Lis: Jaga Warisan Budaya Melayu

0
685
Pulau penyengat: Gambar Pulau Penyengat difoto dari udara. Pulau bersejarah yang juga dikenal sebagai pulau maskawin ini kini menjadi destinasi wisata nasional. f-adly bara hanani / tanjungpinang pos

Melayu pernah mengalami masa keemasan dan mewariskan pengaruh yang tidak sedikit bagi peradaban dunia.Bukti-bukti sejarah yang tersebar menjadi wujud bahwa Melayu adalah bangsa yang besar.

PENYENGAT – Budaya Melayu sangat melekat dengan agama Islam, sehingga memberikan ciri keislaman yang kuat. Bangsa Melayu itu memiliki etika, adab dan akhlak yang tinggi dengan pandangan agama Islam.

Untuk itu sebagai masyarakat Melayu harus bisa kembalikan kebesaran bangsa dan budaya Melayu di Pulau Penyengat.

Hal itu yang dikemukakan Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah, saat menghadiri Pentas Seni Budaya Melayu Pulau Penyengat Tahun 2017-2018 yang diprakasai oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kepri.

Dikatakan Lis, Pulau Penyengat sebagai peninggalan kebesaran Kerajaan Melayu perlu terus pertahankan untuk mengembalikan indentitas bangsa Melayu yang ada di Tanjungpinang Provinsi Kepri, eksistensi budaya Melayu tidak kenal batas waktu.

”Mari kita kenalkan indentitas Melayu yang kuat memelihara etika, budaya, dan norma, jiwa dan semangat sebagai bangsa Melayu harus kita buktikan bahwa masyarakat Penyengat bisa menjadi tuan di kampungnya sendiri,” tegas Lis kepada warga Pulau Penyengat

Tahun ini, lanjut Lis, Pemko bertekad mengembalikan indentitas Pulau Penyengat sebagai tonggak kebesaran bangsa Melayu. Pemko sendiri sudah punya perencanaan untuk menata Pulau Penyengat, konsepnya budaya Melayu terintegrasi dengan pola keberlanjutan.

”Bagaimana menunjukkan warisan budaya Melayu kita yang telah ada sejak masa dahulu, akan membangun secara bertahap mulai dari jalan, aliran listrik, hingga balai adat,” tegas Lis.

Tetapi sebelumnya, pemko akan mengeluarkan kebijakan tata etika ke Pulau Penyengat, bila kebijakan ini sudah disahkan, tidak ada lagi orang-orang yang datang mengenakan pakaian yang tidak pantas.

Dan bila sudah masuk waktu salat tidak ada lagi warga yang nongkrong-nongkrong di luar.
Ini lakukan supaya nuansa religius di Pulau Penyengat begitu berbeda, orang-orang yang datang akan merasakan Pulau Penyengat punya keistimewaan dari peradaban Melayu yang pernah ada.

Ke depan pulau ini akan kita jadikan destinasi wisata religi dan wisata ziarah, karena itulah nuansa islami di Pulau Penyengat harus benar-benar dirasakan oleh pengunjung.
Tentu, untuk mewujudkan itu semua, perlu adanya dukungan dan komitmen dari masyarakat pulau penyengat untuk bersama-sama memajukan cita rasa budaya Melayu yang sebenarnya.

”Sebagai anak Melayu, saya ingin kampung halaman kita maju, bagus, dan dikenal masyarakat dunia.

”Saya bukan sastrawan, tetapi sebagai putra daerah saya harus pertahankan budaya Melayu dan junjung warisan berzaman,” kata Lis

Dalam mewujudkan itu semua, menurut Lis, pemko tak akan bisa melakukannya sendiri, tetapi perlu dukungan bersama stakeholder, bila dilakukan bersama pemko, Pemrov Kepri, Bank Indonesia dan stakeholder lainnya maka semuanya bisa kita capai. Yang terpenting masyarakatnya harus peduli, feedbacknya nanti akan dirasakan sendiri oleh masyarakat Pulau Penyengat, terutama peningkatan ekonomi keluarga dan Pulau Penyengat.

”Membangun budaya dan ekonomi bukan sekedar ucapan, tetapi harus ada perencanaan dan target yang harus kita capai,” tutur Lis, Kamis (11/5).

Sebagai destinasi wisata religi dan ziarah nantinya, dapat merajut kembali keserumpunan Melayu, saudara-saudara yang datang punya keterikatan dengan Pulau Penyengat, sebab bangsa Melayu adalah bangsa yang terbuka dan memgang teguh jalinan silaturahim serta toleransi yang menjadi adat resam secara berkelanjutan.

Kepala BI Perwakilan Provinsi Kepri, Gusti raizal menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program bantuan sosial BI. BI sendiri sudah menyalurkan bantuan life jacket beberapa waktu lalu, dan ini merupakan bantuan kedua dalam bentuk kegiatan paggelaran pentas seni Pulau Penyengat, Kegiatan ini akan berjalan selama setahun mulai dari hari ini hingga Mei 2018.

”Ini sebagai bentuk dukungan untuk melestarikan budaya Melayu yang di Provinsi Kepri, khususnya Pulau Penyengat, mengingat disini banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Sayang bila kita abaikan potensi yang ada, seperti masjid, makam-makam hingga budaya Melayunya,” tegasnya.

Pihaknya berkeinginan untuk membuat konsep dengan Pemko, Pemrov agar Pulau Penyengat menjadi destinasi wisata religi, sehingga masyarakatnya bisa meningkatkan ekonomi melalui wisata religi.(ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here