Linearitas Perempuan dan Pendidikan

0
146
Nursita Husaini K, M. Pd

Oleh: Nursita Husaini K, M. Pd
Dosen STAI Miftahul Ulum, Tanjungpinang

Pendidikan dalam KBBI diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat strategis dan amat penting bagi kehidupan manusia dalam mempersiapkan perbekalan demi menyongsong masa depan dan mewujudkan impian. Linearitas bermakna garis lurus atau sejajar. Dalam ilmu statistik, sesuatu dapat dikatakan linear apabila hubungan antar variabel yang hendak di analisis mengikuti garis lurus. Berbicara mengenai pendidikan dan perempuan, seharusnya kedua hal tersebut berada pada titik yang seimbang atau dengan kata lain berada dalam satu garis lurus. Mengapa penting meletakkan perempuan dan pendidikan dalam satu garis lurus?

Kita generasi masa kini, hidup di era Globalisasi yang seharusnya kesadaran akan pentingnya peran pendidikan bagi individu sudahlah sangat tinggi. Zaman ini menuntut manusia untuk menguasai berbagai macam keterampilan atau skill, setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi pribadi yang unggul dibanding yang lain. Adapun salah satu cara untuk untuk memperoleh kemampuan tersebut adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kunci agar seseorang dapat bertahan dan bersaing di era ini.

Sayangnya, kadangkala masih kita temukan sebagian masyarakat menganut budaya patriakhi (meninggikan dan mengutamakan status pria di atas wanita), sehingga mereka berpikiran bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya hanya akan menjadi ibu dan istri. Tidak jarang pula kita temukan mereka yang meng-underestimate (meremehkan atau memandang rendah) perempuan yang semangat mengejar pendidikannya menuju jenjang yang lebih tinggi. Hak-hak wanita selalu dibatasi pada wilayah-wilayah kehidupan yang sangat eksklusif dan marjinal, yaitu sebatas rumah tangga. Oleh karena wanita dianggap cukup berperan di wilayah domestik saja (rumah tangga) maka ia dipandang tidak perlu menempuh pendidikan yang baik.

Sejatinya, ilmu dan pendidikan merupakan modal mutlak yang harus dimiliki manusia tanpa memandang status gender. Sebagaimana tertulis dalam UUD 1945 pasal 31 yang berbunyi “tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Juga telah tertulis dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah/58: 11) yang artinya “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. Dijelaskan juga dalam QS. At-Taubah/ 9: 71 bahwa Allah Swt berfirman “Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an, pria dan wanita memiliki hak yang sama untuk meningkatkan kualitas dirinya, melalui peningkatan iman (takwa) dan ilmu (pendidikan). Diperkuat pula dalam hadisnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.

Islam adalah agama yang mengangkat harkat dan martabat perempuan, Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada wanita. Kita dapat meninjau kembali dalam lintasan sejarah Islam, akan ditemukan sosok-sosok perempuan terhormat dan hebat yang patut menjadi teladan wanita yang hidup di zaman ini.

Aisyah r.a yang dijuluki sebagai ummul mukminin, ibu pendidik umat Islam, dan sebagai pendiri majelis ilmu untuk muslimah. Beliau adalah seorang wanita cerdas yang menjadi tempat bertanya kaum muslimin terkait urusan fiqih, tafsir, hadis, dan persoalan-persoalan wanita. Beliau merupakan satu-satunya perempuan diantara 7 (orang) sahabat dengan hafalan hadis terbanyak. Semua tidak terlepas dari kecerdasannya serta semangatnya untuk belajar banyak hal dari Rasulullah Saw.

Peran perempuan dalam pendidikan (terutama kehidupan moral dan agama) sangat penting. Maka untuk menunaikan tugas dan fungsinya yang sangat penting itu, perempuan perlu dipersiapkan dengan sangat baik (melalui pendidikan formal, informal, dan nonformal). Terlepas dari seorang perempuan itu akan menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga, mengenyam pendidikan yang baik adalah sebuah keharusan bagi seorang perempuan. Kesiapan seorang perempuan dalam pendidikan agama, akhlak, moral, dan sains menjadi sangat penting apalagi ia akan berperan sebagai ibu yang menjadi sumber pertama bagi pendidikan anak-anaknya. Sebagaimana sebuah syair yg cukup kita kenal “Ibu adalah sekolah utama bagi anak-anaknya”. Seorang ibulah yang mendidik sang anak sebelum di didik orang lain, bahkan sejak ruh ditiup dalam rahim proses pendidikan sudah dimulai.

Perempuan yang berpendidikan baik, tentu akan tau bagaimana cara mengupayakan agar anak-anaknya kelak menjadi generasi yang kuat (unggul) dalam berbagai aspek kehidupan sehingga mampu berkompetisi dan memenangkan kompetisi baik secara nasional maupun global. Dalam menangkal pengaruh negatif globalisasi, akan dibutuhkan peran seorang ibu yang kokoh dalam pemahaman agamanya untuk mendidik anaknya agar terbiasa mengisi jiwanya dengan akidah yang kokoh sehingga mampu menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan konsisten. Selain dari pada itu, membimbing anak menuju kesempurnaan intelektualnya juga amat penting. Jika perempuan telah mengenyam pendidikan formal yang lebih tinggi, ia akan terbiasa berfikir secara sistematis manakala ketika menjadi seorang ibu, ia akan dapat menuntun sang anak agar berfikis secara sistematis pula.

Pengaruh perempuan juga sangat besar dalam ranah publik atau pemerintahan misalnya. Melalui perempuanlah budaya korupsi dapat dikurangi, mengutip apa yang disampaikan oleh Ibu Rahma (wakil walikota Tanjungpinang) pada berita tanjungpinangkota.go.id Oktober 2018 lalu, beliau mengatakan “perempuan sebagai agen terdepan dalam membangun generasi anti korupsi”. Perempuan sedikit banyaknya punya peran besar dalam mencegah atau mengakibatkan kaum pria (suami) tersungkur melakukan praktik korupsi. Perempuan yang cerdas tidak akan membudidayakan gaya hidup glamor dan meminta lebih dari apa yang suami mampu berikan. Seorang ibu berperan menanamkan semangat anti korupsi kepada anak dengan menekankan nilai-nilai kejujuran dan integritas. Dari pendidikan keluarga semacam inilah mampu membentuk perilaku dan pola hidup positif serta tidak merugikan orang lain.

Perempuan juga menjadi sentral dalam menentukan keberhasilan suatu bangsa, dimana keberhasilan tidak akan tercapai jika perempuan mengesampingkan pendidikan. Melalui perempuanlah dapat mencetak putra bangsa sekaliber Bung Karno, BJ Habibie, Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara, Quraish Shihab, dan tokoh-tokoh besar lainnya. Seorang perempuan haruslah terdidik dan selalu memiliki semangat yang besar dalam menuntut ilmu serta senantiasa meningkatkan kualitas diri, baik dari segi intelektual maupun spiritual. Jadikan semangat menuntut ilmu sebagai tren perempuan masa kini, agar menjadi perempuan cerdas, sholehah dan tidak tulalit. Akhir kata, mengutip perkataan Nelson Mandela Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Wallahu A’lam Bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here