Magnet Cawapres

0
182
Drs. H. Edward Mandala, M.Si

Oleh: Drs. H. Edward Mandala, M.Si
Dosen Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Setelah penetapan Capres-Cawapres beberapa bulan yang lalu kita begitu sering menyaksikan safari politik masing-masing kandidat. Jika diperhatikan pada kubu Jokowi-Maaruf, keduanya relatif sering melakukan safari politik. Sementara dikubu Prabowo-Sandiaga Uno, Sandi lah yang relatif sering melakukan silaturahim politik. Mengapa? Tentu keduanya punya strategi masing-masing.

Hanya saja, menurut hemat penulis, jika kita bicara masalah Capres, tentu masing-masing Capres baik Jokowi maupun Prabowo sudah memiliki massa pemilih yang relatif pasti. Berbeda dengan Cawapres. Baik Cawapres kubu Jokowi maupun Prabowo, keduanya perlu meyakini publik untuk menambah tingkat keterpilihan pada 17 April 2019 mendatang. Sebenarnya, Jokowi tidak perlu repot-repot keliling Indonesia untuk berkampanye, cukup membuktikan kerja nyata dan janji-janjinya pada Pilpres 2014 lalu. Jika ini berhasil dikapitalisasi bukan tidak mungkin Jokowi – Maaruf akan menang dengan suara perolehan terbesar bahkan mungkin bisa saja mengalahkan suara perolehan SBY saat mencalonkan diri kembali pada periode kedua. Akan tetapi, hal yang sebaliknya justru bisa saja terjadi.

Jokowi-Maaruf bisa kalah tipis jika kemudian gagal melakukan hal tersebut. Melalui drama penentuan pemilihan Cawapres yang cukup panjang, tentu Cawapres harus menjadi magnet bagi para pemilih. Meminjam hasil survei sebelum penetapan pasangan calon, LSI Denny JA merilis pada kategori cawapres ideal Jokowi agar kuat didukung tokoh agama berpengaruh, Ketua Majelis Ulama Indonesia Maruf Amin unggul sebesar 21 persen. Terlepas dari hasil survei, tak bisa dipungkiri juga KH Maruf Amin adalah tokoh NU yang memiliki basis pemilih warga nahdiyin baik kultural maupun struktural. Apalagi kali ini suara NU tidak terbelah. Baik kubu Cak Imin maupun Yenny Wahid sama-sama menyatukan dukungannya ke Jokowi-Maaruf.

Bagaimana dengan Sandiaga Uno? Dalam hasil survei, nyaris namanya tidak masuk dalam radar survei. Kendati demikian, dalam hal ini menurut hemat penulis karena berhasil memenangkan kompetisi Pemilukada DKI 2017, Bang Sandi demikian ia lebih akrab disapa, memiliki keuntungan tersendiri. Dia tentu sudah dikenal publik secara luas karena hampir setiap hari media mewawancarainya. Kendati diumumkan dimenit terakhir, Sandiaga Uno bukanlah sosok yang tidak direncanakan untuk mendampingi Prabowo. Tentu jauh-jauh hari sudah lama disiapkan oleh Gerindra. Kode itu terlihat terang ketika Prabowo menunjuk Sandiaga Uno sebagai Wakil Dewan Pembina Gerindra dan sering bicara di televisi terkait permasalahan Jakarta.

Modal popularitas yang dia miliki tentu sangat membantu belum lagi dia merupakan perwakilan dari putra daerah non Jawa. Ada kemungkinan besar pemilih diluar Jawa lebih tertarik untuk mengenalinya lebih dalam dan bisa saja kemudian berubah menjadi dukungan politik. Belum lagi, jika dikaitkan dengan pemilih milinial yang jumlahnya lumayan besar sekitar 40 hingga 50 persen pemilih tentu Sandiaga Uno lebih berpeluang besar merebut suara pemilih milenial.

Disamping itu, Sandi juga berlatar belakang pengusaha dan paham tentang ekonomi. Sebenarnya, persoalan politik identitas dengan dicalonkannya KH Ma’ruf Amin akan hilang. Isu Pilpres akan menyentuh ke persoalan lain yang saat ini dekat dengan masyarakat adalah persoalan ekonomi bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Nah, jika melihat tren survei setelah beberapa bulan kampanye, hasil survei LSI Denny JA terungkap bahwa KH Ma’ruf Amin masih kalah populer dibanding Sandiaga Uno. Popularitas Sandiaga telah mencapai 73,9 persen sementara 68,7 persen. Dalam survei tersebut juga, tingkat kesukaan terhadap Sandiaga juga relatif lebih tinggi. Kedua Cawapres ini telah memberikan warna tersendiri bagi Capresnya.

Kalau boleh jujur, mereka lah Magnet bagi pemilih non cebong atau kampret. Kampret atau Cebong, sudah menjadi pemilih fanatik yang menurut hemat penulis akan berhenti kefanatikannya hingga kedua tokoh tersebut tidak bertarung dalam Pilpres. Pesimisme Gerindra Pernyataan Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang menyebutkan Pilpres 2019 adalah yang terberat bagi ketua umumnya, Prabowo Subianto karena dikepung oleh beragam kekuatan tentu menarik untuk dicermati. Pernyataan ini menurut hemat penulis adalah bacaan Sekjen sebagai realitas politik terjadi, tetapi publik memandangnya lain.

Bisa sebagai sikap pesimisme atau pernyataan yang bisa memunculkan empati publik. Pernyataan-pernyataan yang pesimistis dari fungsionaris Gerindra dan Prabowo tentu tidak banyak berpengaruh besar memunculkan empati. Bahkan bisa menjadi suatu hal yang kontradiktif bagi Prabowo – Sandi. Di atas kertas, melihat dukungan partai politik, pemberitaan positif, partai pendukung tentu memang saat ini Jokowi-Maaruf sedang diatas angin. Kendati demikian, seperti yang penulis kemukakan dimuka, saat ini magnet Cawapres lah yang menarik untuk disorot karena publik non Cebong atau Kampret sudah jenuh. Tinggal bagaimana kedua Cawapres memperkuat daya magnet atau daya pikatnya. Kita lihat saja nanti hasilnya! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here