Lelaki Bertelanjang Dada dan Bertopi Kukusan

0
524
ILUSTRASI - LELAKI BERTELANJANG DADA DAN BERTOPI KUKUSAN

Cerpen: Faris Al Faisal

/1/
Kidung turi dan pujian alam sudah kau lantunkan. Langkahmu yang tak pernah beralas kaki itu menuju ke bantaran. Kau benam tubuhmu dalam-dalam hingga kakimu menyentuh lumpur. Saban malam dalam empat bulan.

Kum-Kum di arus sungai. Ditemani eceng gondok dan tanaman air lain yang sesekali melintas. Digigiti ikan-ikan kecil yang menyangka tubuhmu adalah makanan malam mereka.

Tidak kau takut ular-ular sungai mematuk dan melilitmu. Atau buaya-buaya sungai mencabik dan memangsamu. Hanya penutup kepalamu berbentuk kerucut yang tampak, terpejam mata, mulutmu berkomat-kamit merapal mantra-mantra.

Malam beku, angin menelisik menjatuhkan dedaunan kering kangkung pagar, bintang gemintang pucat kedinginan di langit kelam dan bulan bolong disungut awan gemawan. Semalaman, di dalam tubuhmu menahan dingin air sungai– memakan buah sabar. Pahit di awal tetapi manis akhirnya.

Hanya matahari pagi hangat yang dapat mengangkat tubuhmu dari rendaman. Di atas tanah yang juga hangat, tubuhmu kau rebahkan. Berpeluk dengan debu tanah yang merah.

Saban pagi dalam empat bulan. Mepe2 hingga kering celana basah di tubuhmu. Lalu kau terlahir kembali menjadi manusia yang baru –menyatu dengan alam– medar3 teladan dari lakon kisah pewayangan Pandawa Lima.

Di Losarang4 ini, lelaki sepertimu bertelanjang dada, hanya memakai celana hitam putih bersebelah dan penutup kepala dari kukusan5 yang juga berwarna hitam putih bersebelah. Kayu dan bambu keramat kau potong-potong kecil, kau ronce di pegelangan tangan dan kakimu. Orang-orang menyebutmu Dayak Losarang.

Dari mulutmu, kau katakan tak mengakui agama apa pun. Namun, kau tak katakan Tuhan tak ada. Semua ajaran yang kau peluk adalah buah perenungan Eran Takmad Diningrat Gusti Alam6 yang melakukan refleksi dan introspeksi diri terhadap berbagai permasalahan yang terjadi.

Lalu dengan kembali ke alam7, mendekatkan diri kepada semesta, itulah inti dari kehidupan. Menjadi ajaran terbaik bagi manusia.

Sulit sekali memahami setiap penjelasanmu yang tak masuk dalam keyakinan dan kepercayaan apa pun. Kau lelaki yang sering berfilsafat, walaupun saat orang-orang katakan kau berfilsafat, ganti kau yang tak mengerti ucapan mereka.

Namun lelaki sepertimu bukan lelaki pemalas. Ada banyak lelaki yang memeluk keyakinan tertentu, tetapi tak memenuhi kewajiban kepada keluarganya. Tanah-tanah tempatmu tinggal kau tanami berbagai tanaman.

Ketela, palawija, padi dan sedikit beternak ayam, bebek serta kambing. Walau kau sendiri tak pernah makan daging hewan. Kau hidupi keluargamu dengannya.

Makananmu hasil pepohonan dan minum air tak dimasak. Tak ada yang kau sia-siakan dari cara hidupmu. Menjunjung tinggi martabat istri, anak perempuanmu, terlebih ibu kandungmu.

/2/
PAGI ini kau tengok istrimu. Digendongannya seorang bocah tengah tertidur sambil menyusu. Setelah lepas mulutnya dari menetek. Direngkuhnya olehmu, ganti menggendong. Ditimang-timang hingga makin pulas dan kau puas.

Setelah itu di tempatkan anakmu di ayunan yang dibuat dari kain dan seutas tali. Lalu tanpa sungkan, kau ambil centong8 dalam aronan9 beras yang hendak ditanak.

