoring dan evaluasi melalui pemantauan jentik berkala ke rumah-rumah dan lingkungan rumah warga untuk memastikan kegiatan pemantauan jentik berjalan dengan baik.

Dalam penerapan program Satu Rumah Satu Jumantik ini, pemerintah juga perlu melakukan pelatihan dan peningkatan keterampilan jumantik yang sudah ditunjuk agar tidak salah dalam melakukan pemantauan jentik atau pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini juga perlu menjadi perhatian karena dikhawatirkan ada pemahaman yang keliru tentang pemberantasan sarang nyamuk. Misalnya saja menganggap bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk adalah kegiatan memotong pohon, membersihkan rumput, menata bunga, dll, sehingga tidak tepat sasaran. Fokus pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti adalah pada genangan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah.

Program Satu Rumah Satu Jumantik ini sebenarnya sudah digaungkan beberapa tahun lalu tepatnya pada tahun 2015, dan sampai saat ini Kementerian Kesehatan sebagai leading sector dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit masih menjadikan program ini sebagai upaya efektif dalam mencegah dan memberantas DBD. Namun penerapannya masih belum optimal dan menyeluruh. Oleh karena itu, penerapan program ini menjadi suatu yang krusial dan mendesak mengingat kejadian DBD masih merupakan masalah di Indonesia, termasuk Kota Tanjungpinang. Dengan adanya peran aktif dari masyarakat secara konsisten melalui program satu rumah satu jumantik, niscaya DBD bisa dicegah dan diberantas. karena seyogianya yang bertanggung jawab terhadap keberadaan jentik dan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan rumahnya adalah masyarakat itu sendiri. Mari kita lawan DBD dengan gerakan 3M plus melalui Satu Rumah Satu Jumantik. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here