Luhut Sebut, Harga Tiket Pesawat Pasti Turun

0
107
PENUMPANG saat hendak naik pesawat Lion Air di Bandara Hang Nadim Batam, belum lama ini. f-zakmi/tanjungpinang pos

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta masyarakat sabar menanti tarif penerbangan turun. Pasalnya, dampak kebijakan pemerintah terhadap penurunan harga tiket penerbangan memerlukan waktu.

”Nanti akan kejadian (turun), sabar. Kan masih ada Pemilihan Presiden. Biarkan saja harga tinggi-tinggi dulu nanti bertahap turun,” ujar Luhut dalam diskusi Coffee Morning di kantornya, Senin (8/4).

Ia mengungkapkan penurunan harga tiket memerlukan proses, tidak bisa serta-merta turun dengan segera.

Ia juga mengingatkan dalam membuat kebijakan pemerintah memperhatikan keseimbangan pasokan dan penawaran. Dalam hal ini, kepentingan maskapai dan penumpang.

Selain itu, pemerintah juga memperhatikan sektor-sektor lain yang kena imbas dari mahalnya harga tiket penerbangan di antaranya sektor pariwisata dan perhotelan yang okupansinya menurun.

Sebagai catatan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menerbitkan dua aturan untuk menjawab polemik terkait mahalnya harga tiket pesawat.

Pertama, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Kedua, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 72 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Namun, sejumlah pihak menilai aturan tersebut tidak akan efektif menekan harga. Pasalnya, ketentuan yang direvisi adalah tarif batas atas penerbangan kelas ekonomi yang dikerek dari 30 persen menjadi 35 persen dari tarif batas atas.

Sementara itu, ketentuan mengenai tarif batas atas penerbangan ekonomi maskapai berbiaya murah tetap 85 persen.

Untuk Apa Aturan Menhub?
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi sudah turun tangan merespons keluhan masyarakat mengenai harga tiket pesawat yang mahal. Dengan kewenangan yang dimiliki, Menhub menerbitkan aturan baru.

Aturan tersebut tertuang dalam Permenhub Nomor 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang diteken pada 28 Maret lalu.

Selain itu, Menteri Perhubungan (Menhub) juga meneken aturan turunannya, yaitu Keputusan Menhub (Kepmen) Nomor 72 Tahun 2019 Tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, sehari setelahnya, 29 Maret 2019.

Dengan aturan baru ini, maka Permenhub 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga berjadwal Dalam Negeri tidak lagi berlaku. Lantas, benarkah aturan baru ini solusi atas mahalnya tiket pesawat?

Dalam aturan baru, pemerintah mengubah aturan tarif batas bawah menjadi 35% dari tarif batas atas. Sebab, sebelumnya, tarif batas bawah hanya 30% dari tarif batas atas. Aturan tersebut mulai berlaku pada 1 April 2019.

Artinya, ada kenaikan 5% pada tarif batas bawah dibandingkan aturan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi tanda tanya besar mengingat tuntutan masyarakat adalah agar harga tiket pesawat turun.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti, kenaikan tersebut untuk memberikan ruang lebih lebar bagi maskapai dalam menetapkan tarif. Pasalnya, dalam aturan sebelumnya tarif batas bawah masih dinilai terlalu rendah.

Alhasil, sebagian besar maskapai memilih bermain di kisaran angka yang mendekati tarif batas atas. Sebab, penentuan tarif di tiap penerbangan menjadi wewenang maskapai, asalkan tidak melewati batas atas dan bawah yang ditentukan Menhub.

”Formulasinya kita naikkan supaya memberi ruang kepada maskapai. Karena kita tidak mau juga tiket terlalu murah tapi katakan safety tidak terpenuhi,” ungkap Polana. (net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here