Istrimu tersenyum saat kedua tanganmu begitu terampil memasak. Begitu juga kau mencuci, menyapu dan membereskan pekerjaan rumah tangga. Dimanjakannya perempuanmu.

Menyaksikannya terkadang begitu terharu. Rasanya tak dapat dijelaskan. Bagaimana bisa, lelaki sepertimu bisa lembut dengan keluarga? Dikira, kau akan seberingas lelaki-lelaki primitif manakala bertemu perempuan.

”Duduk saja, Mak” ucapmu lembut. Sementara buah hatimu itu menggeliat mendengar suaramu. Gadis yang masih bocah itu minta turun dari ayunan, bergegas ingin mendekatmu. Jalannya belum lancar benar. Sehingga kau buatkan anakmu greyotan10.

”Kamu sudah mau bisa jalan, Nak?”

”A’u, u’a, i’a! A’u, u’a, i’a! [satu, dua, tiga! Satu, dua, tiga!]” Bocah itu terbata-bata mengucapkannya.

Kau dan istrimu tergelak. Tertawa mendengarkan buah hatimu yang sudah mulai bisa menghitung tiap langkah-langkahnya. Terdengar lucu bahkan sangat menggemaskan. Bunyi keriut greyotan terdengar tiap kali bocah kecil itu berjalan berputar-putar.

Kerap dengan manis, kau bisikkan ditelinga istrimu yang membuatnya berbulu-bulu, romanya tegak dan merasakan geli. ”Dengar Mak, dari rahim perempuan manusia terlahir, itu sebabnya menghormatimu adalah darma bakti seorang lelaki selain sebagai suami.”

Perempuan yang kau nikahi upacara adat kaummu itu tersenyum. Tak tampak kesedihan di wajahnya. Rona kebahagiaan memerah di pipinya yang kadang seminggu pun tak teroles bedak tepung.

Selama kau meninggalkannya, tak pernah timbul curiga kau menyelingkuhinya. Karena lelaki-lelaki sepertimu tak akan mengkhianati kesucian ikatan perkawinan. Entah dengan perempuanmu?

/3/
MALAM jumat kliwon. Sebuah kolam kecil di dalam pendopo Nyi Ratu Kembar bertebaran bunga-bunga. Puluhan bahkan ratusan lelaki-lelaki sepertimu duduk melingkarinya.

Suara lantunan kidung turi dan pujian alam dalam bahasa Cirebon memenuhi ruangan. Eran Takmad Diningrat Gusti Alam duduk di tengah kalian. Dua ekor anjing putih mendengus-dengus di kakinya. Sesekali ekornya dikibas-kibaskan.

Adapun istri-istrimu dan anak-anakmu berkumpul di luar pendopo. Beselonjoran11 sambil mengipasi bocah-bocah itu agar tenang dan lelap tertidur.

Mereka saling berkisah, berbagi duka dan membesarkan hati. Tidak mudah sungguh menjadi istri-istri atau anak-anak dari lelaki-lelaki yang menamakan komunitasnya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu.

Kau mungkin pernah mendengar, betapa anak-anakmu kerap pulang dari sekolah dengan tangis yang berderai-derai. Tangisnya tak putus-putus meski sudah dibujuk sore nanti mau diajak ke pasar malam.

”Mereka itu –teman sekelasnya– mengejek dan menghardikku terus. Katanya aku anak dayak, tak pakai berbaju,” adu anak-anakmu.

Namun, kau tak pernah mengajarkan kepada anakmu tentang kusumat. Dipeluknya anak-anakmu dengan perasaan kasih.

”Tak apa, biar saja mereka, nanti pun akan reda juga.”

Termarginalkan dalam kelompok masyarakat modern. Kehidupan sosial yang tdak ingin disusahkan dengan bentuk-bentuk administratif yang membelit. Karenanya kau tak kenal Akte Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga dan sebagainya.

Kaummu tak memandang perlu identitas kewarganegaraan. Karena diri mereka yang dibawa-bawa itulah identitas yang sesungguhnya.

