Lis Minta Bangun Toleransi dengan Semangat Kebersamaan

0
380
DISKUSI PUBLIK: H Lis Darmansyah (dua dari kanan) saat menjadi narasumber diskusi. F-IST/HUMAS PEMKO TANJUNGPINANG

Tanjungpinang – Ada tiga hal bentuk toleransi perlu dijaga oleh masyarakat Tanjungpinang. Pertama, toleransi beragama, toleransi politik, dan toleransi sosial.

Ketiga toleransi inilah yang perlu dibangun bersama dalam mengisi pembangunan untuk Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Tanjungpinang.

Hal ini diungkapkah H Lis Darmansyah, saat menjadi pembicara diskusi publik bertema

”Menjaga Toleransi Dalam Bingkai Kebhinekaan,” yang digelar oleh Ikatan Muhammadiyah Kota Tanjungpinang, di Aula Asrama Haji Kota Tanjungpinang, Selasa (7/2).

Diskusi ini dipandu oleh Ketua KPU Tanjungpinang, Robby Pantria, menghadirkan empat pembicara.

Pertama, Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah, SH, Endri Sanopaka, Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Kasat Intelkam Polres Tanjungpinang, AKP Heri Adhar, dan Arifudin Jalil, Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Kepri.

Menurut Lis, saat ini toleransi memiliki arti yang berbeda antara teori dan praktiknya. Terlebih lagi dengan isu-isu toleransi yang terjadi cukup sensual yang mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, namun fungsi kontrol tidak dilaksanakan.

”Saat ini orang bebas mengemukakan pendapat dan bicara, khususnya melalui media sosial. Media sosial adalah kebebasan yang tidak ada remnya, siapa mengontrol siapa, tentu ini akan berdampak pada pembangunan di daerah,” tegas Lis.

Kata Lis, sebagaimana di dengungkan oleh Bung Karno, Presiden RI pertama, kalau sejarah tidak boleh dilupakan.

”Kita jangan melupakan sejarah,” kata Lis.

Kebersamaan itu bisa pupuk dengan semangat gotong-royong. Sedangkan toleransi agama, sosial, dan politik semua sudah terangkum dengan baik di dalam Pancasila, untuk itulah semangat kebersamaan perlu gali kembali.

”Sebuah daerah tidak akan maju jika tidak diiringi dengan rasa toleransi yang baik dari masyarakatnya. Mari kita jaga toleransi itu bersama,” seru Lis kepada seluruh peserta diskusi.

Lis mengingatkan kepada putra-putri daerah untuk tidak meninggalkan kearifan lokal yang miliki. Jangan pernah lupa akan nilai-nilai budaya dan adat Melayu yang perlu kita pertahankan.

Salah satu peserta menyatakan bahwa masalah bhinneka tidak menjadi masalah yang besar dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Begitu juga dengan infrastruktur dan sarana publik sudah tertata dengan baik, namun masalah pengganguran perlu di cari solusinya. Karena semakin banyak yang menggangur semakin mereka aktif di media sosial, terkadang salah kontrol.

Terkait hal tersebut, Lis mengatakan bahwa Pemko Tanjungpinang telah berupaya menangani masalah tersebut, pada tahun 2016 telah dilaksanakan program job fair.

Selain itu juga bagi investor yang ingin menanamkan investasinya di Kota Tanjungpinang, diwajibkan merekrut minimal 75 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat Tanjungpinang.

Sistem tersebut akan terus berlanjut, namun ia berharap agar lulusan sarjana tidak hanya ingin bekerja di sektor pemerintahan, namun mampu menjadi entrepreneur.

Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka, mengingatkan kepada generasi muda untuk mengaktifkan sistem kewaspadaan diri. Dimana mahasiswa harus cerdas menanggapi pemberitaan yang telah di-share orang lain di media sosial.

”Kita harus cerdas terhadap isu-isu yang telah di share orang lain, kita perlu mewaspadai hal-hal yang mengancam keberadaan kita yang sudah baik,” tegasnya.

Kasat Intelkam Polres Tanjungpinang, AKP Heri Adhar, minta kepada mahasiswa dan masyarakat, jangan sampai menghujat dan menghina di media sosial. Karena, saat ini Polri sedang membuat divisi Pengamanan Obyek Khusus, Media Sosial.

”Adik mahasiswa jangan memposting berita-berita yang menghina, menghujat atau berita tak bisa dipertanggunjawabkan, dimedsos,” tegasnya.(ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here