Lima KRI Intai Illegal Fishing di Natuna

0
870
PATROLI: Personel TNI-AL dari Lantamal IV Tanjungpinang saat patroli di laut, belum lama ini.f-raymon/tanjungpinang pos

NATUNA – Mabes TNI-AL mengirimkan lima ini Kapal Perang Indonesia (KRI) untuk berjaga-jaga di Natuna sekaligus melakukan patroli dalam menekan pelaku illegal fishing. Selain TNI-AL, Mabes Polri juga melakukan patroli di laut Natuna serta petugas Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Perikanan.

Banyaknya kapal yang ditempatkan di Natuna membuat pelaku illegal fishing menurun tahun ini. Komandan Lanal Ranai, Kolonel Laut (P) Tony Herdijanto menyatakan, tahun ini intensitas tindak pidana illegal fishing di perairan Natuna Utara mengalami penurunan.

Terkait hal ini, Kolonel Tonny mengatakan, dalam interval Juli hingga Oktober terjadi penurunan drastis jumlah tangkapan illegal fishing. ”Sebelumnya meningkat, tapi saat ini terjadi penurunan drastis aksi illegal fishing dari Juli hingga Oktober,” ujarnya tanpa menyebutkan persentase penurunan itu di Jalan Datuk Kaya Wan Muhammad Benteng kepada sejumlah wartawan, Rabu (1/11) Kemarin.

Menurutnya, penurunan aksi illegal fishing itu tidak lepas dari upaya-upaya pencegahan dan penindakan yang dilakukan TNI AL, pemerintah dalam hal ini PSDKP serta Kepolisian RI. Dikatakannya, intensitas illegal fishing dan upaya pencegahan dan penindakan sama-sama tinggi. ”Saya rasa antara tindakan pencurian ikan dengan upaya pengamanan sama-sama intens, KRI yang khusus beroperasi di Natuna saja sebanyak 5 unit. Ditambah lagi dengan yang dari PSDKP dan Polair. Kita tentu tidak mau kalah dengan mereka,” tegas Kolonel Tony.

Baca Juga :  Nurdin Dianugerahi Santri of The Year 2018

Tidak hanya itu, ia mengatakan, dari informasi yang didapatkan dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), pemerintah Indonesia sudah memberikan penekanan khusus kepada Pemerintah Vietnam terkait illegal fishing tersebut.

”Secara diplomatik pemerintah kita juga tidak tinggal diam begitu saja, bahkan secara internasional, PBB sudah memberikan kartu kuning kepada Vietnam soal maraknya illegal fishing di laut Natuna Utara oleh nelayan tradisional mereka,” tuturnya.

Aksi illegal fishing oleh nelayan asing di Natuna masih tetap marak meski ada penurunan empat bulan terakhir ini. Jumlah penanganan kasus illegal fishing di Pengadilan Negeri Ranai tahun 2015 sebanyak 37 berkas, tahun 2016 ada 64 berkas dan tahun 2017 Januari-Juni sudah 39 berkas yang masuk ke pengadilan.

Baca Juga :  Semua Gajinya di DPRD Dibagi ke Warga

Upaya penenggelaman Kapal Ikan Asing (KIA) oleh pemerintah melalui KKP seakan tidak ada efek jeranya bagi pelaku yang lain. Nelayan Vietnam yang tertangkap saat melaut secara ilegal di Natuna tidak pernah ada habisnya.

Bulan Juni lalu, pihak TNI AL memulangkan sebanyak 350 orang nelayan Vietnam berstatus tahanan non yustisi. Mereka merupakan ABK Vietnam yang tertangkap. Sesuai aturan United Nation Convention on the Law of The Sea (Unclos), mereka yang tertangkap di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) tidak bisa dilakukan kurungan badan.

Aktivitas nelayan Vietnam tahanan kasus illegal fishing di shelter penampungan Lanal Ranai, biaya makanan mereka ditanggung pihak TNI AL selama ini Sebelumnya Kolonel Tony Herdijanto mengatakan, ada alasan kecenderungan nelayan Vietnam untuk nekat mengeruk ikan di ZEEI. Tangkapan ikan nelayan di Vietnam sudah tidak banyak. Hal ini akibat kebiasaan menangkap dengan jaring trawl dan kerusakan terumbu karang.

Baca Juga :  Ratusan Pelaku Usaha Bertambah di Bintan

”Makanya mereka (nelayan asing) sering masuk ke wilayah ZEEI Indonesia karena ikan di perairan kita ini sangat banyak,” ujarnya.

Saat ini, persoalan yang dialami nelayan Natuna adalah, alat tangkapnya masih tradisional sehingga tak bisa menangkap ikan ke laut lepas. Seandainya pun bisa menangkap ikan ke laut lepas, namun nelayan butuh banyak es. Cold storage yang dibangun KKP di Selat Lampa belum dioperasikan, sehingga nelayan masih kesulitan mencari es. Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Selat Lampa. Di sana tersedia cold storage dengan kapasitas mencapai 3.000 ton per hari. (hbd/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here