Lihat Rangka Manusia Pithecantropus

0
224
SISWA FCA melihat lukisan manusia purba di Museum Sangiran. f-istimewa

Tour Education Guru Dan Siswa PKBM FCA Ke Yogyakarta

Zaman manusia kuno telah berlalu ribuan tahun silam. Namun, sampai saat ini kita sering mendengar zaman manusia kera atau zaman Pithecantropus Erectus. Pelajaran tentang zaman ini selalu diajari di sekolah.

TANJUNGPINANG – MESKI sudah berlalu, namun bukti sejarah kerangka manusia zaman kuno ini masih bisa dilihat di Museum Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah tidak jauh dari Sungai Bengawan Solo. Di museum ini, terdapat seribuan kerangka fosil yang jadi saksi sejarah.

Untuk memperdalam pengetahuan siswa, guru dan siswa PKBM Fawnridge Christian Academy (FCA) Tanjungpinang melakukan tour educational ke beberapa tempat bersejarah di Yogyakarta termasuk ke museum tersebut.

Yogya, selain kota pelajar Indonesia, juga tempat wisata dengan banyak situs sejarah yang bahkan sudah diakui dunia dan dijadikan warisan dunia oleh PBB melalui UNESCO.

Siswa yang ikut tour educational tersebut Kelas V SD sampai Kelas XII SMA FCA, kepala sekolah SD serta SMP dan SMA sederajat. Jumlah yang berangkat 33 dengan jumlah siswa 21 orang. Mereka tiga hari di sana sejak berangkat, Senin (17/9).

Pilihan berkunjung ke Yogya, selain salah satu kota pelajar Indonesia, juga tempat wisata dengan banyak situs sejarah yang bahkan sudah diakui dunia dan dijadikan warisan dunia oleh PBB melalui UNESCO.

Salah satunya, adalah Museum Sangiran. Di dalam museum itu, siswa dan pengunjung bisa melihat sekaligus belajar tentang fosil manusia purba yang dipamerkan.

Museum itu cocok dikunjungi para pelajar, mereka akan melihat beragam fosil mulai dari fosil manusia Homo neandhertal, Homo Sapiens, sampai artefak batuan. Terdapat juga fosil binatang bertulang belakang, binatang laut, dan air tawar.

Museum itu terbagi menjadi tiga bagian, di ruang pertama pengunjung bisa melihat aneka temuan fosil fauna. Diantaranya, fosil kuda nil, harimau, kerbau, badak, dan gajah purba.

Selain itu, ruangan berikutnya ada fosil manusia purba serta lainnya. Ada juga temuan terbaru di situs Sangiran pada 2015, berupa gading gajah, tulang belakang gajah, dan rahang bawah buaya yang masih asli. ”Kalau gading gajah ini fosil asli. Saya sampaikan tidak semua fosil di sini asli yah, kebanyakan sudah reflika atau tiruan yang menyerupai. Yang asli ada yang sudah di luar negeri dan juga di Museum Nasional, Jakarta,” ujar pemandu wisata.

Museum Sangiran juga disebut sebagai situs manusia purba terlengkap di Asia. Karena itu, berbagai pelajar dari nusantara datang berkunjung ke sana.

Para siswa dan guru serta kepala sekolah FCA Tanjungpinang juga berkunjung ke Candi Prambanan. Inilah candi Hindu terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Si pemandu menuturkan, sampai saat ini, belum bisa dipastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa. Namun dilihat dari situs gedung yang ada, diperkirakan candi ini dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu.

Candi Prambanan atau Candi Gilangkr dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah kejahatan dengan tinggi 47 meter.

Meskipun ada juga dogeng lain yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa candi itu dibangun untuk Roro Jonggrang sebagai syarat menerima lamaran Raja Bandung Bondowoso.

”Ini cerita rakyatnya yah, jadi raja tersebut harus membangunkan 1.000 candi dalam satu malam. Tapi realitanya di kawasan ini hanya ada dua ratusan candi. Jadi ini hanya cerita rakyat yang boleh dipercaya dan boleh tidak,” ungkap pemandu wisata Prambanan.

