Mafia Kuasai Sewa Kios di Pasar

1
869
PEDAGANG: Seorang pedagang saat menunggu pembeli di Pasar Baru Tanjungpinang. f-Andri/Tanjungpinang Pos

Harganya Mencapai Rp 50 Juta  

Tanjungpinang – Aroma permainan sewa kios dan lapak masih kentara di pasar Pasar Baru dan Pasar Bintancenter. Tak semua uang hasil sewa aset yang dikelola BUMD itu masuk ke kas.

Para pedagang membayar kios berbeda-beda. Ada yang membayar sewa kios Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per tahun.

Padahal, harga kios tertinggi hanya Rp 220 ribu per bulan. Bila dikalikah setahun hanya Rp 2.640.000. Sisa pembayaran kios
kemana larinya?

Awal Ginting, pedagang Pasar Bestari Bincen Tanjungpinang mengaku, ia membayar sewa kios tidak langsung ke BUMD. Ia membayar sewa ke pemilik kios yang pertama.

”Saya hanya melanjuti saja. Saya bayar Rp 30 juta per tahun,” kemarin.

Ia membeberkan, dirinya tidak tahu soal berapa harga sewa kios sebenarnya ke BUMD. Meskipun BUMD yang mengelola pasar Bintancenter, tapi ia membayar sewa kios bukan ke BUMD.

”Memang mahal. Sayakan tidak tahu aturannya. Kalau tahu, saya pun tidak mau,” sebut dia.

Hal sama diungkapkan Adi, pedagang sembako di Pasar Bestari Bincen. Ia mengaku telah membayar Rp 27 juta untuk 20 tahun sewa kios.

”Waktu itu pedagang masih sepi. Saya langsung sewa selama 20 tahun hanya Rp 27 juta. Kalau sekarang saya tidak tahu, berapa biaya sewanya,” singkatnya.

Direktur BUMD Kota Tanjungpinang, Asep Nana Suryana, menjelaskan, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Tanjungpinang mengelola empat pasar tradisional.

Yakni Pasar Baru I, Pasar Baru II dikenal Pasar KUD, Pasar Potong Lembuh dan Pasar Bestari Bintancenter (Bincen) Tanjungpinang. Empat pasar tradisional memiliki sekitar 2.000 meja dan kios.

”Saat ini, sedang kita data ulang. Ya, perkiraan saya sekitar 2.000-an meja dan kios,” Asep Nana Suryana kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (23/2).

Asep mengatakan meja dan kios ini telah disewakan ke pedagang sayur mayur, sembako, bumbu giling, ikan segar, daging sapi segar, ayam segar hingga makanan jadi. Seperti sop ikan, lontong sayur sampai jualan pakaian.

Beragam cara pedagang sewa kios maupun meja jualan di pasar. Karena pedagang yang sewa meja maupun kios secara resmi dengan BUMD. Ada juga pedagang yang menjual atau menyewakan kembali dengan pedagang lainnya.

”Ini yang sedang kita data ulang lagi. Sewa kios maupun meja resmi ke BUMD hanya sekitaran 50 persen saja. Selebihnya itu sudah tangan ke tangan,” ucap dia.

Kalau biaya sewa kios dan meja secara resmi dengan BUMD cukup terjangkau murah. Untuk tarif sewa kios ada tiga level. Mulai dari Rp 55 ribu, Rp 90 ribu hingga Rp 220 ribu per bulan. Sedangkan sewa meja hanya di kenakan Rp 6 ribu per hari.

Sementara, praktik di lapangan yang pernah dijumpainya, justru harga kios cukup mahal sekali. Pedagang selalu membayar lebih dari tarif yang telah ditentukan pihak BUMD Tanjungpinang.

”Pernah saya jumpai pedagang bayar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per bulan untuk satu meja. Kita tak bisa berbuat karena tak sanksinya memang tak ada, tapi kita sedang data lagi,” terangnya.

Umumnya, pedagang sekarang, bukanlah penyewa kios pertama, pemilik kios pertama di sewakan lagi ke pedagang lainnya.

”Ini yang sangat prihatin sekali. Karena selisih sewa kios maupun meja itu cukup jauh sekali, yang sudah kita tentukan,” ucapnya.

Untuk mengatasi ini semua, kata dia lagi, BUMD Tanjungpinang akan berlakukan sistem pembayaran online. Jadi, setiap melakukan transaksi apa saja harus melalui online.

Misalnya, pedagang si A ingin bayar uang sewa meja atau kios. Pedagang A setor uangnya ke bank yang telah di tunjuk dari BUMD Tanjungpinang.

“Karena kita ingin pembayaran non tunai. Kita akan kerjasama dengan BPR. Jadi, pedagang tersebut bayar sewanya langsung ke bank BPR. Nanti, rencana kita akan kerjasama dengan bank lainnya,” ujarnya.

Selain itu, dia juga pernah menemukan surat sewa meja maupun kios tidak di perpanjang oleh pedagang tersebut. Karena surat sewa kios maupun meja wajib di lakukan perpanjangan.

”Satu tahun sekali perpanjangan surat sewa kios dan meja. Ini wajib. Ini juga yang kita data ulang lagi. Pedagang mana yang belum melakukan perpanjangan surat sewa kios maupun meja,” terangnya.

Dia bersyukur dan bangga sekali, semenjak satu tahun dirinya mengelola pasar, pendapatan BUMD mengalami peningkatan dari sebelumnya.

”Selisihnya jauh betul. omset tahun 2015 saja hanya Rp 1,7 miliar. Saya masuk bisa mencapai Rp 3,8 miliar. Cukup jauh,” sebut dia.

Kini BUMD terus melakukan peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan. Salah satunya, mulai 1 Maret akan mengelola pas masuk pelabuhan Sribintanpura.(ANDRI DS)

1 KOMENTAR

  1. Lihat saja di lapangan….pedagang menambah letak barang itu lebih luas daripada luas lapak yang di sewanya, aku yakin itu tidak gratis dan tidak mungkin petugas pasar tidak tahu….
    Akhirnya masyarakat sendiri yang dirugikan, harusnya ke pasar dapat jalan dengan agak leluasa, justru sekarang mau lewat saja sulit karena kanan kiri penuh barang dagangan dan pasar menjadi K….U….M….U…H….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here