/4/
PENDOPO itu, tampak remang malam itu. Suara-suara terdengar riuh. Wajah-wajah bersimbah peluh. Orang-orang mengucap puji-pujian tak lelah-lelah.

Suasana tampak senyap manakala seorang lelaki tua yang masih kelihatan perkasa mengangkat tangannya tinggi-tingi. Sejurus keudian, di taruh kedua tangannya di atas kolam kecil yang berisi air bunga.

Entah apa yang rapalkannya? Air yang semula tenang kini bergolak. Mirip air mendidih dalam panci yang direbus. Sesekali kolam kecil itu dapat berubah menjadi kaca benggala12

Beberapa saat kemudian, setiap orang yang hadir dipersilakan mengambil manfaat dari air rendaman kembang bercampur jampi-jampi13 itu. Ada yang minum, mencuci wajah dan rambut, memasukkan air itu ke botol-botol atau jeriken yang sudah dipersiapkan dari rumah.

Tetapi kau tampak mencari-cari sesuatu. Hanya Darsinih, bocah yang belum genap dua tahun itu tampak tertidur pulas di alas pendopo di atas tikar anyaman daun pandan.

Ia tampak ditelantarkan di antara tas kecil yang berisi baju ganti dan kemben14. Di antara lelaki-lelaki yang bergembira berkumpul dengan anak istrinya, kau tanyakan sesuatu yang membuat mereka pun tak percaya.

”Di mana Wati?”

Orang-orang menggeleng dan mengangkat bahu. Beberapa perempuan-perempuan yang tadi duduk bersama berlibat bicara. Berbisik-bisik hingga terdengar mengusik.

”Tadi Wati izin pipis.”

”Wati tak pergi ke kakus, ia setengah mengendap menuju ke pintu samping.”

”Ada seorang lelaki terlihat menunggu di gapura.”

”Kelihatannya keduanya berboncengan.”

Semakin orang-orang bicara, kian panas telingamu. Lantas kau gendong anakmu yang masih pulas memeluk mimpinya.

”Kau mau kemana?” tanya kawan-kawanmu.
”Aku akan mencari Wati.”

/5//
DI KOLAM kecil yang hanya menyisakan genangan, tampak istrimu dan seorang lelaki berpakaian rapih melaju di jalan raya berboncengan. Pinggang lelaki itu didekap dengan erat sekali. Lelaki itu benar-benar telah merampas cinta darimu. Tampak kelukaan di wajahmu. Gemuruh dadamu naik turun.

”Tabahkan hatimu.”

Lelaki-lelaki bertelanjang dada dan bertopi kukusan itu kembali melakukan kumkum dan mepe. Menjadi manusia baru kembali. Tak perlu lagi meratapi pahit kehidupan.

Sekalipun kau jauh terasing dalam kehidupan modern. Entah apakah kehidupan mereka dapat bertahan dalam keterasingannya atau justru mengalami perubahan sosial seperti pada komunitas kepercayaan lainnya.***

Indramayu, 2018

Catatan:

1Berendam di dalam sungai
2 Berjemur
3Penjabaran
4 Tempat Padepokan Nyi Ratu Kembar Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu
5 Barang anyaman (bakul) berbentuk kerucut untuk mengukus nasi (menanak nasi di dandang)
6 Pemimpin Padepokan Nyi Ratu Kembar Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu
7 Back to nature
8 Cedok nasi yang bertangkai
9 Beras yang sudah direbus setengah matang yang siap untuk dikukus
10 Alat yang dibuat dari bambu yang ditancapkan di tanah untuk belajar jalan bagi balita
11 Duduk dengan kaki terjulur lurus ke depan
12 Cermin kesedihan; kaca yang dapat melihat seseorang dari kejauhan
13 Doa atau bacaan tertentu yang memiliki kemampuan supranatural
14 Kain selendang untuk menggendong anak

FARIS AL FAISAL,
Tinggal di Indramayu.
Menulis fiksi dan sejumlah karya non fiksi.
Novella Bunga Narsis adalah buku terbarunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here