Lawan Hoaks, Fisip UMRAH Gelar Talk Show

0
427
MAHASISWA foto bersama usai mengikuti Talk Show melawan hoaks yang digelar, Rabu (9/5). f-istimewa

DOMPAK – Laboratorium Hukum Universitas Maritim Raja Ali Haji UMRAH menggelar Talk Show melawan hoaks yang digelar, Rabu (9/5). Talk Show yang menghadirkan Astari Yanuarti selaku relawan dari Relawan Edukasi Anti Hoax Indonesia (Redaxi) itu merupakan rangkaian kegiatan diesnatalis FISIP ke-10.

Acara yang berlangsung di Gedung Prodi Hukum itu diikuti mahasiswa Ilmu Hukum dan Hubungan Internasional FISIP.

Astari Yanuarti berharap, talk show yang bertema Edukasi Cerdas Bermedia Sosial ini bisa membuat mahasiswa menjadi tanggap dalam meminimalisir berbagai konten provokatif berbau SARA dan kebohongan. ”Ini penting. Semakin banyak pengguna media sosial, lalu lintas informasi semakin tinggi. Permasalahannya, sekarang informasi bisa dengan mudah didistribusikan. Jangan sampai kita ikut sharing sementara kita sendiri tidak tau kebenarannya. Jadi sekedar bagikan. Di sinilah hoaks itu semakin menjalar. Untuk itu kami gencar melakukan edukasi,” tutur Astari.

Kata Astari dari kajian Mastel pada 2017, media sosial menjadi sumber tertinggi penyebar hoaks. ”Kita dapat meyakini itu jika melihat hasil survei Asosiasi Penyedia Jaringan Internet Indonesia (APJII), hingga tahun 2018 pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 54,66 persen dari jumlah populasi yang ada,” katanya.

Dengan 143 juta orang pemakai medsos, satu saja membuat atau membagikan informasi artinya ada 143 juta pula informasi yang diproduksi dan didistribusikan. ”Bagaimana jika 2 atau 3 kali lipatnya? Sangat bertumpuk. Bahayanya, jika sebagian besar mengandung hoaks,” jelasnya.

Ketua Research and Debate Program Studi Ilmu Hukum, UMRAH, Rilo Pambudi S mengatakan, wabah hoaks bisa cepat melanda Indonesia karena tingkat literasi dari masyarakat Indonesia masih rendah. Dari hasil analisis 2016 lalu oleh Central Connecticut State University, indeks literasi Indonesia hanya menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang menjadi sample.

”Artinya sangat jauh dari standar normal. Padahal, kegiatan literasi membantu kita mengolah kemampuan memahami, menganalisis, dan menyeleksi setiap informasi yang ada. Sehingga tidak menelan mentah-mentah, tetapi kita verifikasi dan komparasikan kebenaran substansi berita atau informasi tersebut,” sebutnya.

Diakuinya, motif utama penyebaran hoaks adalah karena uang. ”Bisa untuk keuntungan promosi, trafik, dan rating hingga menghalalkan segala cara. Makanya marak berita-berita dibuat dengan judul provokatif ataupun mengandung kebohongan dengan maksud orang lain tertarik membaca. Ini yang harus dihindari dan jangan sampai ikut latah men-sharing tanpa menyaring terlebih dahulu.

Menurutnya, ada berbagai langkah menguji kebenaran informasi yang beredar di media sosial. Talk Show dari pukul 08.00 WIB itu dikuti serius oleh mahasiswa dengan mengajukan pertanyaan dari berbagai masalah di dunia maya.

Kata Rilo, saat ini sudah ada UU ITE yang bisa mengancam pelaku pembuat dan penyebar hoaks. ”Jejak digital tidak bisa terhapus dan tersimpan otomatis. Pikir lagi sebelum bertindak. Cara efektif melawan, kita harus banjiri internet dan media sosial dengan konten positif. Itu salah satu tugas mahasiswa saat ini,” ajaknya. (jek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here