Limbah RT, Jadi Pakan Ikan

0
130
MAHASISWA Budidaya Perairan FIKP-UMRAH ketika melakukan penelitian limbah rumah tangga untuk dijadikan pakan ternak ikan f-istimewa

TANJUNGPINANG – Mahasiswa/i Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji (FIKP-UMRAH), mampu menyulap limbah rumah tangga menjadi pakan ikan pengganti pelet.

Hendriyono, seorang mahasiswa Budidaya Perairan mengatakan, limbah yang dimaksud yakni seperti sayuran, buah-buahan, makanan dan lainnya.

Sebelum diolah menjadi pakan ikan, lanjut Hendriyono, tentunya harus melewati beberapa proses.

“Limbah yang kita kumpulkan, kita tampung dalam sebuah wadah lalu ditutup dan dilobangi agar masuk udara. Biarkan tertutup hingga menjadi busuk, dan menghasilkan cacing maggot. Nah, cacing inilah yang akan dimakan oleh ikan nantinya. Ini dapat menggantikan pelet yang selalu digunakan,” jelas Hendriyono, Selasa (4/11)/

Hendriyono menambahkan, budidaya ini sangat bernilai ekonomis untuk warga yang memelihara ikan atau ternak ikan.

Menurutnya, dibandingkan dengan pelet yang memiliki harga cukup mahal padahal protein yang terkandung dalam cacing maggot sama dengan pelet yang dijual dipasaran.

“Dalam proses penelitian ini, dilakukan dalam jangka waktu selama 2 pekan. Untuk prtoses menghasilkan cacing maggot, hanya membutuhkan waktu 4 hari saja,” terangnya.

Sementara, limbah seperti sayuran memiliki potensi tinggi sebagai penumbuhan cacing maggot seperti yang terdapat di sayur kol.

Saputra, yang juga mahasiswa Budidaya Perairan juga menambahakan, bahwa untuk budidaya skala besar cacing maggot hanya mengeluarkan biaya kisaran Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Sedangkan, bila menggunakan pelet bisa mencapai puluhan juta perbulannya.

“Tujuan jurusan Budidaya Perairan FIKP-UMRAH, agar mahasiswa/i mampu berinovasi yang dapat mengembangkan sektor perikanan budidaya ditengah-tengah masyarakat. Sehingga, masyarakat memahami dan tahu bahwa pelet ikan bisa dibuat dari limbah rumah tangga,” ungkap Saputra, mahasiswa yang meneliti di laboratorium BDP FIKP-UMRAH.

Menurut Saputra, selama ini limbah rumah tangga hanya menjadi sampah. “Tanjungpinang menghasilkan limbah rumah tangga perhari hampir 1 ton. Tentunya limbah restoran yang kita tahu, apa salahnya dimanfaatkan untuk membuat terobosan pakan ini. Hal ini tidak menguras banyak biaya yang besar,” sebutnya.

Kota Tanjungpinang dan Bintan dinilai sangat berpotensi dalam mengembangkan sektor perikanan salah satunya dengan budidaya. Sehingga, nelayan bisa memperoleh penghasilan tambahan jika produksi ikan tangkap menurun dan terkendala cuaca di laut. (eunike/janah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here