Ini merupakan rangkaian perjalanan hari kedua di Yogyakarta. Setelah hari pertama rombongan berkunjung ke Candi Borobudur yang terletak di Kecamatan Borobudur.

Berkunjung ke lokasi ini, sekitar dua jam dari Bandara Adi Sucipto. Untuk di ketahui, 2020 mendatang rencananya akan menggunakan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.

Candi Buddha tersebut dibangun selama 150 tahun dan awal konstruksi sekitar 770 Masehi. Selesai sekitar 825 Masehi. Sistem struktur piramida berundak dari susunan blok batu andesit yang saling mengunci.

Di rombongan itu, ikut serta Michael, salah satu siswa asal Amerika Serikat yang kini belajar di FCA dan duduk di bangku kelas VI SD. Ia menuturkan, senang mengikuti kunjungan ke berbagai lokasi wisata di sana. Menjadi kesempatannya mengetahui tentang Indonesia. Setidaknya, ia memiliki pengetahuan dan melihat langsung berbagai warisan dunia di Indonesia.

Pengelola PKMB FCA Tanjungpinang, David Hutagalung menuturkan, bahwa Michael bersama kedua adiknya merupakan pelajar asal Amerika yang dititipkan orangtuanya belajar di FCA. Dua adiknya tidak ikut karena masih kecil atau di bawah kelas V SD. Ia menuturkan, orangtuanya asli Amerika sedang melakukan penelitian di Tanjungpinang untuk beberapa bulan.

”Kini Michael masih harus belajar Bahasa Indonesia. Ini atas permintaan ibunya yang hanya menetap beberapa waktu. Kini masih proses dan belajar,” ucapnya.

Ada hal menarik selama perjalanan itu, bahwa Michael adalah satu-satunya siswa yang membawa koper sendiri atau tidak menitip ke bagasi. Hal ini dilakukan bukan karena isinya ringan atau ada barang berharga yang di bawa. Tetapi pesan dari ibunya, bahwa barang-barangnya harus dibawa sendiri agar belajar mandiri. Hal itu disampaikan kepada mentor dan gurunya.

”I can,” ujar Michael singkat saat akan dibantu membawa kopernya.

Terkait keputusan itu pun dimaklumi para guru dan teman-temannya. Michael sendiri tetap semangat membawa kopernya meski pun beberapa kali dibantu oleh mentornya.

Rombongan juga sempat berkeliling di Bandara Jakarta sekedar melihat berbagai sudut kota sembari mencari makanan dan menunggu jam penerbangan dilanjutkan.

Setelah tiba di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, rombongan dijemput pemandu wisata dengan bus pariwisata. Agar tidak bosan di dalam bus, guide tour menjelaskan terkait Yogyakarta. Mulai dari sistem pemerintahan, lokasi wisata yang akan dikunjungi serta sejarahnya.

Ia menuturkan, diperkirakan 2020 mendatang, bandaranya sudah berpindah ke tempat yang baru. Disebut sebagai Bandara New Yogyakarta International Airport atau biasa disebut NYIA singkatannya. Bandara itu dibangun seluas 587,3 hektar di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.

Hal ini dijelaskan Yuli, yang merupakan guide tour perjalanan selama tiga hari tersebut. Ia menuturkan, Yogyakarta menjadi kota tujuan wisata kedua setelah Bali di Indonesia. Yang menarik dari Yogyakarta, daerah ini dikaruniai lokasi wisata, lokasi sejarah dan alamnya yang indah serta dijuluki kota pelajar.

Ia menuturkan, sangat tepat membawa anak-anak untuk studi tour ke kota ini. Ada banyak ilmu pengetahuan yang didapat di sana.

Rini menuturkan, setelah perjalanan ini, para siswa nantinya akan membuat laporan terkait perjalanan mereka dan dipresentasikan. Anak-anak taat aturan selama perjalanan. ”Mereka tidak mengeluh mengikuti jadwal yang ditentukan,” jelasnya.(DESI LIZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here